Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
9 Bakteri yang Makin Kebal terhadap Antibiotik, Ada E. coli
Bakteri Escherichia coli. (commons.wikimedia.org/NIAID)
  • Bukan tubuh manusia yang menjadi “kebal” terhadap antibiotik, melainkan bakteri yang mengalami atau memperoleh mekanisme resistansi sehingga obat tertentu tidak lagi efektif.

  • WHO melaporkan sekitar 1 dari 6 infeksi bakteri yang dikonfirmasi laboratorium secara global pada 2023 resisten terhadap antibiotik. Di kawasan Asia Tenggara WHO, proporsinya sekitar 1 dari 3 infeksi yang dilaporkan.

  • E. coli, Klebsiella pneumoniae, MRSA, Acinetobacter baumannii, hingga Neisseria gonorrhoeae termasuk bakteri dengan bentuk resistansi yang menjadi perhatian kesehatan global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Infeksi bakteri yang biasanya dapat ditangani dengan antibiotik tertentu suatu hari sulit disembuhkan karena bakteri penyebabnya tidak lagi sensitif terhadap obat tersebut. Dokter kemudian perlu mencari antibiotik lain berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Inilah gambaran sederhana resistansi antibiotik.

Resistansi antibiotik terjadi ketika bakteri memiliki atau memperoleh kemampuan bertahan terhadap obat yang sebelumnya mampu membunuh atau menghentikan pertumbuhannya. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat mempercepat seleksi serta penyebaran bakteri resisten.

Skalanya sudah besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sekitar 1 dari 6 infeksi bakteri terkonfirmasi laboratorium di dunia pada 2023 resisten terhadap antibiotik yang dipantau. Angkanya mencapai sekitar 1 dari 3 infeksi yang dilaporkan di kawasan Asia Tenggara dan Mediterania Timur WHO.

Penelitian Global Burden of Disease memperkirakan pada 2021 terdapat 4,71 juta kematian yang berhubungan dengan resistansi antimikroba (AMR) bakteri, termasuk 1,14 juta kematian yang secara langsung dapat dikaitkan dengan resistansi tersebut.

Lantas, bakteri apa saja yang perlu diketahui?

Catatan penting: tidak semua bakteri dari spesies berikut otomatis resisten. Daftar ini berfokus pada patogen yang sering menyebabkan penyakit dan bentuk resistansinya menjadi perhatian WHO.

1. Escherichia coli

E. coli secara normal hidup di usus manusia, tetapi beberapa jenisnya dapat menyebabkan penyakit. Bakteri ini juga merupakan penyebab penting infeksi saluran kemih dan infeksi aliran darah.

Salah satu masalahnya adalah munculnya E. coli penghasil extended-spectrum beta-lactamase (ESBL). Enzim tersebut mampu merusak sejumlah antibiotik beta-laktam sehingga infeksi menjadi lebih sulit ditangani.

E. coli juga termasuk Enterobacterales yang dapat mengalami resistansi terhadap sefalosporin generasi ketiga dan bahkan karbapenem—dua kelompok yang menjadi perhatian besar WHO.

WHO menyebut E. coli dan K. pneumoniae sebagai dua bakteri Gram-negatif resisten utama yang ditemukan pada infeksi aliran darah. Di Indonesia sendiri, telah dilaporkan strain E. coli yang resisten.

2. Klebsiella pneumoniae

K. pneumoniae dapat menyebabkan pneumonia, infeksi aliran darah, infeksi luka, meningitis, dan berbagai infeksi terkait pelayanan kesehatan. Bakteri ini juga makin banyak ditemukan dengan resistansi terhadap antibiotik penting, termasuk karbapenem.

Dalam studi yang mendasari daftar patogen prioritas WHO 2024, K. pneumoniae yang resisten terhadap karbapenem bahkan memperoleh skor prioritas tertinggi di antara bakteri yang dinilai.

Karbapenem biasanya digunakan untuk sejumlah infeksi berat akibat bakteri yang sudah resisten terhadap antibiotik lain.

Strain K. pneumoniae yang resisten juga telah dilaporkan di Indonesia.

3. Staphylococcus aureus resisten metisilin

Bakteri Staphylococcus aureus (phil.cdc.gov/Janice Haney Carr)

Staphylococcus aureus sebenarnya sangat dekat dengan manusia. Bakteri ini dapat hidup di kulit atau hidung tanpa menyebabkan penyakit. Namun, ketika menyebabkan infeksi, dampaknya dapat berkisar dari infeksi kulit hingga pneumonia, infeksi aliran darah, dan sepsis.

Salah satu bentuknya yang paling terkenal adalah methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). MRSA resisten terhadap metisilin dan sebagian besar antibiotik beta-laktam standar.

Dari tahun 1990 hingga 2021, MRSA mengalami peningkatan terbesar dalam kematian akibat resistansi di antara kombinasi patogen-obat yang dianalisis. Pada tahu 2021 diperkirakan terdapat sekitar 130.000 kematian yang secara langsung dapat dikaitkan dengan MRSA.

4. Acinetobacter baumannii

Bakteri ini menjadi masalah serius terutama di rumah sakit. A. baumannii dapat menyebabkan pneumonia, infeksi aliran darah, infeksi saluran kemih, dan infeksi luka. Sebagian orang juga dapat membawa bakteri tersebut tanpa mengalami penyakit (disebut kolonisasi).

WHO menempatkan A. baumannii yang resisten karbapenem (CRAB) dalam kategori prioritas kritis, kategori tertinggi dalam daftar WHO tahun 2024. Bakteri ini terutama menjadi ancaman bagi pasien yang sakit berat dan menjalani perawatan kesehatan.

WHO juga mencatat adanya strain A. baumannii resisten yang telah dilaporkan di Indonesia.

5. Pseudomonas aeruginosa

Bakteri ini banyak ditemukan di lingkungan, termasuk tanah dan air, tetapi infeksi pada manusia terutama menjadi masalah di fasilitas kesehatan.

P. aeruginosa dapat menyebabkan pneumonia serta infeksi aliran darah, saluran kemih, dan luka pascaoperasi. Risiko lebih tinggi antara lain pada pasien yang menggunakan ventilator, kateter, atau memiliki luka terbuka.

WHO memasukkan P. aeruginosa yang resisten karbapenem sebagai patogen prioritas tinggi. Sebagian strain-nya bahkan bisa resisten terhadap banyak kelompok antibiotik sekaligus sehingga pilihan pengobatan menjadi makin sempit.

6. Enterococcus faecium

ilustrasi bakteri E. faecium (CDC/Janice Haney Carr)

Enterokokus dapat hidup di saluran cerna manusia, tetapi juga dapat menyebabkan infeksi, terutama pada pasien di fasilitas kesehatan.

Salah satu bentuk yang menjadi perhatian adalah vancomycin-resistant Enterococcus faecium (VRE). Vancomycin merupakan antibiotik penting untuk menangani sejumlah infeksi Gram-positif yang berat. Ketika bakteri sudah resisten terhadapnya, pilihan terapi menjadi lebih terbatas.

Infeksi Enterococcus dapat melibatkan saluran kemih, aliran darah, maupun luka operasi. WHO menempatkan E. faecium resisten vancomycin dalam kategori prioritas tinggi.

7. Neisseria gonorrhoeae

Bakteri penyebab gonore, Neisseria gonorrhoeae, menunjukkan bagaimana resistansi juga dapat mengancam pengobatan infeksi yang menyebar di masyarakat.

Selama beberapa dekade, bakteri ini telah mengembangkan resistansi terhadap berbagai antibiotik yang pernah digunakan untuk mengobati gonore, mulai dari penisilin dan tetrasiklin hingga fluorokuinolon dan makrolida.

WHO kini menempatkan N. gonorrhoeae yang resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga dan/atau fluorokuinolon dalam kelompok prioritas tinggi.

Ceftriaxone masih menjadi pilihan utama, tetapi munculnya strain dengan resistansi atau penurunan sensitivitas terhadap obat ini menjadi perhatian serius karena makin mempersempit pilihan pengobatan.

8. Salmonella Typhi dan Shigella

Salmonella Typhi merupakan penyebab demam tifoid, sedangkan Shigella menyebabkan shigellosis atau disentri basiler. WHO memasukkan S. Typhi dan Shigella yang resisten terhadap fluorokuinolon dalam kategori prioritas tinggi.

Kedua bakteri ini bahkan termasuk bakteri resisten penyebab infeksi yang didapat di masyarakat dengan peringkat tinggi—masing-masing terutama karena beban penyakit, kemampuan menyebar, serta makin terbatasnya pilihan terapi.

9. Streptococcus pneumoniae

Bakteri Streptococcus pneumoniae yang jadi penyebab umum pneumonia. (commons.wikimedia.org/CDC/Janice Carr)

Streptococcus pneumoniae atau pneumokokus dapat menyebabkan berbagai penyakit, meliputi pneumonia, infeksi telinga, bakteremia, dan meningitis.

Sebagian pneumokokus telah mengembangkan resistansi terhadap satu atau lebih antibiotik. WHO memasukkan S. pneumoniae resisten makrolida dalam kategori prioritas sedang.

Kabar baiknya, vaksinasi pneumokokus juga membantu mencegah infeksi akibat strain yang resisten, sehingga dapat mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik.

Bagaimana dengan TBC yang resisten obat?

Mycobacterium tuberculosis juga merupakan bakteri dan resistansi obat pada TBC merupakan salah satu masalah AMR terbesar.

WHO menempatkan M. tuberculosis resisten rifampisin dalam kategori prioritas kritis. Sementara itu, multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) berarti penyakit disebabkan bakteri yang resisten terhadap setidaknya rifampisin dan isoniazid, dua obat lini pertama terpenting untuk TBC.

TBC resisten obat tetap bisa diobati, tetapi perlu regimen yang berbeda. WHO kini memiliki pilihan regimen oral yang lebih pendek untuk sebagian pasien MDR/RR-TB.

Resisten bukan berarti tidak ada obat yang bisa bekerja

Resistansi biasanya dibicarakan terhadap antibiotik atau kelompok antibiotik tertentu. Misalnya, E. coli dapat resisten terhadap sefalosporin tertentu tetapi masih sensitif terhadap obat lain.

Itulah mengapa pada infeksi berat, berulang, atau ketika terapi awal gagal, dokter dapat melakukan kultur dan antimicrobial susceptibility testing (AST) untuk membantu mengetahui bakteri penyebab sekaligus antibiotik mana yang masih mampu menghambat atau membunuhnya.

Pada infeksi MRSA dan P. aeruginosa, misalnya, para ahli menekankan penggunaan pemeriksaan kerentanan untuk membantu menentukan terapi.

Hal penting lainnya, menemukan bakteri resisten pada tubuh tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami infeksi. Beberapa orang dapat mengalami kolonisasi. Hal ini dapat terjadi antara lain pada MRSA, ESBL-producing Enterobacterales, dan A. baumannii

Apa yang bisa dilakukan?

Antibiotik harus digunakan secara tepat untuk infeksi bakteri, bukan untuk infeksi virus seperti pilek atau flu.

Jika diresepkan, konsumsi sesuai obat, dosis, dan durasi yang ditentukan oleh dokter atau apoteker.

Jangan menggunakan sisa antibiotik milik sendiri maupun orang lain.

Pencegahan infeksi melalui kebersihan tangan, keamanan makanan, seks aman, pengendalian infeksi di rumah sakit, serta vaksinasi juga mengurangi kebutuhan terhadap antibiotik.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan berlebihan sebagai salah satu pendorong utama muncul dan menyebarnya resistansi.

Studi memperkirakan jika tren berlanjut, kematian yang secara langsung disebabkan AMR bakteri dapat mencapai sekitar 1,91 juta per tahun pada 2050.

Referensi

World Health Organization, “Antimicrobial Resistance,” diakses Agustus 2026.

GBD 2021 Antimicrobial Resistance Collaborators, “Global Burden of Bacterial Antimicrobial Resistance 1990–2021: A Systematic Analysis with Forecasts to 2050,” The Lancet 404, no. 10459 (2024): 1199–1226, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01867-1.

Hatim Sati et al., “The WHO Bacterial Priority Pathogens List 2024: A Prioritisation Study to Guide Research, Development, and Public Health Strategies against Antimicrobial Resistance,” The Lancet Infectious Diseases 25, no. 9 (2025): 1033–43, https://doi.org/10.1016/S1473-3099(25)00118-5.

World Health Organization, "WHO Bacterial Priority Pathogens List, 2024: Bacterial Pathogens of Public Health Importance to Guide Research, Development and Strategies to Prevent and Control Antimicrobial Resistance," diakses Agustus 2026.

World Health Organization, "Global Antibiotic Resistance Surveillance Report 2025," diakses Agustus 2026.

World Health Organization Indonesia, “WHO Menerbitkan Daftar Patogen Baru sebagai Instrumen Penting Melawan Resistansi Antimikroba,” diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article