Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Badan Kita Langsung Bergetar saat Emosi?

Kenapa Badan Kita Langsung Bergetar saat Emosi?
ilustrasi emosi (pexels.com/Liza Summer)
Intinya Sih
  • Saat emosi meningkat, otak memicu pelepasan hormon adrenalin dan kortisol yang mempercepat kerja tubuh, membuat otot menerima energi berlebih hingga muncul getaran kecil tanpa disadari.
  • Sistem saraf otonom bekerja lebih cepat saat emosi kuat, menyebabkan sinyal ke otot tidak stabil dan menimbulkan tremor halus yang berhenti ketika tubuh kembali tenang.
  • Tubuh menganggap emosi sebagai ancaman fisik sehingga otot menegang dan melepaskan energi berlebih lewat getaran ringan, reaksi alami yang umumnya tidak berbahaya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perubahan emosi sering langsung terasa di tubuh, salah satunya berupa getaran yang muncul tiba-tiba tanpa disadari. Kondisi ini kerap terjadi saat emosi memuncak, baik itu marah, takut, maupun cemas, dan sering dianggap sepele padahal melibatkan proses tubuh yang cukup kompleks.

Sensasi gemetar bukan sekadar reaksi biasa, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang bekerja lebih cepat dari kondisi normal. Rasa ini bisa muncul di tangan, kaki, bahkan seluruh tubuh dalam waktu singkat. Berikut penjelasan yang membantu memahami kenapa tubuh bisa bereaksi seperti itu.

1. Otak memicu pelepasan hormon saat emosi meningkat

ilustrasi emosi
ilustrasi emosi (pexels.com/Gustavo Fring)

Saat emosi memuncak, otak langsung mengirim sinyal ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol. Hormon ini berfungsi mempercepat kerja tubuh, termasuk meningkatkan detak jantung dan aliran darah ke otot. Kondisi tersebut membuat tubuh berada dalam mode siaga, sehingga muncul sensasi tegang yang sulit dikontrol.

Pada saat bersamaan, otot menerima energi dalam jumlah besar secara mendadak, padahal tidak selalu digunakan untuk aktivitas fisik. Penumpukan energi inilah yang memicu getaran kecil pada otot. Tubuh seperti terlalu siap menghadapi sesuatu, meskipun sebenarnya tidak ada aktivitas fisik yang dilakukan.

2. Sistem saraf bekerja lebih cepat dari biasanya

ilustrasi emosi
ilustrasi emosi (pexels.com/Nicola Barts)

Emosi kuat membuat sistem saraf otonom bekerja lebih aktif dibandingkan kondisi tenang. Saraf ini mengatur fungsi otomatis seperti detak jantung, pernapasan, dan respons tubuh terhadap rangsangan. Ketika aktivitasnya meningkat drastis, tubuh kehilangan keseimbangan sementara dalam mengontrol gerakan.

Akibatnya, sinyal dari otak ke otot menjadi tidak sepenuhnya stabil, sehingga muncul getaran halus. Kondisi ini sering terjadi tanpa disadari dan berhenti dengan sendirinya setelah tubuh kembali tenang. Semakin tinggi intensitas emosi, semakin kuat pula reaksi yang muncul di tubuh.

3. Tubuh menganggap emosi sebagai ancaman fisik

ilustrasi emosi
ilustrasi emosi (pexels.com/Timur Weber)

Saat emosi memuncak, tubuh tidak selalu bisa membedakan apakah ancaman itu nyata atau tidak. Reaksi yang muncul sering kali sama seperti ketika menghadapi bahaya fisik. Tubuh langsung bersiap untuk bergerak cepat, meskipun situasi sebenarnya tidak membutuhkan tindakan tersebut.

Persiapan ini membuat otot menegang dan siap digunakan kapan saja. Ketika energi tersebut tidak tersalurkan, tubuh justru menunjukkan reaksi berupa gemetar. Ini adalah bentuk pelepasan energi yang tidak terpakai agar tidak menumpuk terlalu lama di dalam tubuh.

4. Otot menegang secara spontan tanpa disadari

ilustrasi emosi
ilustrasi emosi (pexels.com/Afif Ramdhasuma)

Emosi yang intens membuat otot tubuh menegang secara otomatis, terutama di bagian tangan, bahu, dan kaki. Ketegangan ini sering tidak terasa di awal, tetapi perlahan memicu sensasi tidak nyaman. Jika berlangsung cukup lama, otot mulai bereaksi dengan getaran kecil sebagai bentuk penyesuaian.

Getaran tersebut sebenarnya merupakan cara tubuh untuk mengurangi ketegangan yang berlebihan. Otot yang terlalu tegang membutuhkan pelepasan agar tidak menimbulkan rasa sakit atau kelelahan. Karena itu, gemetar bisa muncul sebagai reaksi alami tanpa perlu disadari secara penuh.

5. Tremor ringan muncul sebagai reaksi tubuh yang normal

ilustrasi emosi
ilustrasi emosi (pexels.com/Yan Krukau)

Getaran saat emosi juga termasuk dalam kategori tremor fisiologis, yaitu kondisi normal yang bisa dialami siapa saja. Tremor ini biasanya muncul saat tubuh berada dalam kondisi tertentu seperti kelelahan, lapar, atau emosi yang intens. Meski terasa mengganggu, kondisi ini umumnya tidak berbahaya.

Selama tidak terjadi terus-menerus atau disertai gejala lain yang berat, tremor ini masih dianggap wajar. Tubuh hanya sedang menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi secara cepat. Setelah emosi mereda, getaran biasanya ikut menghilang tanpa perlu penanganan khusus.

Tubuh yang bergetar saat emosi bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk respons alami yang menunjukkan sistem tubuh sedang bekerja lebih cepat dari biasanya. Selama dipahami dengan baik, kondisi ini bisa dihadapi tanpa rasa khawatir berlebihan. Lalu, ketika tubuh mulai memberi sinyal seperti ini, apakah sudah cukup peka untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam diri?

Referensi

"Anger and how to deal with it." Mental Health Foundation. Diakses pada April 2026.

"Anxiety Shaking: Causes, Symptoms, and How to Stop It." Med Vidi. Diakses pada April 2026.

"How To Manage Anxiety and Fight or Flight Response To Stop Shaking When You Feel Nervous." Better Help. Diakses pada April 2026.

"Physiology, Stress Reaction." Stat Pearls. Diakses pada April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More