Anak dapat mengalami mata perih atau berair, hidung dan tenggorokan terasa tidak nyaman, serta batuk. Gejala ini dapat muncul akibat iritasi asap dan tidak selalu berarti anak mengalami infeksi.
Asap dapat memicu mengi dan kesulitan bernapas, terutama pada anak yang memiliki asma atau masalah kesehatan kronis.
Bayi yang belum bisa menjelaskan keluhannya mungkin tampak gelisah, lebih sulit tidur, atau kesulitan menyusu saat napasnya terganggu.
Dalam studi terhadap anak di bawah 5 tahun dari 48 negara berpendapatan rendah dan menengah, setiap kenaikan 1 µg/m³ PM2.5 yang berasal dari kebakaran berkaitan dengan kenaikan risiko gejala infeksi saluran pernapasan akut sebesar 3,2 persen.
Tinjauan sistematis yang terbit pada 2025 juga menemukan bahwa sebagian besar studi yang ditelaah melaporkan hubungan antara paparan asap kebakaran dan dampak buruk pada pernapasan anak.