Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Artritis Bisa Menyebabkan Kelelahan Berkepanjangan?
ilustrasi kelelahan akibat artritis (pexels.com/Kaboompics)
  • Kelelahan pada artritis bukan capek biasa. Peradangan kronis melepaskan sitokin yang memengaruhi sistem saraf dan dapat membuat tubuh lemas meski pembengkakan sendi tidak terlihat.

  • Nyeri terus-menerus dan gangguan tidur membuat aktivitas harian membutuhkan tenaga lebih besar serta menghambat pemulihan energi, menciptakan lingkaran kelelahan yang berulang.

  • Kurang aktivitas, stres, efek obat, anemia, dan penyakit penyerta dapat memperparah kelelahan. Keluhan yang memberat atau disertai gejala lain perlu dievaluasi dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Artritis atau radang sendi dikenal sebagai penyakit yang menyebabkan nyeri, bengkak, dan kekakuan pada persendian. Namun, dampaknya tidak hanya pada sendi. Banyak pasien artritis juga mengalami kelelahan yang berlangsung terus-menerus, bahkan saat tidak melakukan aktivitas berat.

Kelelahan akibat artritis berbeda dengan rasa lelah biasa yang umumnya membaik setelah istirahat atau tidur. Kondisi ini dapat membuat tubuh terasa kurang bertenaga sepanjang hari sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit. Penyebabnya pun tidak hanya satu, melainkan beberapa faktor yang saling berkaitan.

1. Peradangan kronis memengaruhi energi tubuh

Pada beberapa jenis artritis, seperti artritis reumatoid, artritis psoriatik, dan ankylosing spondylitis, sistem kekebalan tubuh memicu peradangan yang berlangsung terus-menerus. Proses ini menyebabkan pelepasan zat kimia bernama sitokin yang membantu mengatur respons peradangan.

Sitokin dapat memengaruhi sistem saraf dan menimbulkan gejala seperti lemas, mengantuk, serta kehilangan energi. Respons ini mirip dengan saat tubuh sedang melawan infeksi. Bedanya, pada artritis inflamasi, peradangan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Karena itu, peradangan menjadi salah satu penyebab utama kelelahan pada penderita artritis. Bahkan ketika pembengkakan sendi tidak terlalu terlihat, aktivitas peradangan di dalam tubuh tetap dapat menyebabkan rasa lelah yang berkepanjangan.

2. Nyeri sendi terus-menerus menguras tenaga

Mengalami nyeri selama berhari-hari tentu berbeda dengan merasakan sakit sesekali. Pada orang dengan artritis, rasa nyeri bisa muncul ketika berjalan, berdiri, menaiki tangga, atau sekadar menggenggam benda. Akibatnya, aktivitas yang biasanya mudah dilakukan membutuhkan usaha lebih besar.

Nyeri berkepanjangan juga menguras energi secara mental. Seseorang harus terus menyesuaikan gerakan, mencari posisi yang nyaman, dan menghadapi ketidaknyamanan yang mungkin muncul sepanjang hari.

Kelelahan pada artritis reumatoid tidak hanya berkaitan dengan peradangan. Nyeri, gangguan tidur, kondisi psikologis, obesitas, dan penyakit penyerta juga memiliki peran penting. Artinya, mengendalikan peradangan saja belum tentu cukup untuk mengatasi seluruh keluhan kelelahan.

3. Gangguan tidur membuat tubuh sulit memulihkan energi

ilustrasi tidak bisa tidur (pexels.com/cottonbro studio)

Tidur seharusnya membantu tubuh memulihkan energi. Namun, pada pasien artritis, nyeri dan kekakuan sendi sering membuat tidur menjadi tidak nyenyak.

Rasa sakit dapat menyulitkan seseorang menemukan posisi tidur yang nyaman. Bahkan, gerakan sederhana seperti membalikkan badan bisa memicu nyeri dan membuatnya terbangun berulang kali sepanjang malam.

Akibatnya, tubuh tidak mendapat istirahat yang cukup sehingga kelelahan pada siang hari menjadi makin berat. Di sisi lain, kelelahan yang terus-menerus juga dapat mengganggu pola tidur. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat membentuk lingkaran yang membuat tubuh sulit mendapatkan pemulihan yang optimal.

4. Berkurangnya aktivitas fisik membuat tubuh semakin mudah lelah

Ketika sendi terasa nyeri, banyak penderita artritis memilih mengurangi aktivitas untuk menghindari rasa sakit. Istirahat memang penting, terutama saat gejala sedang kambuh. Namun, terlalu lama tidak bergerak juga dapat menimbulkan masalah.

Kurangnya aktivitas fisik dapat menurunkan kekuatan otot serta kebugaran jantung dan paru-paru. Akibatnya, aktivitas sehari-hari yang sebelumnya terasa ringan bisa menjadi lebih melelahkan.

Karena itu, penderita artritis tetap dianjurkan untuk tetap aktif sesuai kemampuan dan kondisi sendinya. Aktivitas seperti berjalan kaki, berenang, bersepeda, atau latihan kekuatan ringan dapat membantu menjaga kebugaran. Jenis dan intensitas latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing, terutama saat gejala sedang memburuk.

5. Stres dan tekanan emosional turut memperburuk kelelahan

Hidup dengan artritis tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental. Penderitanya sering harus menghadapi nyeri yang datang dan pergi, menjalani pengobatan, membatasi aktivitas tertentu, serta memikirkan dampak penyakit ini di masa depan.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan stres dan memengaruhi suasana hati. Pada sebagian orang, kecemasan atau depresi juga dapat muncul dan ikut memperparah kelelahan.

Karena itu, kelelahan pada artritis tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fisik, tetapi juga faktor psikologis. Keduanya saling berkaitan. Nyeri dapat meningkatkan stres dan beban emosional, sementara gangguan suasana hati dapat membuat rasa sakit dan kelelahan terasa lebih berat.

6. Efek obat dan kondisi kesehatan lain juga bisa berperan

ilustrasi obat (magnific.com/pressfoto)

Tidak semua kelelahan pada pasien artritis disebabkan langsung oleh penyakit sendinya. Beberapa obat yang digunakan untuk mengendalikan gejala, termasuk pereda nyeri tertentu dan methotrexate, dapat menyebabkan rasa lelah pada sebagian orang.

Selain itu, kondisi lain seperti anemia, gangguan tiroid, diabetes, atau infeksi juga dapat memperparah kelelahan. Pada artritis inflamasi, peradangan yang berlangsung lama dapat memicu anemia sehingga kemampuan darah membawa oksigen berkurang. Akibatnya, tubuh lebih mudah lemas dan cepat lelah.

Karena penyebabnya beragam, kelelahan berkepanjangan tidak boleh langsung dianggap sebagai bagian normal dari artritis. Segera temui dokter jika rasa lelah memberat, baru muncul, atau disertai gejala lain seperti demam, penurunan berat badan tanpa sebab, sesak napas, atau pusing. Dokter dapat menilai apakah keluhan tersebut berkaitan dengan aktivitas penyakit, pengobatan, atau masalah kesehatan lainnya.

Kelelahan pada artritis bukan capek biasa. Peradangan, nyeri, gangguan tidur, kurangnya aktivitas fisik, faktor emosional, efek obat, dan penyakit penyerta dapat berperan. Memahami berbagai penyebabnya penting agar kelelahan dapat ditangani dengan tepat dan tidak terus mengganggu kualitas hidup.

Referensi

Arthritis Foundation. Diakses pada Oktober 2026. "Causes of Fatigue in Arthritis."

Arthritis UK. Diakses pada Oktober 2026. "Coping With and Managing Arthritis Fatigue."

The Arthritis Movement. Diakses pada Oktober 2026. "Arthritis and Fatigue."

The Arthritis Movement. Diakses pada Oktober 2026. "Fighting Fatigue? Tips to help."

The Arthritis Movement. Diakses pada Oktober 2026. "Understanding Fatigue in Arthritis: Why Does Arthritis Make You Tired?"

Curated For You

Editorial Team

Related Article