ilustrasi ikan sapu-sapu (pexels.com/Monamie Chakravarti)
Nilai gizi ikan sapu-sapu hingga kini belum banyak diteliti secara mendalam dibandingkan jenis ikan konsumsi lainnya. Hal ini sejalan dengan studi yang terbit dalam jurnal Public Health Nutrition pada tahun 2021 yang menyebut bahwa data komposisi nutrisi ikan masih terbatas pada sejumlah spesies saja. Banyak jenis ikan, terutama dari perairan air tawar, masih memiliki data nutrisi yang belum lengkap atau belum terdokumentasi dengan baik.
Hal tersebut membuat informasi kandungan gizi spesifik, termasuk pada ikan sapu-sapu, masih belum sepenuhnya jelas. Sebagian besar penelitian justru lebih berfokus pada ikan konsumsi populer seperti tuna atau salmon. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat dari mengonsumsi ikan sapu-sapu bagi kesehatan manusia.
Di Indonesia, ikan sapu-sapu banyak ditemukan di perairan yang tercemar, terutama di sungai dan saluran air perkotaan. Oleh sebab itu, disarankan untuk tidak mengonsumsinya secara sembarangan, kecuali jika ikan sapu-sapu berasal dari perairan yang terkontrol atau hasil budidaya yang jelas kebersihannya. Jadi, jangan coba-coba makan ikan sapu-sapu yang berasal dari sungai kotor, ya!
Referensi
“The nutrient content of Plecostomus (Pterygoplichthys pardalis) flesh from Ciliwung River Jakarta, Indonesia”. Nusantara Bioscience (2019). Diakses pada April 2026.
“Detection of Arsenic, Chromium, Cadmium, Lead, and Mercury in Fish: Effects on the Sustainable and Healthy Development of Aquatic Life and Human Consumers”. Multidisciplinary Digital Publishing Institute (2023). Diakses pada April 2026.
“Characteristics of the Sailfin Catfish (Pterygoplichthys pardalis) Fishball Based on the Ratio of Meat to Tapioca Flour”. Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries (2023). Diakses pada April 2026.
“Zoonotic diseases of fish and their prevention and control”. The Veterinary Quarterly (2022). Diakses pada April 2026.
“Fish nutrient composition: a review of global data from poorly assessed inland and marine species”. Public Health Nutrition (2021). Diakses pada April 2026.