Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Payudara Kecil Berarti ASI Sedikit? Ini Faktanya
ilustrasi ibu menyusui bayinya (IDN Times/NRF)
  • Ukuran payudara yang kecil tidak otomatis berarti produksi ASI sedikit. Ukuran luar payudara tidak dapat digunakan untuk mengukur kemampuan menghasilkan ASI.

  • Produksi ASI lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan jaringan kelenjar, hormon, serta seberapa sering dan efektif ASI dikeluarkan dari payudara.

  • Ada kondisi langka berupa hipoplasia payudara atau insufficient glandular tissue yang dapat menyebabkan produksi ASI rendah, tetapi kondisi tersebut tidak dapat ditentukan hanya dari ukuran payudara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di minggu-minggu awal setelah melahirkan, perubahan kecil pada tubuh dapat mudah menjadi sumber kekhawatiran. Salah satunya muncul ketika seorang ibu melihat ukuran payudaranya yang kecil dan khawatir ini akan memengaruhi ASI.

Payudara terdiri dari berbagai jaringan, terutama jaringan kelenjar yang berperan dalam produksi ASI dan jaringan lemak yang ikut menentukan ukuran serta bentuk payudara. Karena proporsi keduanya sangat bervariasi pada setiap perempuan, ukuran yang terlihat dari luar tidak menunjukkan secara langsung seberapa banyak ASI yang dapat diproduksi.

1. Payudara besar tidak otomatis menghasilkan lebih banyak ASI

Penelitian menggunakan ultrasonografi pada 21 perempuan yang sedang menyusui menemukan proporsi jaringan kelenjar dan jaringan lemak berbeda lebar antara satu perempuan dan perempuan lainnya. Menariknya, jumlah jaringan kelenjar, jumlah saluran ASI, dan ukuran saluran tersebut tidak berhubungan dengan produksi ASI pada kelompok perempuan dengan laktasi yang sudah berjalan baik.

Tinjauan terhadap 25 tahun penelitian laktasi juga menunjukkan bahwa anatomi payudara memang bervariasi. Pada perempuan yang secara fisiologis dapat menyusui normal, produksi ASI ditentukan oleh interaksi antara anatomi ibu, kebutuhan bayi, serta seberapa sering dan efektif ASI dikeluarkan.

2. ASI dibuat di jaringan kelenjar, bukan jaringan lemak

ASI diproduksi oleh sel-sel sekretori di dalam struktur kecil bernama alveoli, yang merupakan bagian dari jaringan kelenjar payudara. ASI kemudian mengalir melalui saluran menuju puting.

Jaringan lemak, sebaliknya, berkontribusi terhadap bentuk dan volume payudara, tetapi tidak menghasilkan ASI. Karena jumlah jaringan lemak dapat sangat berbeda antarperempuan, dua payudara dengan ukuran berbeda dapat memiliki kemampuan laktasi yang sama-sama memadai.

Studi pada perempuan menyusui pada 2024 juga tidak menemukan hubungan signifikan antara ukuran payudara dengan kandungan energi, protein, maupun lemak dalam ASI. Para peneliti menyimpulkan bahwa ukuran payudara besar tidak diperlukan untuk menghasilkan ASI dengan kandungan makronutrien yang memadai.

3. Fokuslah pada seberapa efektif ASI dikeluarkan

ilustrasi ibu menyusui (IDN Times/NRF)

Setelah produksi ASI terbentuk, payudara bekerja mengikuti mekanisme yang sangat responsif terhadap kebutuhan bayi.

Ketika bayi menyusu dan ASI dikeluarkan secara efektif, payudara mendapat sinyal untuk terus memproduksi ASI. Sebaliknya, apabila ASI jarang atau tidak efektif dikeluarkan, produksi dapat menurun. Menyusui, memerah, atau memompa ASI memberi sinyal kepada payudara untuk terus menghasilkan susu.

Penelitian fisiologi laktasi juga menunjukkan bahwa laju sintesis ASI dipengaruhi oleh seberapa banyak ASI telah dikeluarkan dari payudara. Produksi ASI merupakan sistem dinamis yang menyesuaikan dengan pengosongan payudara dan kebutuhan bayi.

Ini pula sebabnya masalah seperti pelekatan (latch) yang tidak efektif, frekuensi menyusu terlalu sedikit, atau bayi kesulitan mengisap dapat berdampak lebih besar terhadap suplai ASI. Kurangnya stimulasi payudara merupakan penyebab yang umum dari rendahnya produksi ASI.

4. Bagaimana dengan kapasitas payudara menyimpan ASI?

Payudara memiliki kapasitas penyimpanan ASI. Kapasitas ini berbeda-beda antara satu ibu dan ibu lainnya. Namun, kapasitas penyimpanan tersebut tidak sama dengan total kemampuan memproduksi ASI dalam sehari, dan tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat ukuran payudara dari luar.

Penelitian menunjukkan produksi ASI dapat menyesuaikan dengan pola pengeluaran ASI. Bayi juga memiliki pola menyusu yang sangat bervariasi. Dalam penelitian terhadap 71 ibu yang memberikan ASI eksklusif, frekuensi menyusu berkisar antara 6 hingga 18 kali dalam 24 jam.

5. Ada pengecualian, yaitu kondisi insufficient glandular tissue

Ada kondisi berbeda yang disebut hipoplasia payudara atau insufficient glandular tissue (IGT), ketika jaringan kelenjar yang berkembang memang tidak mencukupi untuk menghasilkan suplai ASI penuh.

Hipoplasia payudara dapat memiliki ciri seperti bentuk tubular, jarak antarpayudara yang lebar, atau asimetri yang nyata. Sebagian perempuan dengan kondisi ini tidak mampu menghasilkan ASI sebanyak yang dibutuhkan bayi.

Akan tetapi, payudara kecil saja bukan bukti seseorang memiliki IGT.

Bahkan bukti mengenai cara mengenali hipoplasia payudara masih terbatas. Sebuah tinjauan sistematis pada 2021 hanya menemukan tujuh studi yang memenuhi kriteria, mencakup 42 perempuan. Para peneliti menyimpulkan hubungan antara hipoplasia payudara dan keberhasilan menyusui masih kurang diteliti serta dibutuhkan penelitian lebih baik untuk memastikan reliabilitas tanda-tanda fisiknya.

Riwayat operasi payudara juga dapat memengaruhi produksi ASI apabila prosedur tersebut merusak atau menghilangkan jaringan kelenjar, saluran ASI, maupun saraf yang berperan dalam laktasi.

6. Jangan menilai kecukupan ASI dari ukuran atau rasa penuh payudara

ilustrasi seorang ibu sedang menyusui bayinya (magnific.com/freepik)

Cara yang lebih berguna adalah melihat buah hati.

Beberapa tanda bayi memperoleh cukup ASI antara lain menyusu secara teratur, terdengar atau terlihat menelan, berat badan bertambah sesuai pemantauan, dan menghasilkan urine serta tinja dalam jumlah yang sesuai usia. Pada sekitar hari kelima, bayi umumnya sudah menghasilkan sedikitnya sekitar enam popok basah sehari.

Sebaliknya, bayi yang terus kehilangan berat badan setelah hari kelima, jarang buang air kecil, sulit melekat pada payudara, tampak sangat mengantuk atau lemas, atau tidak terdengar menelan ketika menyusu perlu dievaluasi oleh dokter.

Pertumbuhan bayi, transfer ASI saat menyusu, dan pola buang air memberikan informasi yang jauh lebih berguna.

Kesimpulannya, payudara kecil tidak berarti produksi ASI sedikit. Pada laktasi yang normal, faktor penting adalah perkembangan dan fungsi jaringan penghasil ASI, hormon, kemampuan bayi mengisap dan memindahkan ASI, serta pengeluaran ASI yang cukup sering dan efektif.

Ada kondisi tertentu, seperti hipoplasia jaringan kelenjar, operasi payudara sebelumnya, atau masalah hormonal, yang memang dapat mengurangi produksi ASI. Jika ada kekhawatiran tentang suplai, parameter yang lebih penting adalah pertumbuhan bayi dan tanda bahwa bayi menyusu dengan baik.

Referensi

Donna T. Ramsay, Jacqueline C. Kent, R. A. Hartmann, and Peter E. Hartmann, “Anatomy of the Lactating Human Breast Redefined with Ultrasound Imaging,” Journal of Anatomy 206, no. 6 (2005): 525–34, https://doi.org/10.1111/j.1469-7580.2005.00417.x.

Donna Tracy Geddes et al., “25 Years of Research in Human Lactation: From Discovery to Translation,” Nutrients 13, no. 9 (2021): 3071, https://doi.org/10.3390/nu13093071.

Magdalena Babiszewska-Aksamit et al., “Breast Size in Lactating Women and the Content of Macronutrients in Human Milk,” American Journal of Human Biology 36, no. 6 (2024): e24055, https://doi.org/10.1002/ajhb.24055.

Susan E. Daly and Peter E. Hartmann, “Infant Demand and Milk Supply. Part 2: The Short-Term Control of Milk Synthesis in Lactating Women,” Journal of Human Lactation 11, no. 1 (1995): 27–37, https://doi.org/10.1177/089033449501100120.

Jacqueline C. Kent et al., “Volume and Frequency of Breastfeedings and Fat Content of Breast Milk throughout the Day,” Pediatrics 117, no. 3 (2006): e387–95, https://doi.org/10.1542/peds.2005-1417.

Renee L. Kam, Lisa H. Amir, and Meabh Cullinane, “Is There an Association Between Breast Hypoplasia and Breastfeeding Outcomes? A Systematic Review,” Breastfeeding Medicine 16, no. 8 (2021): 594–602, https://doi.org/10.1089/bfm.2021.0032.

Centers for Disease Control and Prevention, “Newborn Breastfeeding Basics,” diakses Agustus 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Breast Surgery and Breastfeeding,” diakses Agustus 2026.

American College of Obstetricians and Gynecologists, “Breastfeeding Challenges,” Committee Opinion, 2021.

Curated For You

Editorial Team

Related Article