Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Masalah Asam Lambung Kambuh? Kamu Bisa Coba 5 Pilihan Jus Ini
ilustrasi minuman lidah buaya (vecteezy.com/drawingpook437224)
  • Belum ada jus yang terbukti dapat menyembuhkan GERD. Beberapa pilihan hanya berpotensi lebih mudah ditoleransi atau membantu mengurangi gejala pada sebagian orang.

  • Bukti langsung paling menjanjikan ditemukan pada olahan oral lidah buaya, tetapi penelitiannya masih kecil. Jus wortel juga dikaitkan dengan keluhan nyeri ulu hati yang rendah dalam studi observasional.

  • Hindari jus sitrus dan tomat bila memicu gejala, konsumsi dalam porsi kecil, serta jangan mengganti obat dokter dengan minuman rumahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat dada terasa panas dan cairan asam naik ke tenggorokan, segelas jus dingin terdengar menyegarkan. Namun, pilihan jus yang salah justru dapat memperburuk gejala.

Pada penyakit asam lambung gastroesophageal reflux disease (GERD), masalahnya bukan semata-mata lambung memproduksi terlalu banyak asam, melainkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Karena itu, sebetulnya tidak ada jus yang bisa memperbaiki katup antara lambung dan kerongkongan atau menyembuhkan GERD.

Makanan dan minuman juga tidak memberikan efek yang sama pada setiap orang. Pedoman American College of Gastroenterology (ACG) menyarankan pasien GERD menghindari makanan pemicu, tetapi tingkat buktinya masih rendah dan pemicunya perlu dikenali secara individual. Dengan batasan tersebut, berikut beberapa jus mungkin layak untuk kamu coba.

1. Minuman lidah buaya

Sebuah uji klinis acak percontohan membandingkan sirop lidah buaya dengan omeprazole dan ranitidine selama empat minggu. Olahan lidah buaya mengurangi frekuensi beberapa keluhan GERD, termasuk sensasi panas di dada, regurgitasi, sendawa, mual, dan kesulitan menelan. Tidak ada peserta yang harus menghentikan intervensi karena efek samping.

Namun, penelitian ini kecil, singkat, dan tidak ada kelompok plasebo. Hasilnya belum cukup untuk menempatkan lidah buaya sebagai pengganti obat GERD.

Pilih produk minuman yang terbuat dari gel daun bagian dalam, telah melalui proses penghilangan warna, dan rendah aloin. Jangan membuat minuman dengan memblender seluruh daun lidah buaya. Lateks dan ekstrak daun utuh dapat menyebabkan kram, diare, gangguan elektrolit, serta masalah keamanan lainnya.

Lidah buaya oral juga sebaiknya dihindari selama kehamilan dan menyusui, serta perlu dikonsultasikan dengan dokter jika sedang menjalani pengobatan rutin.

2. Jus wortel

ilustrasi jus wortel (magnific.com/jcomp)

Jus wortel bisa kamu minum jika ingin menghindari jus buah yang asam.

Penelitian di Korea Selatan mengukur karakteristik 35 jenis minuman dan menanyakan keluhan nyeri ulu hati setelah minum kepada 382 pasien. Jus wortel memiliki salah satu skor nyeri ulu hati terendah, sedangkan kopi dan minuman beralkohol memiliki skor tertinggi. Keasaman yang dapat dinetralkan pada jus sitrus juga berkorelasi dengan keluhan yang lebih berat.

Para peneliti tidak memberikan jus wortel sebagai terapi dan mengukur perubahan penyakit secara terkontrol. Temuan studi tersebut menunjukkan bahwa jus tersebut relatif jarang dikaitkan dengan keluhan dalam populasi penelitian.

Kamu bisa membuat jus wortel dengan air tanpa tambahan jeruk, lemon, susu tinggi lemak, atau terlalu banyak gula. Mulailah dengan porsi kecil untuk menilai toleransi.

3. Jus semangka

Jus semangka tanpa tambahan jeruk, soda, atau sirup dapat dicoba sebagai pengganti minuman asam. Meski demikian, porsi yang terlalu besar bisa memicu masalah.

Volume minuman yang banyak dapat membuat lambung terasa penuh dan meningkatkan kemungkinan isi lambung terdorong ke atas. Pedoman GERD menganjurkan untuk menghindari porsi makan besar dan menilai pemicu berdasarkan respons masing-masing orang.

Minumlah secara perlahan dan berhenti jika muncul kembung, sendawa, rasa penuh, atau sensasi panas di dada.

Campuran melon dan mentimun dapat menjadi alternatif bagi orang yang terbiasa minum jus jeruk pada pagi hari. Keduanya bukan buah sitrus dan memiliki tingkat keasaman lebih rendah dibandingkan jeruk atau lemon.[5]

Namun, belum ada uji klinis yang membuktikan bahwa jus melon dan mentimun mengurangi frekuensi refluks. Manfaat utamanya lebih sederhana: minuman tersebut berpotensi tidak terlalu mengiritasi dibandingkan jus yang sangat asam.

Gunakan lebih banyak air agar hasilnya tidak terlalu kental. Jangan menambahkan lemon dengan alasan membuatnya lebih segar karena keasaman tambahan dapat memicu keluhan pada sebagian orang.

4. Jus pepaya

ilustrasi jus pepaya (magnific.com/jcomp)

Jus pepaya encer tanpa kental manis, krim, atau tambahan jeruk dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang dengan GERD. Namun, belum ada bukti klinis yang memadai bahwa kandungan papain dalam pepaya dapat menyembuhkan GERD atau memperbaiki katup kerongkongan. Klaim bahwa jus pepaya menetralisasi asam lambung juga belum dapat dipertanggungjawabkan.

Jus pepaya yang terlalu kental dan diminum dalam jumlah besar dapat menyebabkan perut terasa penuh. Campurkan dengan air dan uji dalam porsi kecil.

5. Jus melon dan mentimun

Melon dan mentimun memiliki tingkat keasaman lebih rendah dibanding jeruk atau lemon. Sayangnya, belum bukti bahwa jus melon dan mentimun mengurangi frekuensi refluks. Manfaat utamanya lebih pada potensi tidak terlalu mengiritasi dibanding jus yang asam.

Gunakan lebih banyak air agar hasilnya tidak terlalu kental. Hindari menambahkan lemon karena keasaman tambahan dapat memicu keluhan pada sebagian orang.

Jus yang sebaiknya dihindari

Makanan asam, terutama buah sitrus dan tomat, merupakan pemicu GERD yang umum dilaporkan. Jus sitrus dan tomat dapat mengiritasi kerongkongan yang sudah mengalami peradangan.

Saat gejala kambuh, berhati-hatilah terhadap:

  • Jus jeruk, lemon, limau, dan grapefruit.

  • Jus tomat.

  • Jus dengan tambahan kopi, cokelat, atau daun mint.

  • Minuman jus bersoda.

  • Smoothie dengan banyak santan, krim, es krim, atau susu tinggi lemak.

  • Jus dalam porsi sangat banyak.

Tidak semua pasien GERD harus menghindari daftar di atas selamanya. Jika segelas jus tertentu tidak memicu gejala, tidak alasan medis untuk melarangnya hanya berdasarkan daftar pemicu umum.

Cara mencoba jus tanpa memperburuk gejala

ilustrasi membuat jus lidah buaya (pexels.com/Yaroslav Shuraev)

Cobalah satu jenis minuman dalam satu waktu dan mulai dari porsi kecil. Jangan langsung mencampurkan banyak bahan karena akan sulit mengetahui mana yang memicu keluhan.

Catat jenis jus, jumlah yang diminum, waktu konsumsi, makanan pendamping, dan gejala yang muncul. Jika keluhan berulang dua atau tiga kali setelah minum minuman yang sama, hentikan sementara dan lihat apakah kondisi membaik.

Hindari minum jus atau makan dalam 2–3 jam sebelum berbaring.

Para ahli juga merekomendasikan penurunan berat badan bagi orang dengan berat badan berlebih, berhenti merokok, serta meninggikan kepala tempat tidur pada orang yang mengalami refluks malam hari.

Kapan jus tidak lagi cukup?

Jus hanya dapat menjadi bagian kecil dari pengaturan pola makan. Temui dokter apabila sensasi terbakar atau regurgitasi muncul berulang, mengganggu tidur, atau membuat obat bebas diperlukan lebih dari dua kali seminggu.

Pertolongan medis juga diperlukan jika muncul:

  • Sulit atau nyeri saat menelan.

  • Makanan terasa tersangkut.

  • Muntah terus-menerus.

  • Muntah darah atau feses hitam.

  • Berat badan turun tanpa sebab.

  • Anemia.

  • Nyeri dada.

Nyeri dada tidak boleh langsung dianggap sebagai masalah asam lambung karena keluhan serupa juga dapat berasal dari jantung. Nyeri dada yang berat, menekan, disertai sesak napas, keringat dingin, pusing, atau nyeri yang menjalar perlu mendapatkan pertolongan medis segera.

Belum ada jus yang dapat menyembuhkan GERD. Lidah buaya memiliki sedikit bukti langsung untuk mengurangi gejala, sedangkan jus wortel dikaitkan dengan keluhan nyeri ulu hati yang rendah dalam studi observasional. Jus melon–mentimun, semangka, dan pepaya lebih tepat dipandang sebagai alternatif nonsitrus yang mungkin lebih mudah ditoleransi.

Efeknya tetap berbeda pada setiap orang. Pilihan terbaik adalah minuman yang tidak memicu keluhan, dikonsumsi dalam porsi wajar, dan dikonsumsi bersama pengaturan waktu makan serta pengobatan yang sesuai.

Referensi

Philip O. Katz, Kerry B. Dunbar, Felice H. Schnoll-Sussman, Joel E. Greer, Michael F. Yadlapati, dan Michael F. Vela, “ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” American Journal of Gastroenterology 117, no. 1 (2022): 27–56, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001538.

Yunes Panahi, Hossein Khedmat, Ghasem Valizadegan, Reza Mohtashami, dan Amirhossein Sahebkar, “Efficacy and Safety of Aloe Vera Syrup for the Treatment of Gastroesophageal Reflux Disease: A Pilot Randomized Positive-Controlled Trial,” Journal of Traditional Chinese Medicine 35, no. 6 (2015): 632–636, https://doi.org/10.1016/S0254-6272(15)30151-5.

National Center for Complementary and Integrative Health, “Aloe Vera: Usefulness and Safety,” diakses Juli 2026.

Young Kwan Kim et al., “The Relationship between the Popular Beverages in Korea and Reported Postprandial Heartburn,” Korean Journal of Gastroenterology 55, no. 2 (2010): 109–118, https://doi.org/10.4166/kjg.2010.55.2.109.

Kansas State University Research and Extension, “pH Values of Common Foods and Ingredients (PDF),” diakses Juli 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Eating, Diet, and Nutrition for GER and GERD,” diakses Juli 2026.

American College of Gastroenterology, “Acid Reflux/GERD,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article