Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ciri-ciri Pemakai Sabu yang Perlu Diwaspadai

Ilustrasi efek penggunaan narkoba.
ilustrasi efek penggunaan narkoba (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya sih...
  • Sabu memengaruhi otak, perilaku, dan tubuh secara cepat, bahkan sejak penggunaan awal.
  • Tanda pemakaian sabu sering muncul dalam kombinasi perubahan fisik dan perilaku, bukan satu gejala tunggal.
  • Pendekatan yang empatik dan berbasis kesehatan lebih efektif daripada menghakimi atau memaksa.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sabu—istilah yang digunakan luas di Indonesia untuk methamfetamine atau crystal meth—adalah stimulan sintetis yang bekerja sangat kuat pada sistem saraf pusat. Zat ini meningkatkan kadar dopamin secara ekstrem, menciptakan rasa euforia, energi berlebih, dan kewaspadaan tinggi dalam waktu singkat. Namun, efek tersebut dibayar mahal oleh tubuh dan kesehatan fisik dan mental penggunanya.

Masalahnya, tanda-tanda penggunaan sabu tidak selalu langsung terlihat sebagai “penyalahgunaan narkoba”. Pada tahap awal, perubahan bisa tampak seperti kurang tidur, stres berat, atau perubahan gaya hidup. Inilah yang membuat sabu sering luput dikenali sampai dampaknya menjadi lebih serius.

Memahami ciri-ciri pemakai sabu bukan bertujuan untuk menghakimi, melainkan untuk melindungi dan membantu, baik diri sendiri maupun orang terdekat. Deteksi dini dapat membuka jalan menuju pertolongan medis yang tepat, sebelum kerusakan meluas dan sulit dipulihkan.

Table of Content

1. Tanda-tanda fisik pemakai sabu

1. Tanda-tanda fisik pemakai sabu

Salah satu ciri fisik yang sering muncul adalah penurunan berat badan secara drastis. Sabu menekan nafsu makan dan membuat penggunanya bisa tidak makan selama berjam-jam hingga berhari-hari. Dalam jangka panjang, tubuh kekurangan nutrisi penting, otot menyusut, dan daya tahan tubuh menurun.

Selain itu, sabu dikenal menyebabkan kerusakan gigi parah atau yang sering disebut "meth mouth". Mulut menjadi kering, gigi cepat berlubang, rapuh, hingga tanggal. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi mulut kering, kebiasaan menggertakkan gigi, konsumsi minuman manis, dan kebersihan mulut yang terabaikan.

Ciri fisik lain yang sering terlihat adalah mata cekung, kulit kusam, luka atau bekas garukan. Pengguna sabu kerap mengalami sensasi seperti ada serangga merayap di bawah kulit (formication), sehingga menggaruk berulang kali sampai menimbulkan luka yang sulit sembuh.

2. Tanda-tanda perilaku

Ilustrasi murung.
ilustrasi murung (freepik.com/freepik)

Perubahan perilaku sering menjadi sinyal paling nyata. Pemakai sabu bisa tampak sangat aktif, bicara cepat, sulit diam, lalu tiba-tiba menjadi sangat lelah atau murung setelah efeknya menurun. Pola naik-turun ini khas pada penggunaan stimulan kuat.

Masalah tidur juga sangat umum. Pengguna bisa tidak tidur selama berhari-hari, lalu mengalami “crash” dengan tidur sangat lama. Kurang tidur kronis ini berdampak langsung pada emosi, daya pikir, dan pengambilan keputusan.

Dalam jangka lebih lanjut, sabu dapat memicu paranoia, kecurigaan berlebihan, agresivitas, hingga halusinasi. Beberapa orang menjadi mudah marah, defensif, atau merasa diawasi, yang sering kali merusak hubungan sosial dan keluarga.

3. Cara menindaklanjuti tanda-tanda yang kamu lihat

Jika kamu curigai seseorang menggunakan sabu, langkah pertama adalah memilih waktu dan suasana yang aman. Hindari membicarakan hal ini saat orang tersebut sedang emosi, kurang tidur, atau berada di bawah pengaruh zat.

Gunakan bahasa yang fokus pada kepedulian, bukan tuduhan. Kalimat seperti “Aku khawatir dengan kesehatan kamu” jauh lebih efektif daripada “Kamu pakai narkoba, ya?”. Pendekatan ini membantu menurunkan resistansi dan membuka ruang dialog.

Penting juga untuk mendengarkan tanpa menyela. Tidak semua orang siap mengakui atau membahas penggunaan zat, tetapi didengarkan adalah langkah awal menuju kepercayaan dan kemungkinan mencari bantuan.

4. Hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan atau dikatakan

Dua orang laki-laki mengobrol.
ilustrasi dua orang laki-laki mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)

Menghakimi, mengancam, atau mempermalukan justru dapat membuat pemakai sabu menutup diri dan menjauh. Stigma adalah salah satu hambatan terbesar dalam penanganan gangguan penggunaan zat.

Hindari memberi ultimatum kosong atau janji yang tidak realistis, seperti “kalau kamu mau, kamu bisa berhenti sekarang juga”. Ketergantungan sabu adalah kondisi medis kompleks, bukan sekadar soal niat.

Jangan pula mencoba menjadi “terapis dadakan” atau mengawasi secara berlebihan. Tanpa dukungan profesional, niat baik justru bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.

5. Cara membantu pemakai sabu untuk berhenti

Pemulihan dari ketergantungan sabu biasanya membutuhkan pendekatan multidisiplin: layanan kesehatan, dukungan psikologis, dan lingkungan sosial yang aman. Terapi perilaku, seperti terapi perilaku kognitif terbukti membantu mengurangi kekambuhan.

Meski belum ada obat khusus yang sepenuhnya menyembuhkan ketergantungan sabu, tetapi perawatan medis tetap penting untuk menangani gejala putus zat, gangguan mental, dan komplikasi fisik.

Dukungan keluarga dan komunitas berperan besar. Pemulihan jarang terjadi dalam garis lurus—relaps/kekambuhan bisa terjadi. Yang terpenting adalah akses berkelanjutan ke bantuan, bukan hukuman atau pengucilan.

Ciri-ciri pemakai sabu muncul dari kombinasi perubahan fisik dan perilaku yang sering kali berkembang perlahan. Mengenalinya sejak dini berpeluang lebih besar untuk intervensi yang manusiawi dan efektif. Sabu bukan hanya persoalan hukum atau moral, tetapi isu kesehatan serius yang membutuhkan empati, ilmu pengetahuan, dan dukungan nyata demi pemulihan optimal.

Referensi

"Management of Substance Abuse: Methamphetamine." World Health Organization. Diakses Februari 2026.

"Methamphetamine DrugFacts." National Institute on Drug Abuse. Diakses Februari 2026.

"World Drug Report." United Nations Office on Drugs and Crime. Diakses Februari 2026.

"Substance Use Treatment Guidance." Substance Abuse and Mental Health Services Administration. Diakses Februari 2026.

"Illicit Drug Use and Health Effects." Centers for Disease Control and Prevention. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

12 Jenis Kanker Paling Umum di Dunia, Kamu Harus Tahu!

08 Feb 2026, 06:34 WIBHealth