"Terapi minimal invasif pada umumnya mengutamakan penjagaan fungsi seksual dan ejakulasi. Namun, pasien perlu paham bahwa setiap pilihan punya konsekuensinya," ujar Dr. Edwin dalam presentasinya kepada awal media di Singapura, Rabu (22/7/2026).
Makin Minimal Invasif, Terapi Pembesaran Prostat Jinak Makin Baik?

Terapi minimal invasif untuk pembesaran prostat jinak (BPH) menawarkan pemulihan lebih cepat dan peluang lebih besar mempertahankan fungsi ejakulasi, tetapi hasilnya belum tentu bertahan lama.
Tidak semua pasien cocok menjalani prosedur minimal invasif. Pilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien.
Teknologi terbaru bukan berarti selalu menjadi pilihan terbaik. Pada sebagian pasien, operasi yang lebih definitif memberi hasil jangka panjang yang lebih baik.
Pilihan operasi untuk pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) relatif terbatas beberapa tahun lalu. Kini, prosedurnya didukung berbagai teknologi terkini dengan sayatan minimal, pemulihan lebih cepat, hingga mempertahankan fungsi seksual.
Sekilas, pilihan tersebut menjadi solusi bagi banyak pria dengan BPH. Akan tetapi, menurut Dr. Edwin Jonathan Aslim, BSc (Lon), MBBS (Lon), MRCS (Edin), FAMS (Urology), Consultant, dari Departmen Urologi Singapore General Hospital (SGH), setiap prosedur memiliki beberapa aspek yang perlu dipahami sebelum memutuskan terapi.
Table of Content
1. Minimal invasif tidak selalu efektif untuk semua orang
Pilihan terapi untuk BPH telah mengalami perkembangan pesat. Selain operasi konvensional seperti transurethral resection of the prostate (TURP), sekarang tersedia berbagai prosedur minimal invasif, seperti Rezūm, UroLift, temporary prostatic implant, hingga embolisasi arteri prostat. Masing-masing prosedur menawarkan pendekatan yang berbeda untuk BPH.
Keunggulan utamanya adalah pemulihan yang lebih cepat. Banyak prosedur dapat dilakukan sebagai operasi satu hari sehingga pasien tidak perlu dirawat lama di rumah sakit.
Selain itu, risiko gangguan ejakulasi umumnya lebih rendah dibanding operasi yang mengangkat jaringan prostat.
Namun, Dr. Edwin mengingatkan bahwa keuntungan tersebut juga diiringi keterbatasan.
"Prosedur-prosedur ini biasanya hanya menciptakan saluran urine yang lebih kecil dibandingkan dengan operasi yang mengangkat jaringan prostat. Karena itu, perbaikan aliran urine mungkin tidak sebesar operasi konvensional dan hasilnya belum tentu bertahan selama itu," jelasnya.
Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa secara umum pasien yang sesuai dapat mengalami perbaikan gejala dan aliran urine sekitar 50 persen. Akan tetapi, sebagian pasien mungkin perlu tindakan ulang dalam lima tahun karena efek terapi tidak bertahan selama operasi yang mengangkat jaringan prostat.
Temuan tersebut sejalan dengan pedoman European Association of Urology yang menyebut prosedur minimal invasif memang dapat mempertahankan fungsi ejakulasi pada pasien tertentu, tetapi efektivitas jangka panjang dan angka tindakan ulang umumnya masih kalah dibandingkan operasi enukleasi atau reseksi prostat pada pasien yang sesuai.
2. Ada kalanya operasi konvensional menawarkan hasil yang lebih baik

Kemajuan teknologi tidak mengubah satu prinsip penting, bahwa terapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien.
Prosedur minimal invasif, dikatakan oleh Dr. Edwin, tidak cocok untuk semua orang. Apabila pasien sudah mengalami batu kandung kemih, infeksi saluran kemih berulang, retensi urine berat, kerusakan kandung kemih, atau gangguan ginjal akibat BPH, dokter mungkin lebih mempertimbangkan operasi yang mengangkat jaringan prostat.
"Pilihan terapi ditentukan oleh kebutuhan medis pasien, bukan semata-mata berdasarkan preferensi pribadi," kata Dr. Edwin.
Operasi seperti TURP maupun enukleasi laser mampu menciptakan saluran urine yang lebih lebar sehingga aliran urine membaik secara dan hasilnya cenderung bertahan lebih lama. Laser juga memiliki keuntungan tambahan berupa perdarahan yang lebih sedikit sehingga dapat bermanfaat pada pasien dengan prostat besar atau mereka yang mengonsumsi obat pengencer darah.
Di sisi lain, ada kemungkinan lebih besar tindakan tersebut menyebabkan ejakulasi retrograd (saat air mani masuk ke kandung kemih alih‑alih keluar saat orgasme) atau hilangnya ejakulasi normal secara permanen.
Maka dari itu, keputusan terapi terbaik tidak bukan cuma mempertimbangkan hasil operasi, tetapi juga kualitas hidup yang diharapkan oleh pasien.
American Urological Association pun menekankan bahwa pemilihan terapi BPH harus melalui pengambilan keputusan bersama; diskusi terbuka antara dokter dan pasien mengenai manfaat, risiko, efek terhadap fungsi seksual, serta kemungkinan tindakan ulang di masa depan.
3. Tujuan terapi bukan cuma membuat buang air kecil lebih lancar
Salah satu pesan terpenting dari Dr. Edwin adalah tidak menunggu sampai gejala menjadi sangat berat.
BPH yang tidak ditangani dapat membuat kandung kemih terus bekerja lebih keras untuk mengeluarkan urine. Lama-lama, otot kandung kemih bisa menebal, kehilangan elastisitas, lalu melemah sehingga tidak lagi mampu berkontraksi secara optimal. Pada tahap ini, operasi memang dapat menghilangkan sumbatan, tetapi tidak selalu mampu mengembalikan fungsi kandung kemih seperti semula.
"Operasi yang berhasil memang dapat membuka kembali saluran urine yang tersumbat, tetapi tidak selalu bisa memulihkan kerusakan kandung kemih yang sudah telanjur terjadi," ungkap Dr. Edwin.
Itulah kenapa ia menekankan pentingnya evaluasi lebih dini ketika gejala mulai mengganggu. Tujuan terapi bukan cuma memperlancar buang air kecil, tetapi juga mencegah kerusakan kandung kemih, melindungi fungsi ginjal, dan menjaga kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Teknologi baru memberi lebih banyak pilihan, tetapi terapi terbaik adalah yang paling sesuai dengan kondisi medis, bentuk prostat, komplikasi, dan prioritas hidup pasien. Jadi, bukan selalu dengan prosedur terkini maupun paling minimal invasif.
Referensi
European Association of Urology. "EAU Guidelines on the Management of Non-neurogenic Male Lower Urinary Tract Symptoms, Including Benign Prostatic Obstruction." Diakses Juli 2026.
American Urological Association. "Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) Guideline." Diakses Juli 2026.




![[QUIZ] Dari Cara Kamu Pulih setelah Sakit, Ini Kekuatan Sistem Imun Kamu](https://image.idntimes.com/post/20250521/health-25-444e1146cca562b350101aba61264e15-d1c7ce7547ed9f5ea30339f1948023a1.jpg)
![[QUIZ] Dari Kebiasaan Sarapan, Kami Tebak Masalah Kesehatan yang Perlu Diwaspadai](https://image.idntimes.com/post/20260626/freepik-369_55677fbd-81bb-4f64-9a21-2112bb05347a.jpg)





![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Lari, Kami Bisa Ungkap Risiko Cederamu](https://image.idntimes.com/post/20260504/chander-r-z4wh11fmfiq-unsplash_d88e76be-ec98-4166-a17b-68a5597d98b0.jpg)
![[QUIZ] Dari Kondisi Kulitmu, Ini Mungkin Nutrisi yang Kamu Butuhkan](https://image.idntimes.com/post/20250729/2148255249_4db38cce-2be7-434d-850f-91b76e856241.jpg)





![[QUIZ] Kami Bisa Tahu Kondisi kesehatanmu dari Cara Kamu Scroll HP sebelum Tidur](https://image.idntimes.com/post/20250509/pexels-eren-li-7241536-5c4ec660248908e4a47ec88518a7b4c9-e241475abc521b5045bad70c3f225f5c.jpg)


