Untuk saat ini, CT scan dosis rendah belum direkomendasikan sebagai skrining rutin bagi semua orang yang tidak pernah merokok.
Sebagai contoh, pedoman US Preventive Services Task Force merekomendasikan skrining tahunan bagi kelompok berisiko tinggi berdasarkan usia dan riwayat merokok: usia 50–80 tahun, memiliki riwayat sedikitnya 20 pack-year, serta masih merokok atau baru berhenti dalam 15 tahun terakhir.
Skrining pada kelompok berisiko rendah dapat menemukan bintil paru yang sebenarnya jinak. Temuan tersebut dapat memicu pemeriksaan berulang, kecemasan, biopsi yang tidak diperlukan, paparan radiasi, dan diagnosis kanker yang mungkin tidak pernah menimbulkan masalah selama hidup.
Namun, skrining berbeda dengan pemeriksaan karena gejala. Orang yang tidak pernah merokok tetap perlu menemui dokter apabila mengalami:
Batuk yang tidak kunjung hilang atau berubah sifat.
Batuk darah.
Sesak napas yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan.
Nyeri dada menetap.
Suara serak.
Berat badan turun tanpa sebab.
Kelelahan yang tidak biasa.
Infeksi paru yang berulang.
Gejala awal kanker paru dapat ringan dan mudah disangka sebagai gangguan pernapasan biasa. Riwayat tidak merokok tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keluhan yang menetap.
Beberapa langkah yang disarankan untuk mengurangi risiko antara lain:
Menjaga rumah dan kendaraan bebas asap rokok.
Mematuhi perlindungan kerja jika terpapar debu atau bahan kimia.
Memperhatikan kualitas udara.
Mengurangi aktivitas berat di luar ruangan saat polusi sangat tinggi.
Pemeriksaan radon dapat dipertimbangkan di negara atau wilayah yang diketahui memiliki masalah radon dan menyediakan layanan pengujian.
Orang dengan paparan asbes atau radon yang tinggi, riwayat terapi radiasi dada, penyakit paru kronis tertentu, atau beberapa anggota keluarga dengan kanker paru sebaiknya mendiskusikan risikonya secara personal dengan dokter untuk menentukan apakah evaluasi lebih lanjut diperlukan.
Tidak merokok merupakan perlindungan terbesar terhadap kanker paru. Namun, sayangnya itu bukan jaminan mutlak. Akan tetapi, orang yang tidak merokok tidak perlu hidup dalam ketakutan atau menjalani pemindaian tanpa indikasi, tetapi juga tidak seharusnya menunda pemeriksaan saat mengalami gejala yang tidak biasa.
Referensi
Jaclyn LoPiccolo, Alexander Gusev, David C. Christiani, dan Pasi A. Jänne, “Lung Cancer in Patients Who Have Never Smoked—An Emerging Disease,” Nature Reviews Clinical Oncology 21, no. 2 (2024): 121–146, https://doi.org/10.1038/s41571-023-00844-0.
National Cancer Institute, “Tracing Lung Cancer Mutational Processes in Never Smokers,” diakses Juli 2026.
Heather A. Wakelee et al., “Lung Cancer Incidence in Never Smokers,” Journal of Clinical Oncology 25, no. 5 (2007): 472–478, https://doi.org/10.1200/JCO.2006.07.2983.
World Health Organization Regional Office for Europe, “Effects of Tobacco on Health,” diakses Juli 2026.
Gaofeng Luo et al., “Estimated Worldwide Variation and Trends in Incidence of Lung Cancer by Histological Subtype in 2022 and over Time: A Population-Based Study,” The Lancet Respiratory Medicine 13 (2025), https://doi.org/10.1016/S2213-2600(24)00428-4.
International Agency for Research on Cancer, “Global Lung Cancer Incidence According to Subtype,” diakses Juli 2026.
National Cancer Institute, “NIH Study Illuminates Origins of Lung Cancer in Never Smokers,” diakses Juli 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Health Problems Caused by Secondhand Smoke,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Radon and Health,” diakses Juli 2026.
US Preventive Services Task Force, “Screening for Lung Cancer: US Preventive Services Task Force Recommendation Statement,” JAMA 325, no. 10 (2021): 962–970, diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Lung Cancer,” diakses Juli 2026.