Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
10 Gejala Leptospirosis yang Perlu Kamu Waspadai
ilustrasi demam mendadak, bisa menjadi gejala leptospirosis (pexels.com/Kaboompics)
  • Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akibat bakteri Leptospira yang menular lewat kontak kulit luka dengan air, tanah, atau lumpur terkontaminasi urine hewan, terutama tikus.

  • Gejalanya bervariasi dari ringan hingga berat, meliputi demam mendadak, nyeri betis, mata merah tanpa belekan, mual, diare, kulit menguning, gangguan ginjal, hingga sesak napas dan kebingungan.

  • Diagnosis dan pengobatan dini dengan antibiotik sangat penting untuk mencegah komplikasi serius pada organ vital seperti ginjal, hati, paru-paru, dan otak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengalami setelah membersihkan saluran air, berjalan di genangan banjir, atau bekerja di lingkungan yang banyak tikus sering dianggap sebagai infeksi biasa. Padahal, bisa saja itu merupakan gejala awal leptospirosis, penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.

Leptospirosis merupakan salah satu penyakit zoonosis paling luas penyebarannya di dunia. Penyakit ini dapat menular ketika kulit yang terluka atau selaput lendir bersentuhan dengan air, tanah, atau lumpur yang terkontaminasi urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus.

Namun, yang menjadi tantangan adalah gejala leptospirosis sangat beragam. Sebagian orang hanya mengalami keluhan ringan, sementara yang lain dapat mengalami gagal ginjal, perdarahan paru, hingga kematian. Berikut gejala-gejala leptospirosis yang perlu diwaspadai.

1. Demam mendadak

Demam merupakan gejala paling umum pada fase awal leptospirosis.

Biasanya suhu tubuh meningkat tiba-tiba dan dapat mencapai lebih dari 38 derajat Celcius. Demam muncul karena sistem kekebalan tubuh sedang merespons infeksi bakteri yang telah masuk ke dalam aliran darah.

Pada tahap ini, leptospirosis bisa disangka flu, COVID-19, atau demam berdarah karena gejalanya sangat mirip. Fase awal penyakit sering kali tidak memiliki tanda khas yang langsung mengarah pada leptospirosis.

Demam biasanya muncul sekitar 2–30 hari setelah paparan, dengan rata-rata masa inkubasi sekitar 7–12 hari.

2. Sakit kepala berat

Banyak pasien melaporkan sakit kepala yang cukup intens, terutama di area dahi dan belakang mata.

Gejala ini terjadi akibat respons peradangan sistemik yang dipicu oleh infeksi bakteri. Pada sebagian kasus, sakit kepala dapat menjadi salah satu keluhan yang paling mengganggu aktivitas.

Jika sakit kepala disertai demam tinggi dan riwayat kontak dengan air banjir atau lingkungan yang berisiko, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai migrain atau sakit kepala biasa.

3. Nyeri otot, terutama di betis dan punggung

ilustrasi nyeri otot betis (magnific.com/wayhomestudio)

Berbeda dengan nyeri badan pada flu biasa, leptospirosis sering menimbulkan nyeri hebat pada otot betis, paha, dan punggung bawah. Bahkan, beberapa pasien menggambarkannya seperti habis melakukan aktivitas fisik yang sangat berat.

Menurut para ahli, bakteri Leptospira dapat memicu peradangan pada jaringan otot. Karena itu, kombinasi demam dan nyeri betis yang tidak biasa sering menjadi petunjuk penting bagi dokter.

Dalam sejumlah studi, nyeri otot dilaporkan sebagai salah satu gejala yang paling sering ditemukan pada pasien leptospirosis akut.

4. Mata merah tanpa banyak kotoran mata

Salah satu tanda yang cukup membantu membedakan leptospirosis dari penyakit lain adalah conjunctival suffusion atau kemerahan pada bagian putih mata.

Beda dengan konjungtivitis biasa, mata merah pada leptospirosis umumnya tidak disertai banyak sekret atau belekan. Kondisi ini terjadi akibat pelebaran pembuluh darah kecil pada mata sebagai respons terhadap infeksi. Meskipun tidak selalu muncul, tanda ini cukup dikenal dalam literatur medis sebagai salah satu gejala khas leptospirosis.

Jika mata tampak merah bersamaan dengan demam dan nyeri otot, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

5. Mual, muntah, nafsu makan menurun

Infeksi tidak hanya memengaruhi otot dan pembuluh darah, tetapi juga sistem pencernaan.

Banyak pasien mengalami mual, muntah, nyeri perut, atau kehilangan nafsu makan. Keluhan ini dapat menyebabkan asupan cairan dan nutrisi menurun sehingga memperburuk kondisi tubuh.

Pada beberapa kasus, gejala gastrointestinal menjadi alasan utama pasien mencari pertolongan medis karena mengganggu aktivitas sehari-hari.

6. Diare

ilustrasi diare (magnific.com/jcomp)

Diare dapat terjadi selama fase akut penyakit. Walaupun tidak selalu terjadi, tetapi diare cukup sering dilaporkan dalam berbagai studi observasional mengenai leptospirosis. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama jika disertai demam tinggi dan muntah.

Karena gejalanya mirip infeksi saluran cerna biasa, diagnosis leptospirosis kadang terlewat jika dokter tidak mengetahui riwayat paparan lingkungan pasien.

7. Kulit dan mata menguning (jaundice)

Ketika penyakit berkembang menjadi lebih berat, hati dapat ikut terdampak. Akibatnya, kadar bilirubin meningkat dan menyebabkan kulit serta bagian putih mata berubah menjadi kuning. Kondisi ini dikenal sebagai jaundice atau ikterus.

Ikterus merupakan salah satu ciri khas bentuk berat leptospirosis yang dikenal sebagai penyakit Weil (Weil's disease). Kehadiran gejala ini menandakan bahwa infeksi telah memengaruhi fungsi organ penting dan perlu penanganan segera.

8. Urine berkurang atau ada tanda gangguan ginjal

Leptospirosis termasuk salah satu penyebab penting cedera ginjal akut di banyak negara tropis.

Bakteri dapat merusak jaringan ginjal sehingga kemampuan organ tersebut untuk menyaring darah menurun. Akibatnya, volume urine bisa berkurang, tubuh mengalami pembengkakan, dan kadar limbah dalam darah meningkat.

Keterlibatan ginjal merupakan salah satu penyebab utama komplikasi dan kematian akibat leptospirosis berat.

9. Sesak napas dan batuk berdarah

Ilustrasi sesak napas (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Ini termasuk gejala darurat medis.

Pada sebagian pasien, infeksi dapat menyebabkan perdarahan di paru-paru atau sindrom perdarahan paru berat (severe pulmonary hemorrhage syndrome).

Gejalanya dapat berupa sesak napas, batuk, penurunan kadar oksigen, hingga batuk berdarah. Pasien dengan gejala ini membutuhkan perawatan rumah sakit sesegera mungkin.

Komplikasi paru kini diakui sebagai salah satu manifestasi leptospirosis paling berbahaya karena memiliki angka kematian yang tinggi.

10. Kebingungan, leher kaku, atau penurunan kesadaran

Dalam kasus tertentu, bakteri dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Akibatnya, pasien bisa mengalami meningitis aseptik, kebingungan, leher kaku, sensitif terhadap cahaya, hingga penurunan kesadaran.

Walaupun lebih jarang dibandingkan gejala lainnya, tetapi keterlibatan otak dan sistem saraf menunjukkan bahwa infeksi telah berkembang menjadi serius dan butuh penanganan intensif.

Kapan harus segera ke dokter?

Jangan menunggu gejala makin parah jika kamu mengalami:

  • Demam setelah kontak dengan air banjir atau lumpur.

  • Nyeri betis yang tidak biasa.

  • Mata merah tanpa sebab jelas.

  • Kulit atau mata menguning.

  • Urine berkurang drastis.

  • Sesak napas atau batuk berdarah.

Leptospirosis bisa diobati dengan antibiotik, terutama jika cepat terdeteksi. Makin cepat penyakit dikenali, makin besar peluang untuk mencegah komplikasi serius pada ginjal, hati, paru-paru, dan otak.

Referensi

Federico Costa et al., “Global Morbidity and Mortality of Leptospirosis: A Systematic Review,” PLoS Neglected Tropical Diseases 9, no. 9 (September 17, 2015): e0003898, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0003898.

David A. Haake and Paul N. Levett, “Leptospirosis in Humans,” Current Topics in Microbiology and Immunology 387 (November 12, 2014): 65–97, https://doi.org/10.1007/978-3-662-45059-8_5.

Lesley Maurice Bilung et al., “Leptospira and Leptospirosis: A Review of Species Classifications, Genomes, Morphological Structures, Antimicrobial Resistances, Transmissions, and Clinical Manifestations,” Current Microbiology 83, no. 2 (January 5, 2026): 122, https://doi.org/10.1007/s00284-026-04722-7.

Ajay R Bharti et al., “Leptospirosis: A Zoonotic Disease of Global Importance,” The Lancet Infectious Diseases 3, no. 12 (December 1, 2003): 757–71, https://doi.org/10.1016/s1473-3099(03)00830-2.

Kobayashi Y. (2005). "Human leptospirosis: management and prognosis." Journal of postgraduate medicine, 51(3), 201–204.

World Health Organization. "Leptospirosis Fact Sheet." Diakses Juni 2026.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "Leptospirosis Symptoms and Diagnosis." Diakses Juni 2026.

William A. Ellis, “Animal Leptospirosis,” Current Topics in Microbiology and Immunology 387 (November 12, 2014): 99–137, https://doi.org/10.1007/978-3-662-45059-8_6.

WHO. "Human Leptospirosis Guidance." Diakses Juni 2026.

Julien Guglielmini et al., “Genus-wide Leptospira Core Genome Multilocus Sequence Typing for Strain Taxonomy and Global Surveillance,” PLoS Neglected Tropical Diseases 13, no. 4 (April 26, 2019): e0007374, https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0007374.

Editorial Team

Related Article