Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Pernah Merokok, Seberapa Besar Risiko Kanker Paru?
ilustrasi berhenti merokok (IDN Times/NRF)
  • Meskipun tidak merokok, tetapi seseorang tetap berisiko terkena kanker paru, dengan sekitar 10–25 persen kasus global terjadi pada kelompok nonperokok, terutama jenis adenokarsinoma.

  • Faktor risiko utama bagi nonperokok meliputi paparan asap rokok orang lain, gas radon, polusi udara, serta bahan kimia di tempat kerja seperti asbes dan arsenik.

  • Skrining CT scan rutin belum direkomendasikan untuk nonperokok; namun pemeriksaan medis penting dilakukan bila muncul gejala seperti batuk lama, sesak napas, atau nyeri dada.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada keluhan batuk berlangsung lama, orang yang tidak pernah merokok mungkin tidak langsung memikirkan kanker paru-paru. Bisa dimengerti, karena rokok memang merupakan faktor risiko utama kanker paru.

Namun, tidak pernah merokok bukan berarti paru-paru kebal terhadap kanker. Sebagian kanker paru berkembang pada orang yang tidak memiliki riwayat merokok, bahkan ketika tidak ditemukan paparan lingkungan yang jelas.

Dalam penelitian, seseorang biasanya disebut tidak pernah merokok apabila sepanjang hidupnya tidak pernah merokok atau menghabiskan kurang dari 100 batang rokok. Kanker paru pada kelompok ini memiliki pola penyebab dan karakteristik biologis yang dalam beberapa hal berbeda dari kanker paru akibat rokok.

1. Risikonya jauh lebih rendah, tetapi bukan nol

Diperkirakan sekitar 10–25 persen kasus kanker paru di dunia terjadi pada orang yang tidak pernah merokok. Artinya, dari seluruh pasien yang sudah didiagnosis kanker paru, sebagian tidak memiliki riwayat merokok.

Sebuah analisis terhadap enam kelompok penelitian menemukan bahwa pada orang berusia 40–79 tahun yang tidak pernah merokok, angka kejadian kanker paru berkisar:

  • 14,4–20,8 kasus per 100 ribu orang per tahun pada perempuan.

  • 4,8–13,7 kasus per 100 ribu orang per tahun pada laki-laki.

Angkanya berbeda menurut usia, jenis kelamin, populasi, dan wilayah penelitian. Dalam studi yang sama, kejadian kanker paru pada perokok aktif sekitar 10–30 kali lebih tinggi dibanding orang yang tidak pernah merokok.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut orang yang merokok dapat memiliki risiko kanker paru hingga sekitar 22 kali lebih tinggi daripada nonperokok. Kesimpulannya risiko nonperokok rendah tapi nyata, terutama jika jutaan orang terpapar faktor lingkungan setiap hari.

Kanker paru pada orang yang tidak pernah merokok paling sering berupa adenokarsinoma, jenis kanker yang biasanya bermula pada bagian tepi paru. Studi global dari International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan bahwa adenokarsinoma mencakup hingga sekitar 70 persen kanker paru pada kelompok tersebut.

2. Dari mana risikonya berasal?

ilustrasi asap rokok (pexel.com/Pixabay)

Tidak semua kasus memiliki penyebab yang dapat ditemukan. National Cancer Institute menjelaskan bahwa para ilmuwan belum mengetahui pemicu pasti pada sebagian besar kanker paru dalam kelompok yang tidak pernah merokok. Kanker dapat terbentuk melalui kombinasi kerusakan DNA yang terjadi secara alami, kerentanan genetik, proses penuaan, dan paparan lingkungan.

Beberapa faktor yang telah diketahui meliputi:

  • Paparan asap rokok orang lain

Tidak ikut merokok bukan berarti tidak menghirup zat dari rokok. Paparan asap rokok orang lain meningkatkan risiko kanker paru pada orang dewasa yang tidak merokok sekitar 20–30 persen. Makin lama dan tinggi paparannya, makin besar risikonya.

  • Radon

Radon adalah gas radioaktif alami yang dapat keluar dari tanah dan terakumulasi di dalam bangunan. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau sehingga hanya dapat diketahui melalui pengukuran. WHO menyebut radon sebagai salah satu penyebab penting kanker paru pada orang yang tidak pernah merokok.

Risikonya sangat bergantung pada kadar radon di lingkungan dan durasi paparan. Kondisi geologi serta konstruksi bangunan membuat tingkat paparan berbeda antarwilayah.

  • Polusi udara

Polusi udara luar, terutama partikel halus, telah diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia. Analisis IARC memperkirakan sekitar 200 ribu kasus adenokarsinoma paru secara global pada 2022 berkaitan dengan paparan polusi partikel di udara. Beban terbesarnya ditemukan di Asia Timur.

Risiko terbentuk melalui paparan jangka panjang, bersama faktor usia, kondisi tubuh, dan paparan lainnya.

  • Paparan pekerjaan dan kondisi kesehatan

Asbes, arsenik, silika, asap diesel, serta beberapa logam dan bahan kimia di tempat kerja juga dapat meningkatkan risiko. Faktor lain mencakup terapi radiasi pada dada, riwayat penyakit paru tertentu, serta keluarga dekat dengan kanker paru.

Orang Asia Timur dan perempuan terlihat lebih banyak terwakili dalam sejumlah kelompok pasien kanker paru yang tidak pernah merokok. Namun, identitas tersebut bukan penyebab tunggal dan tidak bisa dipakai untuk memprediksi risiko seseorang tanpa mempertimbangkan usia, keluarga, lingkungan, dan kondisi kesehatannya.

3. Perlukah nonperokok menjalani CT scan rutin?

Untuk saat ini, CT scan dosis rendah belum direkomendasikan sebagai skrining rutin bagi semua orang yang tidak pernah merokok.

Sebagai contoh, pedoman US Preventive Services Task Force merekomendasikan skrining tahunan bagi kelompok berisiko tinggi berdasarkan usia dan riwayat merokok: usia 50–80 tahun, memiliki riwayat sedikitnya 20 pack-year, serta masih merokok atau baru berhenti dalam 15 tahun terakhir.

Skrining pada kelompok berisiko rendah dapat menemukan bintil paru yang sebenarnya jinak. Temuan tersebut dapat memicu pemeriksaan berulang, kecemasan, biopsi yang tidak diperlukan, paparan radiasi, dan diagnosis kanker yang mungkin tidak pernah menimbulkan masalah selama hidup.

Namun, skrining berbeda dengan pemeriksaan karena gejala. Orang yang tidak pernah merokok tetap perlu menemui dokter apabila mengalami:

  • Batuk yang tidak kunjung hilang atau berubah sifat.

  • Batuk darah.

  • Sesak napas yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan.

  • Nyeri dada menetap.

  • Suara serak.

  • Berat badan turun tanpa sebab.

  • Kelelahan yang tidak biasa.

  • Infeksi paru yang berulang.

Gejala awal kanker paru dapat ringan dan mudah disangka sebagai gangguan pernapasan biasa. Riwayat tidak merokok tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan keluhan yang menetap.

Beberapa langkah yang disarankan untuk mengurangi risiko antara lain:

  • Menjaga rumah dan kendaraan bebas asap rokok.

  • Mematuhi perlindungan kerja jika terpapar debu atau bahan kimia.

  • Memperhatikan kualitas udara.

  • Mengurangi aktivitas berat di luar ruangan saat polusi sangat tinggi.

  • Pemeriksaan radon dapat dipertimbangkan di negara atau wilayah yang diketahui memiliki masalah radon dan menyediakan layanan pengujian.

Orang dengan paparan asbes atau radon yang tinggi, riwayat terapi radiasi dada, penyakit paru kronis tertentu, atau beberapa anggota keluarga dengan kanker paru sebaiknya mendiskusikan risikonya secara personal dengan dokter untuk menentukan apakah evaluasi lebih lanjut diperlukan.

Tidak merokok merupakan perlindungan terbesar terhadap kanker paru. Namun, sayangnya itu bukan jaminan mutlak. Akan tetapi, orang yang tidak merokok tidak perlu hidup dalam ketakutan atau menjalani pemindaian tanpa indikasi, tetapi juga tidak seharusnya menunda pemeriksaan saat mengalami gejala yang tidak biasa.

Referensi

Jaclyn LoPiccolo, Alexander Gusev, David C. Christiani, dan Pasi A. Jänne, “Lung Cancer in Patients Who Have Never Smoked—An Emerging Disease,” Nature Reviews Clinical Oncology 21, no. 2 (2024): 121–146, https://doi.org/10.1038/s41571-023-00844-0.

National Cancer Institute, “Tracing Lung Cancer Mutational Processes in Never Smokers,” diakses Juli 2026.

Heather A. Wakelee et al., “Lung Cancer Incidence in Never Smokers,” Journal of Clinical Oncology 25, no. 5 (2007): 472–478, https://doi.org/10.1200/JCO.2006.07.2983.

World Health Organization Regional Office for Europe, “Effects of Tobacco on Health,” diakses Juli 2026.

Gaofeng Luo et al., “Estimated Worldwide Variation and Trends in Incidence of Lung Cancer by Histological Subtype in 2022 and over Time: A Population-Based Study,” The Lancet Respiratory Medicine 13 (2025), https://doi.org/10.1016/S2213-2600(24)00428-4.

International Agency for Research on Cancer, “Global Lung Cancer Incidence According to Subtype,” diakses Juli 2026.

National Cancer Institute, “NIH Study Illuminates Origins of Lung Cancer in Never Smokers,” diakses Juli 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Health Problems Caused by Secondhand Smoke,” diakses Juli 2026.

World Health Organization, “Radon and Health,” diakses Juli 2026.

US Preventive Services Task Force, “Screening for Lung Cancer: US Preventive Services Task Force Recommendation Statement,” JAMA 325, no. 10 (2021): 962–970, diakses Juli 2026.

World Health Organization, “Lung Cancer,” diakses Juli 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article