- Interaksi intens dan repetitif dengan AI: Penggunaan selama berjam-jam tanpa jeda dapat memperkuat loop kognitif yang tidak sehat.
- Gaya respons AI yang afirmatif: Model AI sering dirancang untuk terdengar empatik dan tidak konfrontatif, yang berisiko memvalidasi delusi.
- Isolasi sosial dan stres psikologis: AI dapat menjadi substitusi hubungan manusia, terutama pada individu yang kesepian atau tertekan.
- Kerentanan klinis yang sudah ada: Riwayat skizofrenia, gangguan bipolar dengan fitur psikotik, atau trauma berat meningkatkan risiko.
Apa Itu AI Psychosis?

- AI psychosis bukan diagnosis resmi, tetapi fenomena klinis yang mulai banyak dilaporkan.
- Interaksi intens dan tidak terfilter dengan AI dapat memperburuk kerentanan psikosis.
- Literasi kesehatan mental dan desain AI yang aman menjadi kunci pencegahan.
Perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI) membawa perubahan besar dalam cara manusia mencari informasi, dukungan emosional, bahkan makna hidup. Dari chatbot yang menemani obrolan larut malam hingga sistem AI yang menjawab pertanyaan eksistensial, batas antara alat dan “teman bicara” kian kabur. Bagi sebagian orang, interaksi ini terasa membantu, sementara bagi sebagian lain justru memicu kebingungan yang lebih dalam.
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan klinis mulai menyoroti fenomena individu yang mengalami delusi, paranoia, atau distorsi realitas setelah interaksi intens dengan AI. Fenomena ini populer disebut AI psychosis atau psikosis akibat AI—istilah tidak resmi yang digunakan untuk menggambarkan episode psikosis yang dipicu atau diperburuk oleh penggunaan AI, terutama model bahasa generatif.
Walaupun belum diakui sebagai diagnosis medis tersendiri, tetapi AI psychosis mulai menjadi perhatian serius di kalangan psikiater dan peneliti kesehatan mental. Fenomena ini menantang cara kita memahami relasi antara manusia dan teknologi, sekaligus menuntut pendekatan yang lebih hati-hati dalam penggunaan AI di ruang personal dan klinis.
Apa itu AI psychosis?
AI psychosis merujuk pada kondisi ketika interaksi dengan sistem AI berkontribusi pada munculnya atau memburuknya gejala psikosis, seperti delusi, halusinasi, dan paranoia. Para klinisi menekankan bahwa AI bukan penyebab tunggal, melainkan pemicu dalam konteks kerentanan yang sudah ada, seperti riwayat gangguan psikotik, stres berat, atau isolasi sosial.
AI, terutama chatbot yang responsif dan persuasif, dapat memperkuat keyakinan yang tidak realistis dengan cara yang tampak meyakinkan dan konsisten, sehingga memperdalam distorsi realitas pada individu rentan.
Ada juga yang menyoroti bahasa natural AI dapat bertindak sebagai “cermin kognitif”, memvalidasi pikiran irasional alih-alih menantangnya secara terapeutik.
Penyebab dan pemicu potensial

Beberapa faktor yang berperan dalam munculnya AI psychosis meliputi:
Sebagian besar kasus yang dilaporkan terjadi pada individu dengan faktor risiko psikosis sebelumnya.
Dampak pada kesehatan mental dan tantangan diagnosis
Dampak AI psychosis dapat mencakup:
- Meningkatnya persecutory delusion (keyakinan salah bahwa seseorang sedang dikejar, disakiti, atau ditargetkan oleh orang lain, kelompok, atau institusi, padahal tidak ada bukti nyata yang mendukungnya) atau grandiositas (keyakinan berlebihan tentang diri sendiri yang tidak sesuai dengan kenyataan).
- Ketergantungan emosional pada AI.
- Penarikan diri dari relasi sosial nyata.
- Penundaan mencari bantuan profesional.
Tantangan utamanya adalah pengenalan dan diagnosis. AI psychosis belum tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR), sehingga tenaga kesehatan mental profesional harus menilai konteks penggunaan teknologi dalam asesmen psikosis secara menyeluruh. Gejala sering kali disalahartikan sebagai psikosis “biasa” tanpa mempertimbangkan peran AI sebagai faktor pemicu.
Mengelola dan mengatasi AI psychosis

Pendekatan penanganan menekankan prinsip yang sama dengan psikosis pada umumnya, dengan beberapa penyesuaian:
- Evaluasi klinis komprehensif, termasuk pola penggunaan AI.
- Pembatasan atau penghentian sementara interaksi dengan AI.
- Psikoterapi berbasis realitas, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) untuk psikosis.
- Farmakoterapi, jika diperlukan dan diresepkan oleh tenaga profesional mental.
- Edukasi literasi digital dan kesehatan mental.
Para ahli sepakat bahwa fenomena AI psychosis menuntut dua langkah besar ke depan. Pertama, penelitian longitudinal untuk memahami prevalensi dan mekanismenya secara lebih akurat. Kedua, desain AI yang lebih aman, termasuk guardrails untuk mendeteksi dan merespons indikasi delusi.
Selain itu, perlu adanya kolaborasi antara pengembang teknologi dan profesional kesehatan mental agar AI tidak menjadi penguat gangguan psikologis.
AI psychosis merupakan fenomena yang mulai terlihat di praktik klinis nyata. Ini mengingatkan bahwa teknologi, secerdas apa pun, tidak pernah netral dalam konteks kesehatan mental manusia. Di masa depan, tantangannya bukan hanya membuat AI makin pintar, tetapi juga makin aman dan sadar akan batasnya. Dengan literasi, regulasi, dan empati yang tepat, AI tetap bisa menjadi alat bantu, bukan pemicu krisis psikologis.
Referensi
"AI and psychosis: What to know, what to do." Michigan Medicine. Diakses Januari 2026.
Per Carlbring and Gerhard Andersson, “Commentary: AI Psychosis Is Not a New Threat: Lessons From Media-induced Delusions,” Internet Interventions 42 (October 15, 2025): 100882, https://doi.org/10.1016/j.invent.2025.100882.
"Reports of ‘AI psychosis’ are emerging — here’s what a psychiatric clinician has to say." The Conversation. Diakses Januari 2026.
"The Emerging Problem of 'AI Psychosis'." Psychology Today. Diakses Januari 2026.
"AI Psychosis: How Artificial Intelligence May Trigger Delusions and Paranoia." News Medical Life Sciences. Diakses Januari 2026.
"AI Psychosis Explained: Signs, Risk Factors, and Treatment." Charlie Health. Diakses Januari 2026.

















