ilustrasi pasien demensia Alzheimer (magnific.com/jcomp)
Upaya menghadapi penyakit neurodegeneratif tidak cukup hanya dengan memperluas akses diagnosis dan layanan kesehatan. Menkes Budi negara kita perlu memperkuat riset untuk memahami bagaimana otak bekerja dan apa yang sebenarnya menyebabkan berbagai penyakit neurologis.
Ia menilai masih banyak hal mengenai otak yang belum dipahami manusia, termasuk mekanisme yang menyebabkan kerusakan atau gangguan pada neuron. Pemerintah saat ini mendorong tiga inisiatif nasional yang berkaitan dengan perkembangan teknologi kesehatan, yakni bioteknologi, akal imitasi (artificial intelligence/AI) di bidang kesehatan dan robotika.
Indonesia juga memiliki keunggulan dari sisi jumlah penduduk yang dapat menjadi sumber data dan objek penelitian dalam skala besar. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memahami karakteristik penyakit neurologis pada masyarakat sekaligus mengembangkan pendekatan kesehatan yang lebih sesuai dengan populasi lokal.
Penguatan riset tersebut juga membutuhkan kolaborasi dengan institusi dan peneliti internasional. Hal ini menjadi salah satu fokus dalam The 1st International King's–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026, yang mempertemukan dokter dan ahli neurologi dari Indonesia dengan para pakar dari King’s College London.
Menkes berharap kerja sama semacam ini dapat mempercepat pertukaran pengetahuan antara dokter dan peneliti Indonesia dengan komunitas ilmiah global.
“Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri,” Menkes Budi mengatakan.
Hal ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan dokter dalam menangani pasien, tetapi juga mendorong lahirnya penelitian mengenai penyakit otak yang lebih kuat. Dengan deteksi dini, riset, dan teknologi yang terus berkembang, Indonesia dapat mulai mempersiapkan diri menghadapi tantangan kesehatan yang muncul seiring usia hidup masyarakat yang lebih panjang.