Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Heart Rate Zone Penting bagi Pelari? Ini 4 Alasannya
ilustrasi pelari (pexels.com/Clarence Liu)
  • Heart rate zone membantu pelari mengatur intensitas berdasarkan respons tubuh, bukan sekadar pace, karena cuaca, kurang tidur, stres, dan kelelahan dapat menaikkan detak jantung.
  • Menjaga lari pada intensitas rendah hingga sedang mendukung pembangunan daya tahan aerobik, memungkinkan durasi lebih panjang, serta mencegah sesi ringan berubah menjadi latihan yang terlalu melelahkan.
  • Zona detak jantung membuat tujuan latihan, seperti recovery dan interval, lebih terukur; namun data perangkat perlu dipadukan dengan pace, kelelahan, dan keluhan fisik karena akurasinya bervariasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu pernah merasa berlari dengan kecepatan yang stabil, tetapi napas tiba-tiba lebih berat dari biasanya? Salah satu cara untuk memahami kondisi tersebut adalah dengan melihat detak jantung selama berlari. Angka ini bisa membantu kita mengetahui apakah tubuh sedang bekerja dengan santai, cukup berat, atau sudah mendekati batas kemampuan.

Pembagian tingkat detak jantung inilah yang disebut heart rate zone. Sederhananya, kita bisa menggunakannya sebagai panduan untuk menentukan seberapa cepat atau seberapa pelan kita harus berlari dalam sebuah latihan. Beberapa orang mengatakan bahwa heart rate zone penting bagi pelari. Hal ini dikarenakan dengan memahaminya, kita tidak perlu selalu memaksakan diri berlari cepat untuk mendapatkan latihan yang efektif.

1. Membantu mengatur intensitas lari

ilustrasi berlari (pexels.com/Leandro Boogalu)

Heart rate zone membuat kita memiliki patokan untuk menentukan seberapa keras kita harus berlari. Secara umum, zona rendah digunakan untuk aktivitas ringan, sementara zona yang lebih tinggi menunjukkan intensitas yang semakin berat. Pembagian zona dapat berbeda tergantung pada metode yang digunakan, tetapi banyak sistem membaginya menjadi lima zona berdasarkan persentase detak jantung maksimal atau heart rate reserve.

Bagi pelari pemula, informasi ini berguna karena kecepatan yang terasa ringan bagi orang lain belum tentu terasa sama bagi kita. Cuaca panas, kurang tidur, stres, dan kelelahan dapat membuat detak jantung lebih tinggi pada pace yang sama. Dengan memperhatikan respons tubuh, kita bisa menyesuaikan kecepatan agar latihan tidak terlalu berat terhadap target yang direncanakan.

2. Membantu membangun daya tahan

ilustrasi lari marathon (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Latihan lari tidak selamanya dilakukan dengan intensitas tinggi. Lari dengan intensitas rendah sampai sedang dapat membantu membangun kemampuan aerobik sehingga tubuh semakin terbiasa bekerja dalam durasi yang lebih panjang. Karena itu, pelari sering memasukkan latihan dengan intensitas ringan sebagai bagian besar dari program mereka.

Heart rate zone dapat membantu menjaga agar lari tersebut tetap berada pada intensitas yang sesuai. Jika kita terlalu cepat sejak awal, latihan yang seharusnya mudah bisa berubah menjadi sesi yang melelahkan. Sebaliknya, mempertahankan intensitas yang lebih terkendali memungkinkan kita berlari lebih lama sambil memberi tubuh kesempatan beradaptasi secara bertahap.

3. Membuat latihan lebih terarah

ilustrasi jogging di taman (pexels.com/Tirachard Kumtanom)

Setiap sesi latihan dapat memiliki tujuan yang berbeda, mulai dari recovery, membangun daya tahan, hingga meningkatkan kemampuan berlari pada intensitas tinggi. Heart rate zone membantu menerjemahkan tujuan tersebut menjadi intensitas yang lebih terukur. Kita tidak perlu menjalankan semua sesi dengan kecepatan maksimal hanya karena ingin mendapatkan perkembangan yang lebih cepat.

Sebagai contoh, latihan interval biasanya menggunakan periode intensitas tinggi yang diselingi pemulihan. Sementara itu, recovery run seharusnya dilakukan dengan intensitas jauh lebih ringan agar tubuh tidak mendapatkan beban tambahan. Dengan membedakan intensitas seperti ini, program latihan menjadi lebih terstruktur dan mengurangi risiko kelelahan.

4. Membantu menilai respons tubuh

ilustrasi lari marathon (pexels.com/RUN 4 FFWPU)

Detak jantung juga bisa digunakan untuk melihat bagaimana tubuh merespons latihan dari waktu ke waktu. Jika kita mampu mempertahankan pace tertentu dengan detak jantung yang lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya, hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa kemampuan aerobik berkembang. Namun, perubahan ini perlu dilihat dalam kondisi yang relatif serupa karena banyak faktor dapat memengaruhi detak jantung.

Pengukuran heart rate juga tidak selalu sempurna. Sensor pada jam tangan yang menggunakan pembacaan dari pergelangan tangan dapat memiliki tingkat akurasi berbeda dibandingkan dengan alat seperti chest strap. Karena itu, angka dari perangkat sebaiknya tidak menjadi satu-satunya patokan, terutama ketika kita merasa sangat lelah, pusing, atau mengalami keluhan fisik lain selama berlari.

Heart rate zone penting bagi pelari karena dapat membantu memahami seberapa berat latihan dan menjaga intensitas tetap sesuai tujuan. Angka tersebut akan lebih berguna jika dipadukan dengan pace, tingkat kelelahan, serta bagaimana tubuh terasa selama berlari. Dengan pendekatan tersebut, kita tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga memberi tubuh latihan yang sesuai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article