Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Indonesia Butuh 6 Ribuan Dokter Jantung, Baru Ada 1.639

Indonesia Butuh 6 Ribuan Dokter Jantung, Baru Ada 1.639
ilustrasi dokter spesialis jantung (magnific.com/katemangostar)
Intinya Sih
  • Kemenkes dan PERKI mempercepat pemenuhan dokter spesialis jantung seiring distribusi alat cath lab, dengan peningkatan signifikan jumlah dokter intervensi dari 99 pada 2020 menjadi 414 pada 2026.

  • Indonesia diproyeksikan membutuhkan 6.801 dokter jantung pada 2026, namun baru tersedia sekitar 1.639, dengan mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga pemerataan tenaga medis masih jadi tantangan besar.

  • Kemenkes mengirim dokter mengikuti fellowship luar negeri dan memperluas program studi jantung menjadi 18 institusi, menekankan pentingnya kualitas lulusan serta profesionalisme demi menjaga kepercayaan masyarakat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mempercepat pemenuhan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (Sp.JP) seiring dengan masifnya distribusi alat laboratorium kateterisasi (cath lab) ke ratusan kabupaten/kota di Indonesia

Dikutip dari keterangan di situs resmi Kemenkes, dalam enam tahun terakhir jumlah Sp.JP dengan kompetensi kardiologi intervensi meningkat 3,2 kali lipat.

Pemenuhan SDM menunjukkan hasil signifikan

Capaian ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, di mana ketersediaan alat kesehatan berteknologi tinggi di berbagai daerah tidak akan optimal dalam menyelamatkan pasien serangan jantung apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga ahli.

"Begitu alat-alat ini terpasang, masalah yang paling berat adalah masalah tenaganya," kata Menkes Budi.

Berdasarkan data Kemenkes, akselerasi pemenuhan sumber daya manusia (SDM) menunjukkan hasil yang signifikan. Pada 2020, Indonesia hanya memiliki 99 dokter Sp.JP dengan kompetensi kardiologi intervensi. Jumlah tersebut meningkat menjadi 414 dokter pada 2026, atau bertambah 315 orang.

Menkes Budi menyebutnya sebagai akselerasi pemenuhan dokter spesialis tercepat dibandingkan kelompok spesialis lainnya.

Tantangan pemerataan dokter jantung

Seorang pria mengenakan batik berbicara di podium dengan latar belakang hitam dan oranye pada acara Indonesia Summit 2026.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di acara Indonesia Summit 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Meski akselerasi terus berjalan, tetapi tantangan pemenuhan kebutuhan dokter jantung masih besar. Berdasarkan proyeksi tahun 2026, Indonesia butuh 6.801 dokter Sp.JP. Sementara itu, jumlah yang tersedia saat ini baru mencapai 1.639, sehingga masih ada defisit sebanyak 5.162 tenaga spesialis.

Selain jumlah yang masih terbatas, pemerataan spesialis pun menjadi tantangan. Sebanyak 63,8 persen dokter Sp.JP masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Guna mempercepat peningkatan kompetensi, Kemenkes juga secara rutin mengirim dokter spesialis mengikuti program fellowship jantung di luar negeri.

Hingga saat ini, sebanyak 98 dokter telah dikirim ke China, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Dari jumlah tersebut, 58 dokter telah menyelesaikan pendidikan dan kembali mengabdi di Indonesia. Dalam waktu dekat, 10 dokter Sp.JP tambahan juga akan diberangkatkan.

Harus diiringi SDM berkualitas

Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah, Renan Sukmawan, menegaskan bahwa peningkatan jumlah dokter harus diiringi dengan kualitas yang setara. Saat ini, program studi spesialis jantung di Indonesia telah berkembang dari dua menjadi 18 program studi berbasis universitas dan rumah sakit.

"Bagi kami di kolegium jantung, jalur pendidikan mana pun yang ditempuh tidak menjadi masalah. Yang paling penting adalah kualitas lulusannya harus sama melalui ujian nasional (board examination), demi melayani masyarakat di seluruh pelosok negeri," jelasnya.

Renan juga menekankan pentingnya menjaga etika profesi agar setiap tindakan medis benar-benar didasarkan pada kepentingan terbaik pasien. Ketepatan diagnosis dan terapi menjadi kunci untuk mencegah tindakan medis yang tidak diperlukan sekaligus memastikan anggaran BPJS Kesehatan digunakan secara efektif.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Menkes Budi. Menurutnya, profesionalisme merupakan fondasi kepercayaan masyarakat terhadap profesi dokter.

"Profesi ini akan hilang maknanya kalau masyarakat kehilangan kepercayaannya. Once the trust of the people is gone, then our profession juga hilang," ujarnya.

Ke depan, Kemenkes bersama Kolegium dan PERKI berkomitmen terus memperkuat kolaborasi dalam pemerataan layanan jantung di Indonesia.

Langkah strategis yang disiapkan meliputi pelatihan dokter umum di fasilitas pelayanan kesehatan primer, percepatan pemenuhan dokter spesialis intervensi di daerah yang masih kosong hingga penguatan layanan lanjutan seperti pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) dan terapi aritmia di tingkat provinsi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More