Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cold Shower vs Ice Bath: Mana yang Lebih Efektif untuk Pelari?
ilustrasi ice bath (unsplash.com/Gin Majka)
  • Ice bath terbukti lebih efektif dibanding cold shower dalam mengurangi nyeri otot dan mempercepat pemulihan setelah latihan berat, terutama bagi pelari yang berlatih intens atau bertanding beruntun.
  • Cold shower tetap bermanfaat untuk sensasi segar dan pendinginan tubuh, namun bukti ilmiahnya belum sekuat ice bath dan lebih cocok untuk latihan ringan atau kondisi tanpa fasilitas khusus.
  • Penggunaan ice bath sebaiknya tidak dilakukan setiap sesi karena bisa menekan adaptasi otot, sementara fondasi pemulihan utama tetap pada tidur cukup, nutrisi, hidrasi, dan manajemen beban latihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah menyelesaikan long run 30 kilometer atau lebih, sesi interval yang menguras tenaga, atau race yang membuat kaki terasa seperti dihantam truk, banyak pelari mencari cara tercepat untuk pulih. Sebagian memilih mandi air dingin (cold shower), sebagian lainnya meringkuk di bak berisi air es (ice bath).

Media sosial membuat praktik ice bath populer. Atlet elite, influencer kebugaran, hingga pelari amatir berlomba-lomba memamerkan ritual berendam es setelah latihan. Di sisi lain, ada yang menganggap mandi air dingin saja sudah cukup.

Pertanyaannya, apakah cold shower dan ice bath memberikan manfaat yang sama atau yang satu lebih efektif daripada yang lainnya?

Meski sama-sama menggunakan paparan dingin, tetapi cara kerja, intensitas, dan bukti ilmiah yang mendukung keduanya cukup berbeda.

Paparan dingin membantu mengurangi nyeri otot setelah lari

Saat berlari, terutama intensitas tinggi atau durasi panjang, otot mengalami kerusakan mikroskopis. Tubuh lalu memulai proses peradangan alami untuk memperbaiki jaringan tersebut. Proses ini sebenarnya normal dan diperlukan agar tubuh beradaptasi menjadi lebih kuat. Namun dalam jangka pendek, kondisi ini juga memicu:

  • Nyeri otot (delayed onset muscle soreness/DOMS).

  • Pembengkakan ringan.

  • Rasa di kaki.

  • Penurunan performa sementara.

Paparan dingin dipercaya membantu mengurangi gejala-gejala tersebut melalui penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi), penurunan suhu jaringan, serta perubahan respons saraf dan peradangan. Sebuah tinjauan sistematis menyebut bahwa cold-water immersion dapat memengaruhi aliran darah, aktivitas metabolik, dan respons inflamasi setelah olahraga.

Perbedaan cold shower dan ice bath

Sekilas keduanya tampak serupa karena sama-sama menggunakan air dingin. Namun, dari sisi fisiologi perbedaannya cukup besar.

Cold shower

Ice bath

Air mengalir di permukaan tubuh

Tubuh terendam

Biasanya suhu 10–20 derajat Celcius

Umumnya 8–15 derajat Celcius

Durasi 2–10 menit

Durasi 5–15 menit

Pendinginan jaringan lebih terbatas

Pendinginan jaringan jauh lebih dalam

Pendinginan jaringan lebih terbatas

Bukti ilmiah relatif lebih kuat

Saat mandi dingin, sebagian besar tubuh hanya terkena guyuran air secara singkat. Sementara pada ice bath, hampir seluruh tungkai atau tubuh bagian bawah terendam secara kontinu sehingga perpindahan panas berlangsung lebih efektif.

Jadi, bisa dibilang "dosis" dingin berendam dengan air es lebih besar dibanding mandi air dingin.

Mana yang lebih efektif mengurangi nyeri otot?

ilustrasi cold shower (unsplash.com/ Victor Furtuna)

Kalau tujuan utama kamu adalah mengurangi rasa pegal setelah latihan berat atau lomba, ice bath unggul.

Sebuah metaanalisis mengemukakan bahwa cold-water immersion (perendaman air dingin/air es) secara konsisten membantu menurunkan nyeri otot, meningkatkan persepsi pemulihan, dan memperbaiki beberapa indikator performa dibanding pemulihan pasif. Efek ini terutama terlihat setelah latihan intensitas tinggi.

Penelitian lain juga menunjukkan perendaman air dingin lebih efektif dibanding beberapa metode pemulihan lain dalam mengurangi DOMS dan rasa lelah subjektif setelah olahraga berat.

Sebaliknya, bukti ilmiah khusus mengenai mandi air dingin masih terbatas.

Sebagian besar penelitian mengkaji perendaman air dingin, bukan mandi air dingin biasa. Karena dosis dinginnya lebih rendah, banyak ilmuwan menduga manfaat mandi air dingin kemungkinan juga lebih kecil.

Apakah ice bath membuat pelari lebih cepat?

Banyak orang mengira jika rasa pegal berkurang, berarti performa otomatis meningkat. Padahal tidak selalu begitu.

Sebuah studi menunjukkan bahwa perendaman air es memang dapat memperbaiki persepsi pemulihan dan mengurangi nyeri otot, tetapi peningkatan performa objektif tidak selalu konsisten pada semua jenis olahraga dan semua kondisi.

Dengan kata lain, setelah ice bath kamu mungkin merasa kaki lebih ringan dan segar. Namun, itu tidak otomatis membuat pace lari besok menjadi lebih cepat.

Manfaat terbesar ice bath muncul ketika pelari harus bertanding atau berlatih kembali dalam waktu singkat, misalnya turnamen multi lari, training camp, race beruntun, atau blok latihan dengan volume tinggi. Dalam situasi seperti ini, mengurangi rasa lelah menjadi sangat berharga.

Apakah ice bath bisa menghambat adaptasi latihan?

Peradangan ringan setelah latihan sebenarnya merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh. Ketika proses ini ditekan terlalu agresif, sebagian manfaat latihan berpotensi ikut berkurang.

Menurut studi, berendam air dingin secara rutin setelah latihan kekuatan dapat mengurangi beberapa sinyal biologis yang berperan dalam pertumbuhan otot dan peningkatan massa otot. Namun, untuk olahraga endurance seperti lari, dampaknya tampak jauh lebih kecil. Beberapa tinjauan literatur bahkan menunjukkan bahwa berendam air dingin tidak berpengaruh besar terhadap adaptasi aerobik jangka panjang.

Jadi buat pelari, ice bath sesekali setelah latihan berat atau race kemungkinan aman, tetapi melakukannya setiap sesi latihan mungkin tidak perlu.

Kapan sebaiknya memilih cold shower?

ilustrasi mandi air dingin (pexels.com/Armin Rimoldi)

Cold shower bisa menjadi pilihan jika kamu tidak ada akses ke fasilitas ice bath, cuaca sangat panas, mau menurunkan suhu tubuh setelah lari, cuma butuh sensasi segar dan rileks, dan latihan yang dilakukan tidak terlalu berat.

Keuntungan terbesar cold shower adalah praktis, murah, dan mudah dilakukan di rumah.

Meski bukti ilmiahnya belum sekuat ice bath, tetapi mandi air dingin tetap bisa memberikan efek psikologis positif dan membantu sebagian pelari merasa lebih segar setelah berolahraga.

Kapan ice bath layak dipertimbangkan?

Ice bath lebih masuk akal jika kamu:

  • Baru menyelesaikan race.

  • Menjalani long run yang sangat panjang.

  • Melakukan latihan interval atau tanjakan berulang yang berat.

  • Harus berlatih lagi dalam waktu kurang dari 24 jam.

  • Sedang berada dalam fase kompetisi.

Sebuah metaanalis menunjukkan bahwa untuk olahraga endurance, protokol sekitar 10–15 menit pada suhu 9–12 derajat Celcius termasuk yang paling menjanjikan untuk mendukung pemulihan.

Jadi, antara cold shower dan ice bath, mana yang lebih efektif?

Kalau fokusnya adalah pemulihan pasca-lari, jawabannya cenderung ice bath. Bukti ilmiah yang ada mendukung ice bath lebih banyak dibanding cold shower, terutama dalam mengurangi nyeri otot dan meningkatkan pemulihan setelah latihan berat. Namun, bukan berarti semua pelari harus rutin berendam air es.

Bagi sebagian besar pelari rekreasional, fondasi pemulihan tetaplah tidur cukup, asupan karbohidrat dan protein yang memadai, hidrasi yang baik, serta manajemen beban latihan. Tanpa itu semua, ice bath cuma pelengkap.

Referensi

Chris M Bleakley and Gareth W Davison, “What Is the Biochemical and Physiological Rationale for Using Cold-water Immersion in Sports Recovery? A Systematic Review,” British Journal of Sports Medicine 44, no. 3 (November 27, 2009): 179–87, https://doi.org/10.1136/bjsm.2009.065565.

Trevor R. Higgins, David A. Greene, and Michael K. Baker, “Effects of Cold Water Immersion and Contrast Water Therapy for Recovery From Team Sport: A Systematic Review and Meta-analysis,” The Journal of Strength and Conditioning Research 31, no. 5 (July 9, 2016): 1443–60, https://doi.org/10.1519/jsc.0000000000001559.

Emma Moore et al., “Impact of Cold-Water Immersion Compared With Passive Recovery Following a Single Bout of Strenuous Exercise on Athletic Performance in Physically Active Participants: A Systematic Review With Meta-analysis and Meta-regression,” Sports Medicine 52, no. 7 (February 14, 2022): 1667–88, https://doi.org/10.1007/s40279-022-01644-9.

Emma Moore et al., “Effects of Cold-Water Immersion Compared With Other Recovery Modalities on Athletic Performance Following Acute Strenuous Exercise in Physically Active Participants: A Systematic Review, Meta-Analysis, and Meta-Regression,” Sports Medicine 53, no. 3 (December 17, 2022): 687–705, https://doi.org/10.1007/s40279-022-01800-1.

Tongwu Yu et al., “Cold Water Immersion Protocol Optimization Across Exercise Modalities: A Systematic Review and Network Meta-analysis of Resistance Training, Endurance Exercise, and Team Sport Applications,” BMC Sports Science Medicine and Rehabilitation 18, no. 1 (March 18, 2026), https://doi.org/10.1186/s13102-026-01653-5.

Editorial Team

Related Article