ilustrasi pekerja shift malam (pexels.com/Jimmy Liao)
Kabar baiknya, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa dampak kerja shift malam dapat diminimalkan apabila kualitas istirahat tetap dijaga. Banyak pekerja shift merasa cemas ketika gak mampu tidur panjang setelah pulang bekerja. Padahal, kondisi tersebut belum tentu berarti ada masalah serius karena tubuh memang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan ritme biologisnya.
Para peneliti kini mulai mengkaji pola biphasic sleep, yaitu membagi waktu tidur menjadi dua sesi dalam sehari. Selain itu, tidur singkat atau power nap selama sekitar 20 hingga 50 menit juga terbukti membantu meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk pada pekerja shift. Para ahli menilai bahwa strategi tidur yang disesuaikan dengan kondisi tubuh jauh lebih efektif dibanding memaksakan tidur panjang yang justru sulit dicapai setelah bekerja semalaman.
Kerja shift malam memang gak selalu bisa dihindari, terutama bagi profesi yang harus memberikan layanan selama 24 jam. Meski begitu, bukan berarti kamu harus mengabaikan dampaknya terhadap kesehatan, lho. Gangguan ritme biologis, meningkatnya risiko penyakit jantung, penurunan fungsi otak, hingga potensi penyakit kronis lainnya menunjukkan bahwa tidur memiliki peran yang jauh lebih penting daripada sekadar menghilangkan rasa kantuk.
Dengan menjaga pola tidur sebaik mungkin, menerapkan gaya hidup sehat, serta rutin memeriksakan kondisi kesehatan jika diperlukan, kamu tetap bisa menjalani pekerjaan shift malam tanpa mengorbankan kesehatan dalam jangka panjang.