Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus Kematian di Kapal Pesiar Disebabkan Hantavirus, Apa Itu?

Kasus Kematian di Kapal Pesiar Disebabkan Hantavirus, Apa Itu?
Ilustrasi virus (commons.m.wikimedia.org/Fusion Medical Animation)
Intinya Sih
  • Tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius meninggal akibat dugaan infeksi hantavirus saat berlayar dari Argentina menuju Cape Verde, dengan satu kasus telah terkonfirmasi positif melalui uji laboratorium.
  • WHO dan otoritas kesehatan berbagai negara berkoordinasi mengevakuasi pasien bergejala serta melakukan asesmen risiko, sementara investigasi epidemiologi masih berlangsung untuk mengendalikan situasi di kapal.
  • Hantavirus umumnya menular dari hewan pengerat ke manusia dan jarang antarmanusia; belum ada obat spesifik, sehingga perawatan difokuskan pada terapi suportif bagi pasien yang terinfeksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi tiga orang meninggal dunia menyusul merebaknya infeksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik. Satu korban telah terkonfirmasi positif hantavirus melalui uji laboratorium, sementara lima penumpang lainnya masih berstatus suspek dan membutuhkan penanganan medis segera.

Kapal berbendera Belanda yang membawa sekitar 150 penumpang dan awak tersebut tengah menempuh rute pelayaran dari Argentina menuju Cape Verde ketika kasus pertama terdeteksi.

Saat ini, otoritas kesehatan lintas negara terus berkoordinasi ketat dengan WHO untuk mengevakuasi pasien bergejala dan mengendalikan situasi darurat di atas kapal.

1. Awal mula kasus kematian dari seorang penumpang berusia 70 tahun

Kapal berbendera Belanda tersebut bertolak dari Ushuaia, Argentina, pada 20 Maret 2026 membawa sekitar 150 penumpang dan awak. Rute pelayarannya mencakup Antartika dan sejumlah kepulauan di Samudra Atlantik, sebelum dijadwalkan tiba di Cape Verde pada 4 Mei 2026.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Nasional Afrika Selatan, Foster Mohale, menjelaskan bahwa kasus bermula dari seorang penumpang pria berusia 70 tahun yang mengalami gejala demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare. Ia meninggal dunia saat kapal berlabuh di Pulau St. Helena.

Istri korban yang berusia 69 tahun kemudian menunjukkan gejala serupa. Ia sempat dievakuasi secara medis, namun kehilangan kesadaran di Bandara O.R. Tambo dan dinyatakan meninggal di fasilitas kesehatan di Johannesburg.

"Para penumpang kapal pesiar tersebut dirujuk ke fasilitas kesehatan di Afrika Selatan karena mengalami gangguan kesehatan serius akibat infeksi saluran pernapasan akut," jelas Mohale, dilansir The New York Times.

Korban ketiga adalah warga negara Inggris berusia 69 tahun yang dilaporkan sakit saat kapal melanjutkan pelayaran dari St. Helena ke Pulau Ascension. Pasien tersebut dievakuasi ke rumah sakit swasta di Sandton, Afrika Selatan, dan hasil laboratoriumnya mengonfirmasi positif hantavirus. Saat ini, satu penumpang lain masih dirawat di unit perawatan intensif (ICU) di Johannesburg, sementara dua awak kapal tengah dalam pengawasan medis ketat di atas kapal.

2. WHO berusaha mengevakuasi awak yang bergejala

Merespons insiden ini, WHO tengah memfasilitasi koordinasi antarnegara dan operator kapal untuk mengevakuasi awak yang bergejala, serta melakukan asesmen risiko kesehatan masyarakat secara menyeluruh bagi penumpang lainnya.

Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Kluge, memastikan bahwa investigasi epidemiologi masih berjalan. Namun, ia menegaskan risiko penularan terhadap masyarakat luas tergolong rendah.

"Tidak perlu panik atau memberlakukan pembatasan perjalanan," tulis Kluge melalui akun X pribadinya, dilansir The Jerusalem Post.

Pemerintah Belanda telah memberikan persetujuan untuk memulangkan dua warga negaranya yang bergejala dari Cape Verde. Meski demikian, hingga Minggu malam (3/5/2026), otoritas Cape Verde belum merilis izin bagi para pasien untuk turun dari kapal.

3. Penularan hantavirus antarmanusia sangat jarang terjadi

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), hantavirus umumnya ditularkan dari hewan pengerat ke manusia. Virus ini menyebar melalui partikel udara dari urine, kotoran, atau air liur hewan terinfeksi yang mengering dan terhirup oleh manusia. Penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, kecuali pada jenis virus varian Andes yang endemik di Amerika Selatan.

Gejala awal infeksi hantavirus menyerupai flu, seperti demam, menggigil, nyeri tubuh, dan sakit kepala. Dalam beberapa hari, kondisi ini dapat memburuk menjadi gangguan pernapasan parah hingga gagal fungsi organ. CDC mencatat, tingkat fatalitas akibat sindrom paru hantavirus (HPS) mencapai sekitar 38 persen.

Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan atau antivirus spesifik untuk infeksi hantavirus. Perawatan medis bertumpu pada terapi suportif, termasuk pemberian oksigen, ventilasi mekanis, dan dialisis untuk kasus berat. WHO menambahkan bahwa proses pengurutan genom (sekuensing) virus masih dilakukan guna mengidentifikasi varian spesifik hantavirus yang memicu wabah di MV Hondius.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More