Pada sebagian pasien, pemeriksaan menunjukkan bahwa bakteri TBC kebal terhadap satu atau beberapa obat. Kondisi ini disebut TBC resistan obat. Regimennya berbeda dari TBC sensitif obat, sehingga dokter memerlukan hasil pemeriksaan resistansi untuk memilih kombinasi yang tepat.
Salah satu kombinasi yang digunakan untuk pasien TBC resistan obat yang memenuhi syarat adalah BPaLM, yang terdiri dari bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moksifloksasin.
Jika ditemukan resistansi terhadap obat golongan fluoroquinolone seperti moksifloksasin, regimen dapat berubah menjadi BPaL, yaitu bedaquiline, pretomanid, dan linezolid untuk kondisi tertentu.
Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru pada September 2026 mempertahankan BPaLM selama enam bulan sebagai pilihan bagi banyak pasien dengan TBC resistan rifampisin atau TBC multidrug-resistant yang memenuhi syarat.
Untuk TBC paru pre-XDR, yaitu TBC resistan obat yang juga kebal terhadap fluoroquinolone, WHO menyesuaikan rekomendasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Pilihannya dapat mencakup BPaL atau BPaLC, yaitu BPaL dengan tambahan clofazimine.
Regimen dan kelayakan pasien harus ditentukan oleh tim yang menangani TBC resistan obat.
TBC resistan obat bukan berarti selalu terjadi karena pasien tidak disiplin minum obat. Seseorang juga bisa tertular bakteri yang sejak awal sudah kebal terhadap obat tertentu. Namun, minum obat tidak teratur atau menghentikannya tanpa arahan dokter dapat mengganggu keberhasilan pengobatan.