Comscore Tracker

Studi: Vaksin mRNA Cegah COVID-19 hingga 91 Persen

Semakin yakin dengan vaksin!

Dalam waktu kurang lebih setahun, dunia memecahkan rekor formulasi vaksin tercepat untuk memerangi pandemi COVID-19, penyakit akibat virus corona strain baru, SARS-CoV-2. 

Beberapa vaksin COVID-19 menggunakan teknologi messenger ribonucleic acid (mRNA). Ditemukan pada tahun 1961, mRNA memberikan secercah harapan agar dunia bisa kembali pulih dari pandemi ini.

1. Studi HEROES-RECOVER ungkap efektivitas vaksin mRNA

Studi: Vaksin mRNA Cegah COVID-19 hingga 91 Persenilustrasi vaksin Pfizer dan Moderna (wfaa.com)

Sebuah studi pada awal April 2021 oleh peneliti Amerika Serikat (AS) yang dimuat dalam Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) mengungkap efektivitas vaksin COVID-19 berteknologi mRNA seperti BNT162b2 dari Pfizer-BioNTech dan mRNA-1273 dari Moderna.

Studi ini yang pertama menunjukkan manfaat vaksin mRNA untuk penerimanya, baik yang baru menerima dosis pertama atau komplet. Melibatkan 3.950 relawan, studi bertajuk HEROES-RECOVER ini mencakup data dari individu yang rentan terpapar SARS-CoV-2 seperti tenaga kesehatan, pekerja garda terdepan, dan responden COVID-19 pertama.

Hasilnya, vaksin mRNA Pfizer dan Moderna setelah dua dosis (≥14 hari setelah dosis kedua) terbukti 90 persen ampuh mencegah infeksi SARS-CoV-2 terlepas dari status gejala, sedangkan efektivitas vaksin mRNA setelah satu dosis (≥14 hari setelah dosis pertama tetapi sebelum dosis kedua) adalah 80%.

"Vaksin mRNA COVID-19 yang sudah disahkan efektif untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2 dalam skenario dunia nyata. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang yang memenuhi syarat," tandas penelitian tersebut.

2. CDC mengutip studi HEROES-RECOVER

Studi: Vaksin mRNA Cegah COVID-19 hingga 91 Persenilustrasi penyuntikan vaksin (ANTARA FOTO/Soeren Stache/Pool via REUTERS)

Pada 7 Juni 2021, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merilis penelitian lanjutan dari HEROES-RECOVER. CDC melakukan analisis terbaru dengan data dari 3.975 peserta di delapan wilayah AS. Setiap peserta menerima tes COVID-19 seminggu sekali selama 17 minggu, dari 13 Desember 2020 sampai 10 April 2021.

Para peneliti kemudian memilih tes-tes positif untuk menilai beban virus SARS-CoV-2 dan mengukur berapa lama peserta dinyatakan positif SARS-CoV-2 untuk melihat tingkat pelepasan virus. Faktor-faktor seperti penggunaan alat pelindung diri (APD) dan peredaran SARS-CoV-2 di lingkungan pun juga turut dipertimbangkan.

"Setelah divaksinasi penuh, risiko infeksi COVID-19 peserta berkurang sebesar 91 persen. Setelah vaksinasi COVID-19 parsial, risiko infeksi peserta berkurang sebesar 81 persen. Perkiraan ini termasuk infeksi bergejala dan tanpa gejala atau asimtomatik,” papar CDC.

Baca Juga: Anti Bingung, Kenali Berbagai Istilah seputar Vaksin COVID-19

3. Vaksin mRNA membuat COVID-19 lebih ringan dan mencegah penularan

Studi: Vaksin mRNA Cegah COVID-19 hingga 91 Persenilustrasi penyuntikan vaksin (nytimes.com)

Untuk mengetahui pengaruh vaksinasi pada infeksi SARS-CoV-2, CDC membandingkan mereka yang sudah divaksin mRNA dan terinfeksi dengan mereka yang terinfeksi serta belum divaksin.

Analisis CDC menunjukkan bahwa individu yang menerima vaksin COVID-19 mRNA parsial atau paripurna dan terkena COVID-19 mengalami sakit selama 6 hari lebih sedikit dan menghabiskan 2 hari lebih sedikit di tempat tidur, daripada mereka yang mengembangkan COVID-19 dan belum menerima vaksinasi.

Selain itu, mereka yang divaksinasi mRNA sekitar 60 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan gejala, seperti demam atau menggigil, dibandingkan mereka yang tidak. Lebih lagi, mereka yang divaksin parsial atau paripurna lalu terinfeksi COVID-19 lebih kecil kemungkinannya untuk menularkan SARS-CoV-2 ke orang lain.

"... peserta penelitian yang divaksinasi komplet atau parsial memiliki virus 40 persen lebih sedikit yang terdeteksi di hidung mereka (atau, beban virus yang lebih rendah). Virus terdeteksi (atau, tingkat pelepasan virus) selama enam hari lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi saat terinfeksi," ujar CDC.

4. CDC: segera dapatkan vaksinasi COVID-19 mRNA komplet!

Studi: Vaksin mRNA Cegah COVID-19 hingga 91 Persenilustrasi vaksinasi (unsplash.com/Markus Spiske)

Ilmuwan CDC juga melihat bahwa mereka yang menerima vaksinasi mRNA parsial atau paripurna memiliki kemungkinan 66 persen lebih kecil untuk terinfeksi SARS-CoV-2.

Temuan ini menambah bukti kalau vaksin mRNA COVID-19 adalah cara terbaik meminimalkan kasus COVID-19, gejala parahnya, dan penyebaran SARS-CoV-2. Oleh karena itu, CDC merekomendasikan vaksinasi COVID-19 mRNA komplet, dari usia 12 tahun ke atas.

“Temuan studi ini mendukung rekomendasi CDC [bagi masyarakat] untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19 lengkap sesegera mungkin,” tutup CDC.

Baca Juga: Penasaran Apa Saja Isi Vaksin? Ini Bahan-Bahan Pembuatnya

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya