ilustrasi pria memakai backpack atau tas punggung (pexels.com/Feyza Yıldırım)
Tas berat dapat menimbulkan rasa sakit dan perubahan postur saat sedang dibawa. Namun, perubahan posisi tersebut tidak sama dengan kelainan tulang belakang yang menetap.
American Academy of Orthopaedic Surgeons menyatakan bahwa ransel berat tidak menyebabkan skoliosis. Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang ke samping yang umumnya berkembang karena faktor yang berbeda, bukan semata-mata akibat tas sekolah.
Tinjauan sistematis dalam jurnal British Journal of Sports Medicine juga tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa berat, desain, atau cara membawa tas sekolah meningkatkan risiko anak mengalami nyeri punggung pada masa mendatang. Namun, kualitas penelitian yang tersedia tidak seluruhnya kuat dan hasil antarpenelitian tidak selalu konsisten.
Artinya, dua hal dapat benar secara bersamaan:
Tas yang terlalu berat dapat memicu nyeri, kelelahan otot, dan perubahan postur sementara.
Belum ada bukti kuat bahwa tas berat itu sendiri menyebabkan skoliosis atau kerusakan tulang belakang permanen.
Ada banyak kemungkinan penyebab nyeri punggung. Kurang gerak, posisi duduk, kebugaran otot, cedera, berat badan, aktivitas fisik, kondisi emosional, dan penyakit tertentu juga bisa menyebabkannya. Jadi, tas tidak boleh langsung dianggap sebagai satu-satunya penyebab setiap keluhan punggung.
Tanda bahwa beban tas perlu segera dikurangi antara lain tubuh harus membungkuk, kamu kesulitan mengenakan atau melepas tas, nyeri muncul selama atau setelah membawanya, dan ada bekas tali yang dalam. Kesemutan, mati rasa, atau kelemahan pada lengan dan tangan butuh perhatian lebih karena dapat menunjukkan adanya tekanan pada saraf.