Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Filler Payudara vs Implan, Mana yang Lebih Aman? Ini Kata Dokter
ilustrasi payudara (magnific.com/magnific)
  • Dokter mencatat tren implan meningkat, termasuk pasien dari Jakarta yang memeriksakan kondisi payudara sebelum menjalani prosedur.

  • Suntik filler payudara diperingatkan berisiko tinggi memicu infeksi, bahan dapat bergeser, membuat bentuk tidak simetris, serta merusak jaringan dan sulit diperbaiki.

  • Augmentasi implan oleh dokter ahli dinilai lebih aman, memberi hasil lebih terkontrol, tidak meningkatkan risiko kanker payudara, dan skrining rutin dapat memakai mammogram atau USG.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi sebagian perempuan, memiliki bentuk tubuh yang ideal adalah bentuk investasi kepercayaan diri. Tak heran berbagai prosedur kecantikan payudara makin populer. Namun, di tengah tingginya minat masyarakat, masih banyak mitos dan praktik berbahaya yang salah kaprah.

Tren kecantikan ini turut menarik perhatian banyak perempuan muda menurut senior konsultan dan dokter spesialis bedah payudara di Solis Breast Care & Surgery Centre di Singapura, dr. Lim Sue Zann.

"Sekarang tren implan benar-benar populer. Saya mendapatkan banyak pasien dari Jakarta, terutama karena mereka ingin melakukan pemeriksaan payudara untuk memastikan semuanya baik-baik saja sebelum memasang implan. Banyak sekali, banyak dari mereka yang menggunakan implan," ujarnya di Jakarta, pada Jumat (28/8/2026).

Suntik payudara merupakan jalan pintas tidak aman

Tren suntik pembesar payudara atau filler kerap menjadi pilihan karena dianggap instan. Padahal, para ahli medis secara tegas memperingatkan untuk menghindari suntikan payudara karena alasan:

  • Risiko infeksi tinggi: Cairan atau bahan yang disuntikkan seringkali tidak steril, sehingga sangat rentan memicu infeksi parah.

  • Bentuk berubah dan tidak simetris: Seiring waktu, bahan filler atau cairan suntikan tersebut dapat bergeser, membuat bentuk payudara menjadi tidak rata, berbenjol-benjol dan tidak simetris.

  • Sulit diperbaiki: Bukan mempercantik, prosedur ini justru merusak jaringan alami dan menjadi mimpi buruk bagi kesehatan jangka panjang.

"Suntikan itu tidak bersih. Pasien datang dengan kondisi infeksi. Saya sudah mengeluarkan begitu banyak filler yang terinfeksi. Lagipula, filler bisa bergeser. Jadi, alih-alih menjadikan payudara bulat, kamu akan mendapati satu benjolan di sana-sini, tidak simetris, juga tidak cantik, dan rasanya juga tidak bagus."

Jika ingin memiliki payudara yang aman, bagus, dan enak dipandang, pertimbangkan augmentasi implan.

Implan pilihan yang aman

Senior konsultan dan dokter spesialis bedah payudara di Solis Breast Care & Surgery Centre di Singapura, dr. Lim Sue Zann (IDN Times/Misrohatun)

Bagi perempuan yang ingin memperbaiki penampilan payudara secara medis, prosedur augmentasi implan yang dilakukan oleh dokter ahli adalah pilihan yang jauh lebih aman, dengan alasan:

  • Hasil lebih terkontrol dan estetik: Implan medis dirancang untuk memberikan bentuk yang rapi, simetris dan tampak natural.

  • Tidak meningkatkan risiko kanker: Berdasarkan pandangan medis, penggunaan implan payudara yang sah secara klinis tidak meningkatkan risiko kanker payudara.

  • Pemeriksaan lanjutan tetap mudah: Banyak yang mengira perempuan berimplan wajib melakukan MRI saat skrining rutin. Padahal, jika kondisi implan aman dan tidak pecah, pemeriksaan standar seperti mamogram dan USG tetap bisa diandalkan.

"Menggunakan implan tidak berarti kamu harus melakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan MRI. Karena banyak orang khawatir jika melakukan MRI itu sangat mahal, sangat melelahkan, sehingga mereka tidak jadi menggunakan implan," dr. Lim meluruskan.

Implan payudara juga tidak meningkatkan risiko kanker payudara. Dokter Lim mendorong orang untuk memilih implan jika menginginkan perbaikan penampulan payudara.

Curated For You

Editorial Team

Related Article