Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tanda Takjil yang Terlihat Biasa, tapi Berat bagi Pencernaan
ilustrasi takjil (vecteezy.com/Ramazan Gökay Güven)
  • Takjil yang terlalu manis, berlemak, atau bersantan membuat lambung cepat penuh dan bekerja lebih berat.

  • Tekstur lengket, gorengan, dan serat kasar membuat makanan bertahan lebih lama di lambung.

  • Pilihan takjil yang tampak ringan justru bisa memicu begah, mual, dan tidak nyaman saat makan utama.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Takjil sering dipilih sekadar untuk mengganjal lapar sebelum makan utama. Padahal, jenis yang tampak ringan belum tentu mudah dicerna setelah perut kosong seharian. Saat berbuka, kondisi lambung masih sensitif sehingga makanan dengan kandungan tertentu dapat memicu begah, mual, atau rasa penuh yang bertahan lama.

Banyak orang mengira keluhan setelah buka puasa disebabkan porsi makan besar, padahal pemicunya justru makanan pembuka yang dipilih. Faktor seperti kadar gula, lemak tersembunyi, hingga tekstur makanan ikut menentukan cepat atau lambatnya proses cerna. Berikut tanda-tanda yang sering tidak disadari saat memilih menu berbuka.

1. Rasa terlalu manis membuat lambung cepat penuh

ilustrasi minuman manis (vecteezy.com/Natthapon Ngamnithiporn)

Minuman atau makanan yang rasanya sangat manis biasanya mengandung gula pekat dalam jumlah tinggi. Saat masuk ke perut kosong, cairan manis ini menarik banyak cairan tubuh ke saluran cerna sehingga memicu rasa begah dan cepat kenyang. Tidak sedikit orang merasa baru minum segelas es sudah terasa penuh, padahal belum makan apa pun. Kondisi ini juga bisa membuat tubuh mendadak lemas karena kadar gula darah naik terlalu cepat, lalu turun kembali.

Contoh yang paling sering ditemui es sirop kental, es buah dengan banyak gula cair, atau kolak dengan kuah sangat manis. Rasa segarnya memang menggoda, tetapi lambung memerlukan waktu lebih lama untuk menyeimbangkan kadar gula tersebut. Akibatnya, saat makan utama dimulai, perut sudah terasa tidak nyaman. Situasi ini sering memicu keluhan kembung dan sendawa

2. Kuah santan pekat membuat proses cerna lebih lambat

ilustrasi kolak pisang (vecteezy.com/Reza Fahmi Kalkasandi)

Makanan berkuah santan pekat mengandung lemak tinggi sehingga tidak bisa dicerna secepat makanan ringan biasa. Ketika dikonsumsi saat perut kosong, lemak tersebut membuat lambung bekerja lebih lama untuk memecahnya. Itulah sebabnya, sebagian orang merasa cepat enek setelah beberapa sendok saja. Rasa berat di perut biasanya muncul beberapa menit kemudian.

Adapun, beberapa takjil yang populer ada bubur sumsum dengan santan kental, kolak pisang dengan kuah tebal, atau candil bersantan. Tekstur mereka memang lembut di mulut, tetapi proses di dalam tubuh jauh lebih panjang. Pada orang yang sensitif, santan pekat juga dapat memicu rasa perih di ulu hati. Karena itu, konsumsi berlebihan sering membuat perut terasa tidak nyaman sampai malam.

3. Tekstur lengket membuat makanan lama bertahan di lambung

ilustrasi wajik (commons.wikimedia.org/Joseagush)

Makanan berbahan ketan atau tepung tertentu memiliki tekstur sangat padat dan lengket. Saat masuk ke lambung, makanan seperti ini tidak mudah hancur sehingga memerlukan waktu cerna lebih lama. Akibatnya, perut terasa penuh meski jumlah yang dimakan tidak banyak. Sensasi begah biasanya muncul cukup cepat.

Beberapa contoh makanan ini antara lain klepon, lupis, wajik, atau kue lapis berbahan ketan. Tekstur lengket membuat makanan tersebut bercampur lebih lambat dengan cairan pencernaan. Kondisi ini dapat menahan makanan lain lebih lama di lambung. Akibatnya, makan besar setelahnya terasa semakin berat.

4. Gorengan menyimpan lemak yang sulit dicerna

ilustrasi gorengan (vecteezy.com/Reza Fahmi Kalkasandi)

Gorengan menyerap minyak dalam jumlah cukup besar selama proses memasak. Lemak dari minyak membutuhkan waktu lama untuk dipecah sehingga lambung bekerja lebih berat dibandingkan saat mencerna makanan ringan lain. Karena dimakan saat perut kosong, efeknya bisa terasa lebih cepat. Banyak orang merasakan perut penuh hanya setelah 1 atau 2 potong.

Adapun, gorengan yang populer antara lain bakwan, risoles, pastel, atau pisang goreng. Selain lemak, minyak yang dipakai berulang kali dapat memicu iritasi lambung. Itu sebabnya, keluhan seperti mual atau perut terasa panas sering muncul setelah berbuka dengan gorengan. Efeknya bisa bertahan cukup lama hingga waktu makan malam.

5. Serat kasar membuat lambung bekerja lebih keras

ilustrasi jambu biji (vecteezy.com/JOYI CHANG)

Buah memang sehat, tetapi jenis dengan serat kasar tidak selalu cocok sebagai makanan pembuka. Serat yang keras memerlukan waktu lama untuk dilunakkan di lambung, terutama saat perut kosong. Kondisi ini dapat memicu rasa penuh dan kram ringan. Beberapa orang juga merasakan perut terasa kaku setelah mengonsumsinya.

Buah berserat yang sering dikonsumsi antara lain jambu biji, salak, atau mangga muda yang sering dijadikan campuran rujak atau es buah. Serat tersebut tidak mudah hancur sehingga proses cerna menjadi lebih lambat. Akibatnya, makanan lain tertahan lebih lama di lambung. Situasi ini sering menimbulkan rasa tidak nyaman saat makan utama.

Memilih makanan pembuka sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan rasa segar atau kebiasaan, tetapi juga kemudahan tubuh mencernanya setelah seharian kosong. Beberapa pilihan yang terlihat ringan justru membuat lambung bekerja lebih lama sehingga memicu begah dan nyeri. Jika keluhan seperti perut penuh atau mual sering muncul setelah berbuka, mungkin sudah saatnya lebih selektif memilih menu. Apakah selama ini pilihan yang dianggap aman justru menjadi penyebabnya?

Referensi
"Don’t be Tempted! Avoid these foods during Iftar According to UNS Hospital Nutritionist". UNS. Diakses Februari 2026.
"How to Break a Fast Safely Including What to Eat". Everlab. Diakses Februari 2026.
"Important to Have Healthy Diet While Fasting". UGM. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎