1. Kelainan kromosom pada janin
Ini adalah penyebab paling umum.
Menurut penelitian, sekitar setengah dari kasus keguguran trimester pertama disebabkan oleh kelainan kromosom yang terjadi saat pembuahan atau pembelahan sel awal. Kelainan ini biasanya terjadi secara acak. Artinya, kondisi tersebut bukan akibat makanan tertentu, aktivitas fisik, stres sesaat, atau kesalahan yang dilakukan ibu.
Tubuh secara alami menghentikan perkembangan kehamilan ketika embrio tidak dapat berkembang secara normal.
2. Usia ibu yang lebih tua
Usia merupakan salah satu faktor risiko yang paling kuat. Penelitian menemukan bahwa risiko keguguran meningkat seiring bertambahnya usia.
Perkiraannya:
Usia 20–24 tahun: sekitar 10 persen.
Usia 35 tahun: sekitar 20 persen.
Usia 40 tahun: sekitar 40 persen.
Usia 45 tahun ke atas: lebih dari 50 persen.
Peningkatan ini terutama berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan kelainan kromosom pada sel telur.
3. Riwayat keguguran berulang
Mengalami satu kali keguguran tidak berarti seseorang akan kembali mengalami keguguran. Namun, risiko memang meningkat pada perempuan yang memiliki riwayat beberapa kali keguguran berturut-turut. Karena itu, evaluasi medis biasanya dianjurkan setelah mengalami keguguran berulang.
4. Penyakit tertentu
Beberapa kondisi kesehatan dapat meningkatkan risiko keguguran, antara lain:
Pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama kehamilan sangat penting.
5. Merokok dan konsumsi alkohol
Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa:
Merokok meningkatkan risiko keguguran.
Paparan asap rokok juga dapat berdampak negatif.
Konsumsi alkohol selama kehamilan berkaitan dengan berbagai komplikasi, termasuk keguguran.
6. Obesitas
Beberapa studi menemukan bahwa obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko keguguran. Mekanismenya diduga melibatkan peradangan kronis, gangguan hormonal, dan perubahan metabolik yang dapat memengaruhi perkembangan kehamilan.