ilustrasi mie instan (pexels.com/Gundula Vogel)
Berikut ini beberapa efek makan mi instan saat sahur:
Tepung terigu yang digunakan dalam mi instan umumnya rendah serat dan memiliki indeks glikemik yang relatif lebih tinggi dibanding sumber karbohidrat utuh. Karbohidrat olahan seperti ini lebih cepat dicerna dan diserap tubuh.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat meningkatkan kadar glukosa darah dengan cepat, diikuti penurunan yang juga relatif cepat, yang berpotensi memicu rasa lapar lebih dini.
Dalam konteks puasa, pola ini membuat rasa kenyang tidak bertahan lama, terutama jika menu sahur tidak dilengkapi protein dan serat yang cukup.
Mi instan yang digoreng mengandung lemak tambahan dari proses produksinya. Kombinasi karbohidrat olahan dan lemak dapat membuat asupan kalori meningkat tanpa diimbangi rasa kenyang jangka panjang.
Studi kohort di Korea Selatan menemukan bahwa konsumsi mi instan yang lebih sering berhubungan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan. Meski hubungan ini tidak berarti sebab-akibat langsung, tetapi temuan tersebut memperkuat kekhawatiran tentang pola konsumsi rutin makanan ultraproses.
Jika tujuan puasa juga mencakup pengelolaan berat badan, pola sahur tinggi kalori namun rendah serat dan protein dapat membuat pengaturan energi harian menjadi kurang optimal.
Salah satu karakteristik utama mi instan adalah kandungan natriumnya. Natrium berperan penting dalam keseimbangan cairan tubuh, tetapi asupan berlebih dapat meningkatkan rasa haus.
Konsumsi natrium berlebih berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular. Selain dampak jangka panjang, dalam konteks puasa, natrium tinggi juga dapat membuat tubuh “meminta” lebih banyak cairan. Ketika asupan air terbatas selama berpuasa, rasa haus bisa terasa lebih cepat dan lebih intens.