Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Menyusui Menurunkan Risiko Kanker Payudara?
ilustrasi seorang ibu sedang menyusui bayinya (magnific.com/magnific)
  • Menyusui dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara, dan manfaatnya cenderung bertambah seiring makin lama total durasi menyusui.

  • Analisis besar menemukan setiap tambahan 12 bulan menyusui sepanjang hidup berkaitan dengan penurunan relatif risiko kanker payudara sekitar 4,3 persen.

  • Menyusui tidak membuat seseorang kebal terhadap kanker payudara karena usia, genetik, alkohol, berat badan, riwayat reproduksi, dan faktor lainnya tetap berperan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menyusui sering dibicarakan dari sisi manfaatnya untuk bayi. Namun, proses ini juga membawa perubahan besar pada tubuh ibu, termasuk jaringan payudara dan sistem hormonal.

Salah satu manfaat jangka panjang yang cukup konsisten ditemukan dalam penelitian adalah risiko kanker payudara yang sedikit lebih rendah pada perempuan yang menyusui.

1. Makin lama total menyusui, perlindungannya cenderung bertambah

Salah satu bukti paling kuat berasal dari analisis kolaboratif terhadap 47 penelitian dari 30 negara, yang melibatkan 50.302 perempuan dengan kanker payudara dan 96.973 perempuan tanpa kanker payudara.

Temuannya, setiap tambahan 12 bulan total durasi menyusui sepanjang hidup berkaitan dengan penurunan relatif risiko kanker payudara sekitar 4,3 persen.

Durasi tersebut bersifat kumulatif. Artinya, tidak harus berasal dari satu anak. Seseorang yang menyusui dua anak masing-masing selama enam bulan, misalnya, memiliki total durasi sekitar 12 bulan.

International Agency for Research on Cancer (IARC) menyebut hal serupa, bahwa setiap tambahan lima bulan total menyusui diperkirakan berkaitan dengan penurunan risiko sekitar 2 persen.

Studi yang lebih baru juga menguatkan pola tersebut. Metaanalisis pada 2026 terhadap 23 studi observasional menemukan perempuan yang tidak pernah menyusui memiliki risiko kanker payudara lebih tinggi dibanding mereka yang pernah menyusui, sementara durasi menyusui yang lebih panjang dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah.

Namun, studi terbaru tersebut memiliki heterogenitas yang cukup tinggi dan seluruh penelitian yang dianalisis bersifat case-control. Karena itu, besarnya penurunan risiko tidak bisa dianggap sebagai angka yang berlaku sama untuk setiap perempuan.

2. Kenapa menyusui mungkin menurunkan risiko kanker?

Selama menyusui, menstruasi biasanya berhenti sementara atau menjadi lebih jarang. Akibatnya, jumlah siklus menstruasi dan paparan hormon reproduksi seperti estrogen sepanjang hidup dapat berkurang. Paparan estrogen yang lebih lama merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko beberapa jenis kanker payudara.

Jaringan payudara juga mengalami perubahan besar selama kehamilan dan menyusui. Sel-sel payudara berkembang dan berdiferensiasi agar mampu menghasilkan ASI. Setelah masa menyusui berakhir, jaringan tersebut mengalami proses involution, yaitu perombakan yang mengembalikan kelenjar payudara menuju keadaan sebelum hamil.

Penelitian terbaru menunjukkan menyusui mungkin memengaruhi lingkungan jaringan payudara melalui perubahan hormonal, sistem imun, inflamasi, diferensiasi sel, dan regulasi epigenetik. Namun, detail mengenai mekanisme mana yang paling menentukan efek perlindungan tersebut masih terus diteliti.

3. Efeknya mungkin terlihat pada berbagai tipe kanker payudara

ilustrasi menemani pasangan saat menyusui (pexels.com/William Fortunato)

Kanker payudara bukan satu penyakit yang seragam. Tumor dapat dibedakan berdasarkan keberadaan reseptor estrogen, progesteron, dan HER2.

Sebuah metaanalisis terhadap 27 penelitian dengan lebih dari 36 ribu kasus kanker payudara menemukan bahwa menyusui dikaitkan dengan penurunan risiko kanker yang tidak memiliki reseptor estrogen dan progesteron. Hubungannya terlihat lebih kuat pada kanker payudara tripel negatif: perempuan yang pernah menyusui memiliki odds sekitar 22 persen lebih rendah mengalaminya dibanding yang tidak pernah menyusui.

Metaanalisis lain yang menilai 75 studi juga menemukan bahwa menyusui secara konsisten berkaitan dengan risiko lebih rendah pada berbagai subtipe kanker payudara.

Temuan ini penting karena kanker payudara tripel negatif cenderung lebih agresif dan pilihan terapi hormonal tidak dapat digunakan pada kanker jenis tersebut.

Namun, tidak berarti menyusui dapat memastikan seorang perempuan terhindar dari kanker payudara tripel negatif atau tipe kanker payudara lainnya.

4. Menyusui bukan jaminan bebas kanker payudara

Menyusui hanyalah salah satu dari banyak faktor yang berkaitan dengan risiko. Risiko kanker payudara juga dipengaruhi oleh bertambahnya usia, obesitas, konsumsi alkohol, merokok, riwayat reproduksi, terapi hormon pascamenopause, riwayat keluarga, serta mutasi gen tertentu seperti BRCA1, BRCA2, dan PALB2.

Bahkan, sekitar 80 persen kanker payudara terjadi pada perempuan yang tidak memiliki faktor risiko spesifik selain jenis kelamin perempuan dan bertambahnya usia.

Karena itu, seorang ibu yang menyusui bertahun-tahun tetap dapat mengalami kanker payudara, sedangkan perempuan yang tidak dapat atau memilih tidak menyusui belum tentu akan mengalaminya.

Kesimpulannya, menyusui dapat menurunkan risiko, tetapi bukan bentuk perlindungan mutlak. WHO merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan dan melanjutkan menyusui bersama MPASI hingga usia 2 tahun atau lebih. Rekomendasi tersebut didasarkan pada berbagai manfaat kesehatan untuk ibu dan anak, bukan semata-mata untuk mencegah kanker payudara.

Referensi

World Health Organization, “Breastfeeding,” diakses Agustus 2026.

International Agency for Research on Cancer, “European Code against Cancer 4th Edition: Breastfeeding and Cancer,” diakses Agustus 2026.

Collaborative Group on Hormonal Factors in Breast Cancer, “Breast Cancer and Breastfeeding: Collaborative Reanalysis of Individual Data from 47 Epidemiological Studies in 30 Countries, Including 50,302 Women with Breast Cancer and 96,973 Women without the Disease,” The Lancet 360, no. 9328 (2002): 187–195, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(02)09454-0.

“Effect of Breastfeeding on the Risk of Breast Cancer: A Meta-Analysis of Observational Studies,” 2026.

American Cancer Society, “Breast Cancer Risk Factors You Can Change,” diakses Agustus 2026.

Aleksandra Muszyńska et al., “Epigenetic and Immune Mechanisms Linking Breastfeeding to Lower Breast Cancer Rates,” Medical Science Monitor 30 (2024): e945451, https://doi.org/10.12659/MSM.945451.

Marilie D. Islami et al., “Breastfeeding and Breast Cancer Risk by Receptor Status—A Systematic Review and Meta-Analysis,” Annals of Oncology 26, no. 12 (2015): 2398–2407.

“Association of Reproductive Risk Factors and Breast Cancer Molecular Subtypes: A Systematic Review and Meta-Analysis,” 2023.

World Health Organization, “Breast Cancer,” diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article