ilustrasi sikat gigi (pexels.com/Tara Winstead)
Dalam kondisi tertentu, seperti setelah mengalami infeksi mulut atau sakit tenggorokan, sikat gigi dapat menjadi sumber reinfeksi.
Penelitian menunjukkan bahwa mikroorganisme patogen dapat bertahan pada sikat gigi dan berpotensi menyebabkan infeksi ulang jika tidak diganti.
Ini menjadi alasan mengapa banyak ahli menyarankan mengganti sikat gigi setelah sakit, terutama infeksi yang melibatkan rongga mulut atau saluran pernapasan.
Sikat gigi yang jarang diganti bukan hanya kehilangan fungsi, tetapi juga berpotensi menjadi sumber masalah kesehatan. Dari penumpukan bakteri hingga peningkatan risiko penyakit gusi, dampaknya nyata. Mengganti sikat gigi setiap 3–4 bulan, atau lebih cepat jika bulu sudah rusak, adalah langkah sederhana namun penting dalam perawatan kesehatan mulut.
Referensi
American Dental Association. “Toothbrush Care.” Diakses April 2026.
Sogi SH, Subbareddy VV, Kiran SN. "Contamination of toothbrush at different time intervals and effectiveness of various disinfecting solutions in reducing the contamination of toothbrush." J Indian Soc Pedod Prev Dent. 2002 Sep;20(3):81-5. PMID: 12435003.
G. A. Van Der Weijden et al., “A Comparative Study of Electric Toothbrushes for the Effectiveness of Plaque Removal in Relation to Toothbrushing Duration,” Journal of Clinical Periodontology 20, no. 7 (August 1, 1993): 476–81, https://doi.org/10.1111/j.1600-051x.1993.tb00394.x.
World Health Organization. “Oral Health.” Diakses April 2026.
Denis F. Kinane, Panagiota G. Stathopoulou, and Panos N. Papapanou, “Periodontal Diseases,” Nature Reviews Disease Primers 3, no. 1 (June 22, 2017): 17038, https://doi.org/10.1038/nrdp.2017.38.
Mayo Clinic. “Bad Breath (Halitosis).” Diakses April 2026.
Michelle R. Frazelle and Cindy L. Munro, “Toothbrush Contamination: A Review of the Literature,” Nursing Research and Practice 2012 (January 1, 2012): 1–6, https://doi.org/10.1155/2012/420630.