Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Konsumsi Makanan Kaleng secara Rutin?
ilustrasi makanan kaleng (pexels.com/Karen Laårk Boshoff)
  • Konsumsi rutin makanan kaleng dapat meningkatkan tekanan darah karena kandungan natrium tinggi yang menahan cairan dan menambah beban pada pembuluh darah.
  • Terlalu sering makan makanan kaleng bisa memicu risiko penyakit jantung, obesitas, dan diabetes akibat tingginya kadar garam, lemak jenuh, serta gula tambahan.
  • Paparan bahan kimia seperti BPA dan aditif lain dalam kemasan kaleng berpotensi mengganggu hormon serta kesehatan tubuh, meski beberapa produk tetap menyimpan nilai gizi tertentu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Di kehidupan yang serba cepat dan praktis ini, makanan kaleng adalah salah satu bahan makanan yang banyak dipertimbangkan. Selain mudah dimasak, juga mudah dibawa ke mana-mana. Sayangnya, konsumsi makanan kaleng secara rutin ternyata memiliki dampak yang signifikan pada tubuh, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Apa yang terjadi pada tubuh jika konsumsi makanan kaleng secara rutin? Inilah fakta dan risiko yang harus kamu ketahui.

1. Tekanan darah dapat meningkat

ilustrasi makanan kaleng (pexels.com/Ruts Vakulenko)

Makanan kaleng sering kali ditambahkan natrium atau sodium untuk meningkatkan cita rasa dan mengawetkan makanan. Beberapa jenisnya seperti garam, MSG (monosodium glutamat), natrium nitrit, natrium sakarin, soda kue (natrium bikarbonat, atau natrium benzoat. Di mana bahan tambahan ini, sering kali ditambahkan dalam jumlah tinggi.

Dalam diet, terlalu banyak mengonsumsi natrium bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah. Laman  Harvard Health Publishing melansir, natrium dapat menahan cairan yang diperlukan untuk mengencerkan unsur kimia tersebut. Akibatnya, jumlah cairan di dalam pembuluh darah meningkat yang meningkatkan volume darah dan tekanan pada pembuluh darah. Ini yang kemudian menyebabkan peningkatan tekanan darah ketika rutin konsumsi makanan kaleng.

2. Berisiko tinggi terkena penyakit jantung

ilustrasi makanan kaleng (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Sama halnya peningkatan tekanan darah, konsumsi natrium yang berlebihan juga menempatkan risiko penyakit jantung atau kardiovaskular. Saat tekanan darah tinggi, ini memaksa jantung untuk bekerja lebih keras dari biasanya. Hal ini bisa memengaruhi struktur dan fungsi jantung sehingga menyebabkan beberapa masalah jantung seperti gagal jantung, stroke, fibrilasi atrium, atau lainnya.

Selain itu, beberapa makanan kaleng seperti sup krim atau keju, mungkin juga mengandung lemak jenuh. Jenis lemak ini dapat meningkatkan kadar kolesterol ‘jahat” atau LDL (lipoprotein densitas rendah). Jika dikonsumsi secara rutin, ini juga bisa memicu peningkatan risiko penyakit jantung.

3. Meningkatkan risiko diabetes dan obesitas

ilustrasi makanan kaleng (pexels.com/Ron Lach)

Tak hanya garam, makanan kaleng juga sering kali tak luput dari penambahan gula. Fungsinya sama, selain untuk meningkatkan rasa, gula juga bisa digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Konsumsi gula tambahan berlebihan bisa meningkatkan risiko penambahan berat badan, obesitas, bahkan diabetes.

4. Risiko terkena paparan BPA

ilustrasi kaleng makanan (pexels.com/Daria Voronkov)

Beberapa produk makanan kaleng biasanya dikemas dengan kaleng yang mengandung BPA (bisphenol-A). BPA adalah bahan kimia yang sering digunakan untuk melapisi wadah yang terbuat dari plastik, seperti botol minum atau kemasan makanan atau minuman lainnya. Akan tetapi, ini juga bisa ditemukan sebagai bahan pelapis bagian dalam kaleng.

BPA bisa masuk ke tubuh melalui migrasi ke makanan yang kita konsumsi. Menurut otoritas keamanan pangan seperti yang berada di Eropa, paparan BPA melalui makanan masih tergolong aman alias tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan. Akan tetapi, paparan berkelanjutan yang rutin mungkin juga harus diwaspadai jika kamu sering mengonsumsi makanan kaleng.

Laman European Environment Agency melansir, BPA dapat membahayakan kesehatan manusia karena sifatnya sebagai pengganggu kerja endokrin. Hal ini bisa mengubah cara kerja sistem hormon di dalam tubuh. Akibatnya, paparan yang terus-menerus bisa merusak sistem reproduksi dan berdampak negatif pada sistem kekebalan tubuh.

5. Paparan bahan aditif lainnya

ilustrasi makanan kaleng (pexels.com/Leeloo The First)

Selain gula dan natrium, makanan kaleng biasanya juga mengandung bahan aditif lain seperti pewarna atau perasa yang beragam. Bahan-bahan ini juga berpotensi menyebabkan masalah kesehatan di masa depan. Misalnya, kanker, gangguan saraf, gangguan metabolisme, gangguan perilaku, dan lainnya.

6. Mendapatkan nutrisi tambahan

ilustrasi makanan kaleng (pexels.com/alleksana)

Meski terdapat beberapa risiko dari konsumsi makanan kaleng secara rutin, tapi makanan ini biasanya juga bisa menyuplai nutrisi tertentu. Makanan kaleng yang diolah secara minimal, seperti buah atau sayur segar yang dibekukan, atau ikan kaleng, meliputi tuna, salmon, dan sarden, sering kali masih memiliki nilai gizi. Bahkan, proses pengolahan seperti pemanasan saat pengalengan justru bisa meningkatkan kadar nutrisi tertentu pada beberapa jenis makanan.

Selama proses pengalengan, nutrisi seperti protein, serat, dan lemak sering kali tidak terpengaruh, meski beberapa vitamin dan mineral biasanya akan rusak. Pada sayur atau buah-buahan segar yang dikemas dalam kaleng juga demikian. Senyawa likopen seperti yang terdapat pada tomat, justru semakin meningkat selama proses pemanasan.

Makanan kaleng memang memberikan kemudahan tersendiri untuk mendapatkan sumber makanan. Akan tetapi, konsumsi makanan kaleng secara rutin mungkin harus menjadi kewaspadaan, sebab adanya risiko masalah kesehatan akibat bahan-bahan yang ditambahkan selama pengolahan.

Referensi

“What Happens to Your Body When You Eat Canned Foods Regularly”. Verywell Health. Diakses April 2026

“Side Effects of Eating Canned Foods Every Day, According to Science”. Eat This, Not That!. Diakses April 2026

“Canned Food: Good or Bad?”. Healthline. Diakses April 2026

“Tinned food - healthy enough?”. BBC. Diakses April 2026

“Sodium in Diet”. Medline Plus. Diakses April 2026

“Dietary salt and blood pressure: A complex connection”. Harvard Health Publishing. Diakses April 2026

“Blood Sodium Levels: The Side Effects of Eating Too Much Salt”. Heart West Cardiology. Diakses April 2026

“Majority of People with Heart Disease Consume Too Much Sodium”. American College of Cardiology. Diakses April 2026

“Human Exposure to Bisphenol A in  Europe”. European Environment Agency. Diakses April 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team