Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Jantung Berdebar saat Puasa? Kenali Penyebab dan Solusinya
ilustrasi kenapa jantung berdebar saat puasa? (pixabay.com/Tumisu)
  • Selama puasa, tubuh beradaptasi dengan perubahan pola makan dan cairan sehingga bisa memicu jantung berdebar akibat dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau penurunan kadar gula darah.
  • Konsumsi kafein berlebih saat sahur serta gangguan asam lambung dapat mempercepat detak jantung karena efek stimulan dan iritasi saraf yang mengatur ritme jantung.
  • Kurang tidur dan stres selama Ramadan turut meningkatkan hormon kortisol yang membuat sistem kardiovaskular bekerja lebih keras, sehingga penting menjaga istirahat dan hidrasi agar detak jantung stabil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika menjalani ibadah puasa Ramadan, tubuh mengalami berbagai penyesuaian metabolisme yang terkadang menimbulkan sensasi fisik yang tak biasa. Nah, salah satu keluhan yang kerap muncul tentang kenapa jantung berdebar saat puasa? Padahal kamu sedang tidak melakukan aktivitas fisik yang berat atau sedang tidak labil emosinya. Sensasi ini kerap membuat rasa khawatir muncul di tengah kekhusyukan beribadah, terutama jika detak jantung terasa tidak beraturan atau terasa terlalu kencang di area dada, kan.

Sebenarnya, kondisi ini merupakan sinyal alami dari tubuh yang sedang beradaptasi dengan pola makan dan minum yang berubah drastis selama belasan jam, lho. Kamu mungkin merasa lemas sekaligus jantung berdebar kencang saat mendekati waktu berbuka atau justru sesaat setelah makan dalam porsi besar saat sahur. Memahami alasan di balik reaksi tubuh ini sangat penting agar kamu bisa menjalani ibadah dengan lebih tenang dan tetap menjaga kesehatan organ jantung secara optimal. Simak penyebabnya, yuk!

1. Dehidrasi dan kurangnya keseimbangan elektrolit

ilustrasi dehidrasi (pixabay.com/naturalherbsclinic)

Dehidrasi atau kekurangan cairan merupakan salah satu pemicu utama gangguan irama jantung selama seseorang menjalankan puasa. Ketika volume darah menurun akibat kekurangan asupan cairan, jantung harus bekerja jauh lebih keras untuk memompa darah ke seluruh jaringan tubuh. Nah, kondisi ini secara otomatis akan meningkatkan denyut nadi agar sirkulasi oksigen tetap terjaga meski tekanan darah sedang menurun.

Hal ini makin diperparah dengan hilangnya mineral penting seperti kalium, natrium, dan magnesium melalui keringat atau urine tanpa adanya penggantian segera. Tanpa asupan cairan yang cukup antara waktu berbuka hingga sahur, keseimbangan elektrikal jantung bisa terganggu sehingga memicu sensasi palpitasi atau detak jantung tidak beraturan. Oleh karena itu, pastikan kamu memenuhi kuota air putih harian untuk mencegah beban kerja jantung yang berlebihan di siang hari, ya.

2. Penurunan kadar gula darah (hipoglikemia)

ilustrasi hipoglikemia (pexels.com/i-SENS, USA)

Penyebab selanjutnya yang sangat umum terjadi adalah hipoglikemia atau kondisi di mana kadar gula darah turun di bawah batas normal selama berpuasa. Otak dan jantung adalah dua organ yang sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama untuk bisa berfungsi dengan baik. Ketika cadangan gula dalam darah mulai menipis karena tidak ada asupan karbohidrat, tubuh lantas mengirimkan sinyal darurat ke sistem saraf.

Sebagai respon, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan norepinephrine untuk memicu pelepasan cadangan gula dari lemak dan hati. Efek samping dari lonjakan hormon adrenalin inilah yang bikin kamu jadi merasakan sensasi jantung berdebar kencang yang sering disertai dengan keringat dingin atau tangan gemetar. Kondisi ini biasanya akan mereda segera setelah kamu mengonsumsi makanan manis atau karbohidrat sederhana saat waktu berbuka tiba, kok.

3. Konsumsi kafein berlebih saat waktu sahur

ilustrasi minum kopi saat sahur (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak orang mengandalkan kopi atau teh pekat saat sahur agar tak merasa mengantuk saat bekerja di siang hari, tapi hal ini bisa menjadi bumerang bagi kesehatan, lho. Kafein yang merupakan stimulan sistem saraf pusat dapat secara langsung memicu peningkatan denyut nadi secara signifikan pada beberapa orang. Kalau kamu mempunyai sensitivitas tinggi terhadap kafein, satu cangkir kopi saat sahur sudah cukup untuk membuat jantungmu terasa "berlari" sepanjang hari, ya.

Sifat diuretik yang dimiliki oleh kafein juga akan mempercepat pembuangan cairan tubuh melalui urine, yang pada akhirnya membawamu mengalami dehidrasi. Gabungan antara efek stimulan jantung dan hilangnya cairan tubuh ini menciptakan lingkungan yang sempurna untuk munculnya keluhan jantung berdebar. Jadi, cobalah untuk mengurangi atau menghindari kafein dan menggantinya dengan air mineral atau jus buah segar agar detak jantungmu tetap stabil selama berpuasa.

4. Gangguan asam lambung atau gejala GERD

ilustrasi asam lambung kambuh (freepik.com/user17222333)

Masalah pencernaan ternyata memiliki hubungan yang sangat erat dengan ritme jantung yang dikenal sebagai gastrocardiac syndrome. Asam lambung yang naik ke kerongkongan atau perut yang terlalu kembung bisa mengiritasi saraf vagus yang melintasi area dada. Saraf vagus ini mempunyai peran krusial dalam mengatur detak jantung, sehingga iritasi pada area tersebut kerap disalahpahami sebagai serangan jantung.

Makan terlalu cepat saat berbuka atau langsung tidur sesaat setelah sahur juga jadi pemicu utama meningkatnya tekanan di dalam perut yang berujung pada heartburn, lho. Sensasi panas di dada yang dibarengi dengan palpitasi kerap membuat seseorang merasa panik, padahal sumber masalahnya ada pada lambung. Untuk mengatasinya, kamu disarankan makan dalam porsi kecil namun sering dan menghindari makanan yang terlalu pedas atau berlemak selama bulan puasa, ya.

5. Kurang istirahat dan tingkat stres tubuh

ilustrasi kurang tidur (pexels.com/cottonbro studio)

Perubahan pola tidur selama bulan Ramadan, seperti harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sahur, sering membuat waktu istirahat jadi berkurang. Hal ini menyebabkan tubuh berada dalam kondisi fight or flight yang memicu peningkatan hormon kortisol di dalam aliran darah secara terus-menerus. Kondisi tubuh yang kelelahan, dan tetap dipaksakan untuk beraktivitas berat akan membuat sistem kardiovaskular bekerja ekstra keras untuk menjaga kesadaran.

Stres fisik akibat perubahan jam biologis inilah yang dapat memicu gangguan irama jantung fungsional. Jangan heran jika kamu merasa berdebar saat mencoba berkonsentrasi di kantor, karena itu merupakan cara tubuh memberitahu bahwa ia butuh istirahat sejenak untuk memulihkan energi. Mengatur jadwal tidur siang singkat atau power nap selama 15-20 menit sangat membantu menenangkan sistem saraf dan menstabilkan detak jantungmu, lho.

Dengan memahami lima faktor di atas, kamu kini sudah tahu jawaban dari pertanyaan kenapa jantung berdebar saat puasa, kan? Selama gejala tersebut tak disertai dengan nyeri dada yang hebat, sesak napas, atau pingsan, biasanya perbaikan pola makan dan kecukupan istirahat sudah cukup untuk meredakannya, kok. Tetaplah waspada terhadap sinyal yang diberikan oleh tubuhmu dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika keluhan dirasa semakin mengganggu kelancaran ibadahmu, ya.

Referensi

“Avoid Hypoglycemia When Fasting in the Following Ways!”. EMC Healthcare. Diakses Februari 2026.

“Influence of an acute fast on ambulatory blood pressure and autonomic cardiovascular control”. National Library of Medicine. Diakses Februari 2026.

“Intermittent Fasting and Heart Health”. Keck Medicine. Diakses Februari 2026.

“Fasting: How Does It Affect Your Heart and Blood Pressure?”. Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.

“Is Water Good for Your Heart? Hydration & Heart Health Explained”. Women Heart. Diakses Februari 2026.

“Coffee for Suhoor, Is It Allowed?”. Siloam Hospitals. Diakses Februari 2026.

“Can Acid Reflux and GERD Cause Heart Palpitations?”. Healthline. Diakses Februari 2026.

“Why does poor sleep increase the risk of heart disease?”. Heart Foundation. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team