ilustrasi mat pilates (pexels.com/Anna Shvets)
Pilates memiliki banyak variasi gerakan, sehingga tingkat beban yang dirasakan tubuh juga bisa berbeda-beda. Pilates matras umumnya dilakukan dengan posisi duduk, berbaring, atau bertumpu, sehingga tidak banyak memberikan tekanan berlebih pada sendi. Sementara itu, latihan dengan alat seperti reformer dapat dibuat lebih menantang dengan tambahan resistensi atau variasi gerakan tertentu. Bahkan ada penggunaan jumpboard yang membuat gerakan kaki menyerupai lompatan, meskipun tetap dalam kontrol alat.
Perbedaan ini penting untuk dipahami, terutama bagi orang yang memiliki masalah pada lutut, pinggul, pergelangan kaki, atau sedang dalam masa pemulihan cedera. Gerakan yang aman bagi satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. Karena itu, latihan sebaiknya dimulai dari gerakan yang sesuai dengan kemampuan tubuh, lalu ditingkatkan secara bertahap. Jika Pilates dilakukan untuk tujuan rehabilitasi, pemilihan gerakan idealnya mengikuti arahan fisioterapis atau tenaga kesehatan yang menangani kondisi tersebut.
Pilihan latihan tidak perlu ditentukan hanya dari label low impact atau anggapan bahwa suatu olahraga lebih ringan daripada olahraga lainnya. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana tubuh merasakan latihan tersebut dan apakah gerakannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pilates bisa menjadi bagian dari kebiasaan aktif yang menyenangkan ketika dilakukan dengan teknik yang tepat dan tanpa memaksakan tubuh mengejar gerakan yang belum mampu dilakukan.
Referensi
"Pilates as Low – Impact Exercise: Improved Health Related Fitness and Functional Lung Capacity." International Journal of Medical Science and Clinical Research Studies. Diakses pada Agustus 2026.
"Is Reformer Pilates Low Impact? What Is a Low Impact Exercise?" Sultivate. Diakses pada Agustus 2026.