Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak Suka Makan Jeroan? Cek Batas Aman Konsumsinya
ilustrasi anak makan jeroan (pexels.com/nourrie zein)
  • Jeroan seperti hati ayam dan sapi kaya zat besi, vitamin A, B12, serta zink yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak bila dikonsumsi dalam jumlah wajar.
  • Konsumsi jeroan berlebihan dapat menyebabkan kelebihan vitamin A atau hipervitaminosis A, sehingga disarankan hanya diberikan sesekali dalam porsi kecil agar tetap aman bagi anak.
  • Orang tua perlu memastikan jeroan dimasak matang, berasal dari sumber bersih, serta menjadi bagian dari pola makan bervariasi agar kebutuhan gizi anak terpenuhi secara seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menyoroti sisi positif jeroan, terutama hati, sebagai sumber gizi padat yang dapat membantu memenuhi kebutuhan zat besi dan vitamin penting bagi anak. Dengan porsi yang wajar dan pengolahan yang tepat, jeroan dapat menjadi bagian bernilai dalam pola makan seimbang, mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, serta daya tahan tubuh anak secara optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tak sedikit anak-anak yang suka makan jeroan, dan banyak orang tua menyajikan hati ayam atau hati sapi untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak.

Jeroan memang termasuk salah satu bahan pangan yang bernutrisi. Bahkan dalam beberapa hal, kandungan vitamin dan mineralnya lebih tinggi dibanding daging biasa. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan, terutama jika jeroan dikonsumsi oleh anak-anak secara rutin.

Kalau kamu punya pertanyaan tentang apakah anak boleh makan jeroan, seberapa sering dan berapa banyak, dan pa saja hal-hal yang perlu diperhatikan, terus baca artikel ini sampai habis, ya!

Kandungan nutrisi jeroan yang baik untuk anak

Jeroan memiliki kandungan gizi yang padat. Hati, misalnya, merupakan salah satu sumber alami vitamin A, B12, folat, zat besi, tembaga, dan protein berkualitas tinggi.

Zat besi menjadi nutrisi yang sangat penting pada masa kanak-kanak. Kekurangan zat besi dapat mengganggu perkembangan otak, kemampuan belajar, konsentrasi, serta daya tahan tubuh. Anemia defisiensi besi masih menjadi salah satu masalah gizi paling umum pada anak di seluruh dunia.

Dalam hal ini hati memiliki keunggulan. Zat besi dalam hati termasuk zat besi heme, yaitu bentuk zat besi yang lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi dari sumber nabati. Karena itu, dalam jumlah yang tepat, hati dapat menjadi makanan pendamping yang baik, terutama bagi anak yang berisiko mengalami kekurangan zat besi.

Selain zat besi, jeroan juga kaya akan vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan sel darah merah dan perkembangan sistem saraf.

Kandungan zink yang tinggi juga membantu pertumbuhan, fungsi kekebalan tubuh, dan penyembuhan jaringan.

Namun, tidak semua jeroan sama

Ketika membahas jeroan, banyak orang menganggap semua jenisnya memiliki kandungan gizi yang serupa. Padahal, setiap organ memiliki profil nutrisi yang berbeda.

Hati merupakan jenis jeroan yang paling kaya vitamin dan mineral. Ginjal juga mengandung vitamin B12 dan selenium dalam jumlah tinggi. Sementara itu, usus, paru, dan ampela cenderung mengandung lebih sedikit mikronutrien dibanding hati.

Perbedaan ini penting karena manfaat dan risikonya juga berbeda. Hati sering direkomendasikan dalam jumlah terbatas karena kandungan zat besinya yang tinggi. Sebaliknya, beberapa jenis jeroan lain lebih sering dikonsumsi karena alasan rasa dan tekstur, bukan karena nilai gizinya.

Sebagian besar bukti ilmiah lebih banyak mengacu pada hati dibandingkan organ lainnya.

Ada risiko asupan vitamin A secara berlebihan

ilustrasi tumis hati sapi dan sayuran untuk menu makan anak (pexels.com/rakhmat suwandi)

Dalam jumlah kecil, vitamin A sangat penting untuk kesehatan mata, sistem imun, pertumbuhan, dan perkembangan sel. Namun, dalam jumlah berlebihan, bisa timbul masalah.

Karena vitamin A larut dalam lemak, tubuh dapat menyimpannya dalam jumlah besar. Jika anak terlalu sering mengonsumsi hati dalam porsi besar, risiko kelebihan vitamin A meningkat. Kondisi ini disebut hipervitaminosis A.

Kelebihan vitamin A dalam jangka panjang dapat menyebabkan sakit kepala, gangguan tulang, nyeri sendi, gangguan hati, hingga masalah pertumbuhan pada anak. Risiko ini terutama muncul jika anak sering makan hati atau jika anak juga mendapatkan suplemen vitamin A dosis tinggi.

Bagaimana dengan kolesterol dan asam urat?

Jeroan sering mendapat reputasi buruk karena kandungan kolesterolnya yang tinggi. Memang benar bahwa sebagian besar jeroan mengandung kolesterol lebih tinggi dibanding daging. Namun, pada anak yang sehat, kolesterol dari makanan bukanlah perhatian utama seperti pada orang dewasa yang memiliki penyakit jantung atau gangguan metabolik. Belum ada bukti kuat konsumsi jeroan sesekali pada anak sehat akan menyebabkan kolesterol tinggi.

Meski demikian, jeroan sebaiknya tidak menjadi menu utama setiap hari. Selain kolesterol, beberapa jenis jeroan juga mengandung purin yang tinggi. Purin akan dipecah menjadi asam urat di dalam tubuh. Walaupun gout (radang sendi yang terjadi ketika kadar asam urat di dalam darah terlalu tinggi) sangat jarang terjadi pada anak, tetapi makan dalam jumlah banyak atau sering tetap tidak dianjurkan sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Apakah jeroan aman untuk anak kecil?

ilustrasi balita sedang makan (pexels.com/Vanessa Loring)

Secara umum, jeroan aman diberikan setelah anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI), asalkan dimasak hingga benar-benar matang dan teksturnya sesuai usia anak.

Banyak ahli menganggap hati sebagai salah satu makanan pendamping yang sangat baik karena kandungan zat besinya. Pada usia 6 bulan ke atas, kebutuhan zat besi meningkat tajam sementara cadangan zat besi bawaan lahir mulai menurun.

Pastikan jeroan harus berasal dari sumber yang sehat, disimpan dengan benar, dan dimasak hingga matang sempurna untuk mengurangi risiko infeksi bakteri maupun parasit.

Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang. Karena itu, jeroan mentah atau setengah matang tidak dianjurkan.

Seberapa sering anak-anak boleh makan jeroan?

Tidak ada angka universal yang berlaku untuk semua anak. Namun, berbagai panduan gizi dan pendapat ahli cenderung sepakat bahwa jeroan sebaiknya menjadi bagian dari pola makan yang bervariasi, bukan makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Untuk hati, banyak ahli gizi anak menyarankan konsumsi sesekali dalam porsi kecil sebagai bagian dari menu mingguan. Dalam praktiknya, pemberian hati sekitar satu kali per minggu atau beberapa kali dalam sebulan umumnya sudah cukup untuk memperoleh manfaat gizinya tanpa meningkatkan risiko kelebihan vitamin A.

Jenis jeroan lain seperti ampela atau paru tidak perlu diberikan terlalu sering. Bukan karena berbahaya, melainkan karena anak butuh variasi sumber protein lain seperti ikan, telur, ayam, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, tempe, dan tahu.

Makin beragam makanan yang dikonsumsi anak, makin besar peluang mereka mendapatkan seluruh nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kapan orang tua perlu berhati-hati?

Dalam beberapa kondisi, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi anak sebelum rutin memberikan jeroan.

Misalnya, jika anak sedang mengonsumsi suplemen vitamin A dosis tinggi, memiliki gangguan hati tertentu, atau menjalani pola makan khusus yang membuat asupan vitamin dan mineral tertentu sudah sangat tinggi.

Perhatian juga perlu diberikan pada anak yang picky eater. Kadang-kadang anak yang menyukai hati akan terus meminta makanan yang sama. Padahal, pola makan yang itu-itu saja berisiko menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi dalam jangka panjang.

Untuk anak, jeroan bukan makanan yang harus ditakuti, tetapi bukan juga makanan yang perlu dikonsumsi setiap hari. Dalam jumlah yang wajar, terutama hati, jeroan dapat menjadi sumber nutrisi yang sangat baik bagi anak. Kuncinya tetap sama seperti prinsip gizi anak secara umum, yaitu variasi, keseimbangan, dan porsi yang sesuai.

Referensi

World Health Organization. "Guideline: Daily Iron Supplementation in Infants and Children." Geneva: WHO, 2016. Diakses Mei 2026.

National Institutes of Health Office of Dietary Supplements. “Vitamin A Fact Sheet for Health Professionals.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. “Micronutrient Deficiencies: Iron Deficiency Anaemia.” Diakses Mei 2026.

Food and Agriculture Organization of the United Nations. "Food-Based Dietary Guidelines." Diakses Mei 2026.

USDA FoodData Central. "Nutrient Profiles for Beef Liver, Chicken Liver, and Organ Meats." Diakses Mei 2026.

Robert D. Baker and Frank R. Greer, “Diagnosis and Prevention of Iron Deficiency and Iron-Deficiency Anemia in Infants and Young Children (0–3 Years of Age),” PEDIATRICS 126, no. 5 (October 6, 2010): 1040–50, https://doi.org/10.1542/peds.2010-2576.

Joyce C McCann and Bruce N Ames, “An Overview of Evidence for a Causal Relation Between Iron Deficiency During Development and Deficits in Cognitive or Behavioral Function,” American Journal of Clinical Nutrition 85, no. 4 (April 1, 2007): 931–45, https://doi.org/10.1093/ajcn/85.4.931.

European Food Safety Authority. “Tolerable Upper Intake Level for Vitamin A.” Diakses Mei 2026.

World Health Organization. "Complementary Feeding of Infants and Young Children." Geneva: WHO. Diakses Mei 2026.

American Academy of Pediatrics. "Guidance on Complementary Feeding and Iron-Rich Foods." Diakses Mei 2026.

Editorial Team

Related Article