Dalam kondisi darurat, prioritasnya adalah memutus jalur penularan penyakit sebanyak mungkin.
Beberapa langkah yang paling penting antara lain:
Gunakan air kemasan, air yang direbus, atau air yang telah diolah jika keamanan sumber air diragukan.
Cuci tangan dengan sabun, terutama setelah dari toilet dan sebelum menyiapkan atau makan makanan.
Jangan mengonsumsi makanan yang terkena air banjir.
Hindari kontak dengan air banjir sebisa mungkin.
Tutup luka dengan baik dan jaga tetap bersih.
Jangan berbagi handuk atau pakaian jika ada penyakit kulit menular.
Hilangkan genangan air dan lindungi tubuh dari gigitan nyamuk.
Segera laporkan peningkatan kasus diare, demam, penyakit kulit, atau gangguan pernapasan di tempat pengungsian.
Setelah bencana, air keran mungkin tidak aman digunakan bahkan untuk menggosok gigi, mencuci makanan, mencuci piring, atau membuat susu formula bayi. Jika kualitasnya belum dipastikan, gunakan air kemasan, air yang direbus, atau air yang telah diolah.
Makanan yang terkena air banjir juga sebaiknya dibuang. Makanan dapat mengandung kuman berbahaya meskipun tampilan dan baunya masih normal.
Jadi, setelah bencana, penyakit infeksi tidak pasti terjadi. Air bersih, sanitasi yang layak, makanan aman, kebersihan tangan, tempat pengungsian yang tidak terlalu padat, dan deteksi penyakit sejak dini dapat mencegah banyak kasus. Justru kondisi setelah bencana yang menentukan seberapa besar risiko penyakit menular berkembang.
Referensi
Eileen L. Yee et al., “Widespread Outbreak of Norovirus Gastroenteritis Among Evacuees of Hurricane Katrina Residing in a Large ‘Megashelter’ in Houston, Texas: Lessons Learned for Prevention,” Clinical Infectious Diseases 44, no. 8 (2007): 1032–1039, doi:10.1086/512195.
Boonfei Tan, Patrick De Vera, Josephine Abrazaldo, and Charmaine Ng, “Flood-Associated Disease Outbreaks and Transmission in Southeast Asia,” Frontiers in Microbiology 16 (2025): 1694246, doi:10.3389/fmicb.2025.1694246.
Şule Gençoğlu and Neslihan Cansel, “A Cross-Sectional Analysis of Psychological and Dermatologic Manifestations Post-February 6 Earthquakes in Dermatology Patients,” Annals of Dermatology 38, no. 2 (2026): 108–116, doi:10.5021/ad.25.072.
John T. Watson, Michelle Gayer, and Maire A. Connolly, “Epidemics after Natural Disasters,” Emerging Infectious Diseases 13, no. 1 (2007): 1–5, doi:10.3201/eid1301.060779.
Miran Walika, Maria Moitinho De Almeida, Rafael Castro Delgado, and Pedro Arcos González, “Outbreaks Following Natural Disasters: A Review of the Literature,” Disaster Medicine and Public Health Preparedness 17 (2023): e444, doi:10.1017/dmp.2023.96.
Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Leptospirosis after Hurricanes or Flooding,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “How to Make Water Safe in an Emergency,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Keep Food Safe After a Disaster or Emergency,” diakses Agustus 2026.