Pada kelompok usia 11–17 tahun, ditemukan 60 kasus HIV. Sebanyak 4 kasus berasal dari penularan vertikal, sedangkan 56 kasus merupakan penularan horizontal yang ditemukan pada berbagai kelompok sasaran, termasuk pasien tuberkulosis, laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), ibu hamil, pasangan ODHIV, pekerja seks, maupun kelompok yang belum teridentifikasi faktor risikonya.
Hingga Juni tahun ini, 34 remaja masih menjalani pengobatan, 7 orang meninggal, dan 19 orang berstatus LFU. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan HIV, dan akses layanan kesehatan remaja yang ramah dan mudah dijangkau.
Pada kelompok usia 18–24 tahun mencatat 1.006 kasus HIV, dengan 1.005 merupakan penularan horizontal. Sebagian besar kasus ditemukan melalui layanan pada kelompok populasi kunci, antara lain:
LSL (521 kasus)
Populasi yang belum teridentifikasi faktor risikonya (210 kasus)
Ibu hamil (60 kasus)
Pasien tuberkulosis (44 kasus)
Pasangan berisiko tinggi (41 kasus)
Pasangan ODHIV (39 kasus)
Pekerja seks perempuan (32 kasus)
Pelanggan pekerja seks (24 kasus)
Transpuan (11 kasus)
Pasien infeksi menular seksual (9 kasus)
Warga binaan pemasyarakatan (8 kasus)
Calon pengantin (4 kasus).
Pengguna napza suntik (1 kasus).
Dari kelompok usia ini, 572 orang masih menjalani pengobatan, 123 orang meninggal, dan 311 orang berstatus LFU.
Data tersebut menunjukkan pentingnya perluasan skrining HIV pada berbagai pintu masuk layanan kesehatan serta penguatan pendampingan agar pasien tetap bertahan dalam pengobatan.
Kemenkes menegaskan bahwa keberhasilan program penanggulangan HIV tidak hanya diukur dari penurunan infeksi baru, tetapi juga dari makin banyaknya orang yang mengetahui status HIV, segera memulai terapi antiretroviral, dan mempertahankan pengobatan secara berkelanjutan. Makin dini seseorang mengetahui statusnya, makin besar peluang untuk hidup sehat, produktif, serta mencegah penularan kepada orang lain.