Tidak hanya kondisi fisik saat berlari, faktor sehari-hari juga dapat memengaruhi bagaimana tubuh merasakan suatu latihan. Dehidrasi ringan akibat kurang minum sebelum atau selama berlari dapat meningkatkan detak jantung dan suhu tubuh, sehingga pace yang biasanya terasa nyaman menjadi lebih melelahkan.
Di sisi lain, kurang tidur dan stres juga berperan. Kurang istirahat menghambat proses pemulihan tubuh, sementara stres dapat meningkatkan persepsi terhadap rasa lelah. Akibatnya, meski lari dengan pace yang sama, tetapi lari bisa terasa lebih berat karena tubuh dan otak sedang tidak berada dalam kondisi optimal.
Tidak semua hari adalah hari terbaik untuk berlari. Pace yang sama bisa terasa lebih berat karena pengaruh banyak faktor, mulai dari cardiovascular drift, perubahan metabolisme, cuaca, hidrasi, hingga kualitas tidur dan tingkat stres. Karena itu, mengevaluasi latihan sebaiknya tidak cuma mengandalkan pace, tetapi juga memahami mekanisme ini.
Referensi
Dawson, E. A., R. Shave, K George, G. Whyte, D. Ball, D. Gaze, and P. Collinson. “Cardiac Drift during Prolonged Exercise with Echocardiographic Evidence of Reduced Diastolic Function of the Heart.” European Journal of Applied Physiology 94, no. 3 (March 11, 2005): 305–9.
Faulkner, James, Gaynor Parfitt, and Roger Eston. “The Rating of Perceived Exertion during Competitive Running Scales with Time.” Psychophysiology 45, no. 6 (September 18, 2008): 977–85.
Papini, Gabriele B., Alberto G. Bonomi, and Francesco Sartor. “Proof-of-Concept Model for Instantaneous Heart Rate-Drift Correction during Low and High Exercise Exertion.” Frontiers in Physiology 15 (April 22, 2024): 1358785.