- Beristirahat.
- Kompres es.
- Penguatan otot kaki bawah.
10 Cedera yang Paling Umum Dialami Pelari dan Cara Mengatasinya

Sebagian besar cedera lari disebabkan oleh overuse dan kesalahan progresi latihan.
Nyeri ringan yang diabaikan sering berkembang menjadi cedera kronis.
Pencegahan melalui teknik, penguatan, dan recovery sama pentingnya dengan latihan itu sendiri.
Langkah kaki konsisten, ritme napas yang stabil, dan jarak yang perlahan bertambah memberi rasa pencapaian tersendiri dalam lari. Namun, di balik konsistensi itu tubuh terus menerima beban berulang yang tidak selalu terasa di awal.
Cedera pada pelari jarang datang tiba-tiba. Banyak kasus yang berkembang perlahan, awalnya mungkin ketidaknyamanan ringan yang kemudian diabaikan. Memahami jenis cedera yang paling umum pada pelari bukan cuma membantu mengenali gejala lebih cepat, tetapi juga mencegahnya sebelum menjadi lebih serius.
Table of Content
1. Shin splints (medial tibial stress syndrome)
Shin splints ditandai dengan nyeri di sepanjang tulang kering (tibia), terutama saat atau setelah lari. Kondisi ini sering terjadi pada pelari pemula atau mereka yang tiba-tiba meningkatkan intensitas latihan.
Secara fisiologis, shin splints disebabkan oleh stres berulang pada tulang dan jaringan di sekitarnya. Penelitian menunjukkan, peningkatan beban latihan tanpa adaptasi yang cukup menjadi faktor utama.
Penanganannya meliputi:
Jika diabaikan, kondisi ini bisa berkembang menjadi fraktur stres.
2. Runner’s knee (patellofemoral pain syndrome)
Nyeri di sekitar atau belakang tempurung lutut adalah ciri khas runner’s knee. Biasanya terasa saat naik turun tangga atau duduk lama.
Penyebabnya sering terkait dengan ketidakseimbangan otot paha dan pinggul. Menurut penelitian, kelemahan otot gluteus berperan besar.
Penanganannya dapat meliputi:
- Latihan penguatan otot paha dan pinggul.
- Koreksi teknik lari.
- Mengurangi volume latihan untuk sementara.
3. Tendinitis Achilles

Cedera ini menyerang tendon Achilles di belakang pergelangan kaki. Nyeri biasanya terasa saat mulai berlari atau setelah aktivitas.
Penyebab utamanya adalah overuse dan peningkatan intensitas mendadak. Tendon mengalami mikrotrauma yang tidak sempat pulih.
Penanganannya bisa berupa:
- Latihan betis eksentrik.
- Mengurangi aktivitas untuk sementara.
- Peregangan otot betis.
4. Plantar fasciitis
Nyeri tajam di tumit, terutama saat langkah pertama di pagi hari, menjadi tanda khas plantar fasciitis.
Plantar fascia mengalami peradangan akibat tekanan berulang. Faktor risiko termasuk sepatu yang tidak sesuai dan biomekanik kaki.
Penanganannya:
- Peregangan plantar fascia.
- Penggunaan insole.
- Istirahat relatif.
5. Iliotibial (IT) band syndrome
Nyeri di sisi luar lutut yang makin terasa saat berlari jarak jauh sering dikaitkan dengan IT band syndrome.
Gesekan antara IT band dan tulang menyebabkan iritasi. Kondisi ini umum pada pelari jarak jauh.
Cara menanganinya antara lain:
- Foam rolling.
- Penguatan otot pinggul.
- Mengurangi volume lari.
6. Fraktur stres

Ini adalah cedera serius berupa retakan kecil pada tulang akibat beban berulang.
Menurut penelitian, fraktur stres sering terjadi akibat kombinasi overtraining dan nutrisi yang tidak optimal.
Penanganannya meliputi:
- Istirahat total dari aktivitas berat.
- Evaluasi nutrisi (kalsium, vitamin D).
- Kembali latihan secara bertahap.
7. Strain pada hamstring
Cedera otot paha belakang ini sering terjadi saat sprint atau perubahan kecepatan.
Otot tertarik melebihi kapasitasnya, biasanya karena kurang pemanasan atau kelelahan.
Opsi penanganannya:
- Istirahat dan kompres es.
- Rehabilitasi bertahap.
- Penguatan otot posterior chain.
8. Keseleo pergelangan kaki

Keseleo pergelangan kaki sering terjadi akibat salah pijakan, terutama di permukaan yang tidak rata.
Ligamen mengalami peregangan atau robekan.
Penanganannya:
- Metode RICE (rest/istirahat, ice/kompres dingin, compression/kompresi, elevation/meninggikan kaki).
- Latihan stabilitas pergelangan kaki.
- Rehabilitasi sebelum kembali lari.
9. Strain pada hip flexor
Nyeri di bagian depan pinggul sering diabaikan, padahal ini bisa mengganggu langkah lari.
Cedera ini terjadi akibat overuse atau postur lari yang kurang optimal.
Cara menanganinya:
- Peregangan hip flexor.
- Penguatan core.
- Koreksi postur.
10. Nyeri punggung bawah

Nyeri punggung bawah sering dikaitkan dengan kelemahan core dan teknik lari yang tidak efisien.
Penelitian menunjukkan bahwa stabilitas core sangat penting dalam menjaga postur saat berlari.
Penanganannya:
- Latihan penguatan core.
- Perbaikan teknik lari.
- Mengurangi beban latihan untuk sementara.
Cara mencegah cedera saat lari
- Tingkatkan jarak/intensitas secara bertahap (≤10 persen per minggu).
- Pakai sepatu yang sesuai dengan biomekanik kaki.
- Lakukan pemanasan dan pendinginan.
- Sertakan latihan penguatan otot.
- Prioritaskan pemulihan dan tidur cukup.
Pendekatan pencegahan jauh lebih efektif dibanding pengobatan setelah cedera terjadi.
Cedera lari bukan sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi juga bukan sesuatu yang dianggap normal. Tubuh selalu memberi sinyal, dan memahami sinyal itu adalah bagian dari proses menjadi pelari yang lebih baik.
Dengan pendekatan yang tepat, seperti latihan yang terukur, teknik yang baik, dan perhatian pada pemulihan, lari tetap bisa menjadi aktivitas yang aman, berkelanjutan, dan menyenangkan.
Referensi
R N Van Gent et al., “Incidence and Determinants of Lower Extremity Running Injuries in Long Distance Runners: A Systematic Review,” British Journal of Sports Medicine 41, no. 8 (May 1, 2007): 469–80, https://doi.org/10.1136/bjsm.2006.033548.
Richard W. Willy and Irene S. Davis, “The Effect of a Hip-Strengthening Program on Mechanics During Running and During a Single-Leg Squat,” Journal of Orthopaedic and Sports Physical Therapy 41, no. 9 (July 13, 2011): 625–32, https://doi.org/10.2519/jospt.2011.3470.
Alexandre Dias Lopes et al., “What Are the Main Running-Related Musculoskeletal Injuries?,” Sports Medicine 42, no. 10 (October 1, 2012): 891–905, https://doi.org/10.1007/bf03262301.
Michael Fredericson and Adam Weir, “Practical Management of Iliotibial Band Friction Syndrome in Runners,” Clinical Journal of Sport Medicine 16, no. 3 (May 1, 2006): 261–68, https://doi.org/10.1097/00042752-200605000-00013.





![[QUIZ] Kuis Kehamilan: Seberapa Paham Kamu soal Trimester Pertama?](https://image.idntimes.com/post/20240404/ilustrasi-ibu-hamil-3-439ba35c2eddc3609f4199c00217243d.png)





![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member BABYMONSTER?](https://image.idntimes.com/post/20240418/kuis-tebak-member-babymonster-92dc8b319e6e3791bcd0e60ebf2acf48.jpg)


![[QUIZ] Seberapa Open-Minded Kamu? Kuis Ini Bisa Mengungkapnya](https://image.idntimes.com/post/20260111/pexels-rdne-8419498_22c7c2dd-f0dd-4b57-97ca-1c22e755c10b.jpg)



