ilustrasi lari (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Rutinitas lari tidak harus dihentikan sepenuhnya ketika seseorang ingin menjaga kesehatan seksual. Hal yang lebih penting adalah memastikan latihan sejalan dengan kemampuan tubuh dan tidak mengorbankan kebutuhan pemulihan. Beberapa penyesuaian berikut dapat membantu mengurangi risiko kelelahan akibat latihan berlebihan.
Sediakan waktu istirahat: Atur hari tanpa latihan lari atau lakukan aktivitas ringan agar otot dan tubuh memiliki kesempatan untuk pulih. Jangan memaksakan diri menyelesaikan jadwal latihan ketika tubuh masih terasa sangat lelah.
Penuhi kebutuhan kalori dan nutrisi: Konsumsi makanan dengan kandungan karbohidrat, protein, dan lemak sehat yang cukup untuk mengganti energi selama berlari. Asupan makanan juga perlu disesuaikan ketika jarak dan durasi latihan meningkat.
Atur intensitas latihan: Hindari melakukan sesi lari berat setiap hari. Selang-seling latihan intensitas tinggi dengan sesi ringan atau pemulihan agar tubuh tidak terus menerima beban yang sama.
Perhatikan kualitas tidur: Usahakan tidur cukup dan teratur karena proses pemulihan fisik serta pengaturan hormon turut berlangsung selama istirahat. Kurang tidur dapat memperburuk kelelahan yang sudah muncul akibat latihan.
Jangan abaikan perubahan tubuh: Penurunan libido yang menetap, gangguan menstruasi, kelelahan berkepanjangan, atau perubahan fungsi seksual perlu diperhatikan. Konsultasikan keluhan tersebut kepada tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya, bukan langsung menganggapnya sebagai efek lari.
Penyesuaian latihan sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi masing-masing orang, bukan hanya mengikuti batas tertentu. Kebutuhan pemulihan pelari pemula tentu berbeda dari pelari yang sudah terbiasa menempuh jarak jauh. Jika keluhan tetap muncul meskipun beban latihan sudah dikurangi, pemeriksaan medis diperlukan untuk menilai kemungkinan penyebab lain.
Menjaga kebugaran tidak selalu berarti menambah jarak tempuh atau memperbanyak jadwal latihan setiap minggu. Tubuh juga membutuhkan makanan yang cukup, tidur berkualitas, dan waktu istirahat agar manfaat olahraga bisa dirasakan secara optimal. Jadi, jangan abaikan perubahan gairah seksual karena bisa saja tubuh sedang memberi sinyal bahwa rutinitas lari perlu disesuaikan.
Referensi:
"Marathon Running and Sexual Libido in Adult Men: Exercise Training and Racing Effects." Journal of Endocrinological Science. Diakses pada Oktober 2026
"Why Is Your Libido Lower After Exercise?" Vitals Vault. Diakses pada Oktober 2026
"Running and Sex: Does Running Increase Sex Drive?" Hims. Diakses pada Oktober 2026
"Running and Sex Drive." Trail Runner. Diakses pada Oktober 2026