Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Bahaya Makan Daging Kucing, Tidak untuk Atasi Diabetes

ilustrasi kucing (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi kucing (pexels.com/cottonbro studio)

Seorang pemilik kos di Semarang diamankan polisi pasca ketahuan mengonsumsi daging kucing. Kejadian tersebut terungkap setelah penghuni kos mengaku kerap mendapati kucing di sekitar kos menghilang secara tiba-tiba. Berdasar pengakuan pemilik kos, ia makan daging kucing untuk diabetes.

Jangan lantas salah mengira daging kucing bisa dipakai sebagai obat diabetes, lho. Sebaliknya, terdapat bahaya makan daging kucing yang berisiko memengaruhi kesehatan secara jangka panjang. Hal tersebut juga lah yang menjadi alasan kenapa kucing sebaiknya cukup dijadikan peliharaan. 

Bahaya makan daging kucing

Seperti yang diketahui sebagian besar populasi manusia, kucing merupakan hewan peliharaan. Di Indonesia, pengategorian tersebut diatur dalam UU No. 41 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Undang-undang tersebut membedakan ternak dan hewan peliharaan. Secara umum, daging kucing bukan produk yang masuk kriteria untuk dikonsumsi manusia. 

Oleh karenanya, konsumsi daging kucing juga tidak mendapat jaminan keamanan pangan. Kucing bukan termasuk hewan yang bisa disembelih di Rumah Potong Hewan, pun tidak ada standarisasi pemotongannya,  sehingga tidak bisa dipastikan aman, sehat, dan utuh. Terlepas dari itu, konsumsi daging kucing pun dikatakan sangat tidak etis.

Tidak mendapat jaminan keamanan pangan, daging kucing berisiko memberikan efek negatif pada tubuh. Alih-alih dapat mengatasi diabetes, konsumsi daging kucing justru berisiko memunculkan efek ini pada kesehatan secara jangka panjang.

1. Infeksi toksoplasmosis

ilustrasi bakteri (freepik.com/freepik)
ilustrasi bakteri (freepik.com/freepik)

Sebuah penelitian yang dipublikasi dalam Anthrozoös membeberkan konsumsi kucing domestik di Madagaskar dan kaitannya dengan implikasi kesehatan. Dalam penelitian tersebut, dikatakan bahwa salah satu risiko utamanya adalah infeksi toksoplasmosis. 

FYI, toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Meski hewan lain juga memiliki risiko paparan parasit ini, kucing diketahui menjadi inang utama T. gondii dengan berkembang biak di saluran ususnya. 

Pada kebanyakan orang, infeksi ini tidak menunjukkan gejala. Akan tetapi, risiko efek samping meningkat pada individu yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah. Parasit ini dapat memicu kista dalam tubuh dan membuat sakit di kemudian hari. 

Selain itu, infeksi toksoplasmasis juga berbahaya bagi ibu hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan. Parasit ini dapat menular melalui plasenta ke janin dan meningkatkan risiko keguguran, lahir mati, bahkan masalah kesehatan serius pada anak. 

2. Infeksi bakteri Clostridium botulinum

Masih dari sumber penelitian yang sama, bahaya makan daging kucing juga meliputi risiko infeksi bakteri Clostridium botulinum. Bakteri tersebut dikatakan dapat menghasilkan racun berbahaya (toksin botulinum) dan memicu kondisi botulisme. Meski relatif jarang terjadi, infeksi yang dapat menular melalui makanan ini terhitung serius. 

Bakteri Clostridium botulinum menyebabkan toksin botulinum yang terbentuk dalam makanan terkontaminasi. Parahnya lagi, spora yang dihasilkan oleh bakteri tersebut tahan panas dan tersebar luas di lingkungan. Termasuk anaerobik, bakteri ini berkecambah, tumbuh, dan mengeluarkan racun saat tidak ada oksigen. 

Apa efeknya? Infeksi botulisme dapat memunculkan gejala sembelit, kehilangan nafsu makan, lemas, hingga kehilangan kendali kepala secara tiba-tiba. Seseorang mungkin terlihat seperti mabuk. Jika tidak diobati, infeksi ini dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan meninggal dunia.

3. Penyakit Lyme

ilustrasi demam (freepik.com/freepik)
ilustrasi demam (freepik.com/freepik)

Studi terkait menyebutkan bahwa bahaya makan daging kucing yang patut diperhatikan adalah penyakit Lyme. Risiko ini patut diperhatikan, terutama bagi ibu hamil dan bayi karena dikatakan dapat memengaruhi persendian, jantung, dan sistem saraf.

Penyakit Lyme sendiri merupakan infeksi akibat bakteri Borrelia burgdorferi atau Borrelia mayonii. Kedua bakteri tersebut disebarkan melalui gigitan kutu. Kucing sendiri tidak menularkan Lyme pada manusia. Akan tetapi, kutu yang berpindah dari kucing ke manusia berisiko menyebabkan masalah kesehatan ini.

Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, kelelahan, hingga ruam kulit khas yang disebut eritema migrans. Masalah kesehatan ini bisa diobati, tetapi mungkin menyebabkan efek samping jangka panjang.

4. Infeksi Meat Borne Disease

Seperti dijelaskan di awal, kucing bukanlah hewan ternak ataupun hewan konsumsi, sehingga tidak memiliki standarisasi jaminan keamanan pangan. Memaksakan makan daging kucing sebagai pengobatan diabetes jelas keliru. Alih-alih diabetes sembuh, daging hewan nonternak mungkin menyebarkan meat borne disease alias penyakit yang ditimbulkan oleh kontaminasi bakteri pada daging yang dikonsumsi. 

Infeksi yang dimunculkan dari masalah ini pun beragam, lho. Mulai dari tuberculosis, brucellosis, salmonellosis, staphylococcal meat intoxication, taeniasis, trichinosis, sampai clostridiosis, seluruhnya berdampak buruk bagi kesehatanmu. 

Sebagai contoh, salmonellosis atau infeksi salmonella dapat memunculkan gejala diare, demam, hingga rasa sakit pada perut. Begitu juga brucellosis yang menyebabkan demam, berkeringat, sakit punggung, dan fisik yang melemah. 

Bahaya makan daging kucing di atas lebih nyata daripada manfaatnya, lho. Pasalnya, belum ada publikasi yang menyatakan bahwa daging kucing bisa obati diabetes. Konsumsi daging hewan peliharaan ini pun tidak etis dan merupakan bentuk pelanggaran kesejahteraan hewan.

Referensi:

Czaja, Raymond, et al. “Consumption of Domestic Cat in Madagascar: Frequency, Purpose, and Health Implications.” Anthrozoös 28, no. 3 (September 2, 2015): 469–82
"Would you eat your pet cat?". Science Direct. Diakses Agustus 2024
"Bukan Ternak Pangan, Bahaya Konsumsi Daging Kucing". Universitas Airlangga. Diakses Agustus 2024
"Food Borne Disease". Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada. Diakses Agustus 2024
"Toxoplasmosis". Cleveland Clinic. Diakses Agustus 2024
"Botulism". World Health Organization. Diakses Agustus 2024
"Foodborne Botulism Fact Sheet". Alaska Division of Public Health. Diakses Agustus 2024
"About Lyme Disease". Centers of Disease Control and Prevention. Diakses Agustus 2024
"Salmonella". Centers of Disease Control and Prevention. Diakses Agustus 2024
"Lyme Disease in Cats". PetMD. Diakses Agustus 2024

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Laili Zain Damaika
Nadia Agatha Pramesthi
3+
Laili Zain Damaika
EditorLaili Zain Damaika
Follow Us