Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Gejala Ini Menandakan Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi
ilustrasi ibu dan bayi (magnific.com/magnific)
  • Penyakit jantung bawaan (PJB) dapat menyebabkan bayi kekurangan oksigen, mengalami gangguan aliran darah, atau membuat jantung bekerja terlalu keras.

  • Gejala yang perlu diperhatikan antara lain bibir atau lidah membiru, napas cepat, sulit menyusu, banyak berkeringat saat menyusu, dan berat badan sulit naik.

  • Sebagian PJB kritis tidak langsung menimbulkan gejala setelah lahir sehingga skrining oksimetri nadi dan pemeriksaan bayi baru lahir tetap penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada sebagian bayi dengan penyakit jantung bawaan (PJB), minum ASI atau susu dapat terasa seperti aktivitas fisik yang berat. Baru beberapa menit mengisap, napasnya menjadi cepat, dahi berkeringat, lalu bayi akhirnya berhenti karena kelelahan.

PJB terjadi ketika terdapat kelainan pada struktur jantung yang sudah terbentuk sejak dalam kandungan. Dampaknya beragam.

Beberapa kelainan ringan hampir tidak menimbulkan gejala, sedangkan PJB kritis dapat mengganggu kadar oksigen atau aliran darah dan membutuhkan tindakan pada awal kehidupan. Sebagian bayi dengan kelainan jantung bahkan hanya memiliki sedikit atau tidak menunjukkan gejala pada awalnya.

Berikut gejala PJB pada bayi yang perlu dikenali.

1. Bibir atau lidah tampak biru atau keabu-abuan

Salah satu gejala yang paling mudah dikenali adalah sianosis, yaitu perubahan warna menjadi biru atau abu-abu akibat rendahnya oksigen dalam darah.

Pada bayi dengan PJB tertentu, warna tersebut dapat terlihat pada bibir, lidah, atau bagian dalam mulut. Pada beberapa kelainan seperti tetralogy of Fallot, kebiruan bahkan dapat muncul atau memburuk ketika bayi menangis atau menyusu.

Namun, tangan dan kaki bayi baru lahir yang sesekali tampak kebiruan tidak selalu menunjukkan penyakit jantung. Kondisi yang disebut akrosianosis cukup umum pada neonatus karena penyempitan pembuluh darah perifer. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kebiruan pada bibir dan lidah, terutama jika menetap atau disertai gangguan napas.

2. Napas cepat atau terlihat kesulitan bernapas

ilustrasi bayi menangis (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Bayi dengan PJB dapat bernapas lebih cepat dari biasanya, tampak terengah, atau bekerja lebih keras untuk bernapas.

Kondisi ini dapat terjadi, misalnya, ketika terlalu banyak darah mengalir ke paru-paru akibat kelainan tertentu. Jantung harus bekerja lebih keras dan paru dapat mengalami sirkulasi berlebih pada paru (pulmonary overcirculation). Tinjauan mengenai nutrisi pada bayi dengan PJB menyebut kondisi ini dapat menyebabkan takipnea atau napas cepat, peningkatan kebutuhan energi, dan kesulitan makan.

3. Cepat lelah ketika menyusu

Pada bayi, menyusu merupakan salah satu aktivitas fisik paling berat yang dilakukan berulang setiap hari. Karena itu, masalah jantung kadang justru terlihat jelas pada waktu ini.

Bayi dapat mengisap sebentar kemudian berhenti untuk bernapas, butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, atau tertidur sebelum kebutuhan nutrisinya terpenuhi.

American Heart Association menjelaskan bayi dengan PJB sering lebih cepat lelah saat menyusu sehingga berhenti makan lebih awal.

Kesulitan makan juga merupakan masalah yang terdokumentasi dengan baik pada bayi dengan PJB. Tinjauan ilmiah menunjukkan gangguan makan dan pertumbuhan tetap menjadi persoalan penting, khususnya pada bayi dengan penyakit jantung yang kompleks.

4. Banyak berkeringat saat menyusu

ilustrasi gejala penyakit jantung bawaan pada bayi (pexels.com/sarahchai)

Berkeringat berlebihan, khususnya di kepala atau dahi saat bayi menyusu, bisa menjadi salah satu tanda jantung bekerja lebih keras dari seharusnya.

Pada gagal jantung pada bayi, gejala yang dapat muncul meliputi napas dan denyut jantung cepat, kesulitan bernapas saat menyusu, serta banyak berkeringat ketika makan.

Keringat saja memang tidak cukup untuk mendiagnosis PJB. Namun, jika bayi berkeringat deras setiap kali menyusu sekaligus bernapas cepat, cepat lelah, atau berat badannya sulit bertambah, kombinasi tersebut perlu dievaluasi oleh dokter.

5. Berat badan sulit naik

Bayi dengan PJB bisa terlihat terus menyusu, tetapi berat badanya tidak naik-naik atau sangat lambat.

Ada dua mekanisme yang sering terjadi bersamaan. Pertama, bayi tidak memperoleh cukup kalori karena terlalu cepat lelah untuk menyelesaikan susu. Kedua, tubuh justru membutuhkan energi lebih banyak karena jantung dan sistem pernapasan bekerja lebih keras.

Sebuah tinjauan tahun 2025 menjelaskan bahwa PJB dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan melalui kombinasi peningkatan kebutuhan metabolik, gangguan penyerapan, serta intoleransi makan. Studi lainnya juga menunjukkan masalah pertumbuhan paling nyata pada tahun pertama kehidupan.

Pertumbuhan bayi yang melambat tanpa penyebab jelas tidak boleh hanya dianggap sebagai masalah susah makan.

6. Bayi sangat lemas, mengantuk, atau sirkulasinya buruk

ilustrasi bayi yang mengantuk (unsplash.com/Minnie Zhou)

PJB kritis tertentu dapat mengurangi jumlah darah yang mampu dipompa ke seluruh tubuh.

Gejalanya bisa meliputi bayi sangat mengantuk, pucat atau keabuan atau kebiruan, denyut nadinya lemah, tangan dan kaki terasa dingin, gangguan makan, atau tampak makin lemas.

Pada sebagian kelainan, gejala justru baru muncul setelah beberapa hari. Sindrom jantung kiri hipoplastik, misalnya, bisa tidak menimbulkan masalah berarti pada hari-hari pertama karena ductus arteriosus (pembuluh darah khusus pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta) masih terbuka. Ketika saluran tersebut menutup secara alami, bayi dapat dengan cepat mengalami gangguan napas, denyut lemah, dan kulit membiru atau keabu-abuan.

Apakah bunyi murmur selalu menandakan bayi punya penyakit jantung?

Dokter mungkin mendengar murmur atau bunyi jantung tambahan ketika memeriksa bayi. Murmur dapat menjadi petunjuk adanya kelainan struktur jantung, tetapi banyak murmur pada anak bersifat tidak berbahaya. Sebaliknya, PJB tertentu juga tidak selalu menghasilkan murmur yang mudah terdengar.

Itulah sebabnya pemeriksaan jantung tidak hanya mengandalkan stetoskop.

Bayi bisa terlihat sehat meski memiliki PJB kritis

Tidak semua PJB kritis langsung membuat bayi tampak sakit.

Studi populasi nasional di Swedia terhadap 630 bayi dengan kelainan jantung bawaan kritis menemukan 89 persen terdiagnosis sebelum pulang dari rumah sakit atau meninggal. Namun, sekitar 10 persen sempat dipulangkan tanpa diagnosis, dan sebagian kemudian kembali ke rumah sakit dengan kegagalan sirkulasi.

Karena itu, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan skrining PJB kritis menggunakan oksimetri nadi pada bayi baru lahir. Alat ini mengukur saturasi oksigen pada tangan kanan dan salah satu kaki. Skrining tersebut melengkapi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan prenatal, tetapi tidak dapat menemukan seluruh jenis PJB.

Kapan bayi perlu segera dibawa mencari pertolongan?

ilustrasi dokter memeriksa bayi (magnific.com/prostooleh)

Bayi perlu mendapatkan pertolongan medis segera jika bibir atau lidah membiru, sulit bernapas atau napasnya makin berat, sangat lemas atau sulit dibangunkan, tidak mampu menyusu, atau tampak pucat/abu-abu dengan sirkulasi yang buruk.

Gejala-gejala tersebut tidak selalu disebabkan oleh penyakit jantung. Infeksi berat, penyakit paru, dan kondisi lain pada bayi juga dapat menghasilkan gejala serupa. Inilah alasan kenapa evaluasi dokter sangat penting.

Untuk gejala yang berkembang lebih perlahan—seperti selalu berkeringat saat menyusu, cepat kelelahan ketika minum susu, atau berat badan tidak bertambah sesuai harapan—pemeriksaan dokter juga diperlukan.

Pada PJB, gejala awal kadang bukan sesuatu yang dramatis. Aktivitas sederhana seperti menyelesaikan satu kali sesi menyusu dapat menjadi petunjuk bahwa jantung bayi harus bekerja jauh lebih keras daripada seharusnya.

Referensi

Belinda Chan, Anne Woodbury, Libbi Hazelwood, and Yogen Singh, “Feeding Approach to Optimizing Nutrition in Infants with Congenital Heart Disease,” Journal of Cardiovascular Development and Disease 12, no. 2 (2025): 38, doi:10.3390/jcdd12020038.

Sarah Peterson et al., “Feeding Challenges in the Newborn with Congenital Heart Disease,” Current Opinion in Pediatrics 34, no. 5 (2022), doi:10.1097/MOP.0000000000001162.

Jihye Lee et al., “Growth Failure in Children with Congenital Heart Disease,” Children 12, no. 5 (2025): 616, doi:10.3390/children12050616.

Katarina Lannering et al., “Screening for Critical Congenital Heart Defects in Sweden,” Pediatrics 152, no. 4 (2023): e2023061949, doi:10.1542/peds.2023-061949.

American Academy of Pediatrics, Section on Hospital Medicine and Committee on Fetus and Newborn, “Newborn Screening for Critical Congenital Heart Disease: A New Algorithm and Other Updated Recommendations: Clinical Report,” Pediatrics 155, no. 1 (2025): e2024069667, doi:10.1542/peds.2024-069667.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article