Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Siang Hari Lebih Ngantuk Saat Puasa? Ini Penjelasannya
ilustrasi mengantuk (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Rasa kantuk di siang hari saat puasa terutama dipengaruhi oleh perubahan ritme sirkadian dan pola tidur, bukan semata karena perut kosong.

  • Perubahan pola makan dan fluktuasi gula darah ikut memengaruhi energi dan kewaspadaan.

  • Kualitas tidur malam, hidrasi, dan paparan cahaya pagi berperan penting dalam menjaga kewaspadaan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setuju kalau siang hari di bulan Ramadan sering terasa lebih berat? Mata sulit terbuka lebar, fokus mudah buyar, dan energi seperti terkuras setelah tengah hari. Banyak orang mengaitkannya langsung dengan tidak makan dan minum. Padahal, mekanismenya lebih kompleks dari sekadar perut kosong.

Puasa mengubah ritme biologis harian. Waktu makan berpindah ke malam dan dini hari, jam tidur sering terpotong karena sahur, dan aktivitas sosial pun bergeser. Tubuh yang terbiasa dengan pola tertentu harus melakukan penyesuaian dalam waktu singkat. Adaptasi inilah yang sering memunculkan rasa kantuk pada siang hari.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perubahan pola tidur selama Ramadan memiliki dampak signifikan terhadap kewaspadaan dan performa kognitif di siang hari. Artinya, rasa ngantuk bukan cuma berarti kurang energi, melainkan ada respons biologis terhadap perubahan ritme tubuh.

1. Pergeseran ritme sirkadian

Tubuh manusia bekerja mengikuti jam biologis internal yang disebut ritme sirkadian. Ritme ini mengatur siklus tidur-bangun, suhu tubuh, pelepasan hormon, hingga rasa kantuk.

Selama Ramadan, waktu tidur sering mundur karena ibadah malam atau aktivitas sosial setelah berbuka, lalu terpotong lagi untuk sahur. Pola tidur yang terfragmentasi (terpotong-potong) ini mengganggu sinkronisasi ritme sirkadian. Studi menunjukkan adanya pergeseran fase tidur dan peningkatan rasa kantuk pada siang hari selama Ramadan.

Tubuh memang punya penurunan tenaga alami di awal sampai pertengahan siang: meski tidur malam cukup, kamu bisa merasa mengantuk atau kurang fokus pada periode itu. Kalau ditambah kurang tidur, rasa lelah dan menurunnya kewaspadaan jadi lebih kuat dan lebih lama.

2. Kurang tidur dan fragmentasi tidur

ilustrasi pekerja mengantuk (freepik.com/author/benzoix)

Para ahli merekomendasikan durasi tidur 7–9 jam per malam untuk orang dewasa. Selama Ramadan, banyak orang tidak mencapai angka ini secara utuh.

Penelitian menemukan bahwa total durasi tidur selama Ramadan sering berkurang dan kualitas tidur menurun akibat bangun dini hari serta perubahan jadwal. Kurang tidur kronis, bahkan hanya 1–2 jam per malam, dapat menurunkan kewaspadaan, memperlambat waktu reaksi, dan meningkatkan rasa kantuk di siang hari.

Kantuk yang muncul bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan konsekuensi biologis dari utang tidur yang terakumulasi.

3. Perubahan pola makan dan metabolisme

Selama puasa, tubuh beralih dari penggunaan glukosa sebagai sumber energi utama ke peningkatan oksidasi lemak, terutama setelah beberapa jam tanpa asupan. Proses ini dikenal sebagai metabolic switching.

Pada fase awal adaptasi, sebagian orang mungkin merasakan penurunan energi subjektif. Selain itu, konsumsi makanan tinggi gula saat sahur atau berbuka dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan kadar glukosa darah yang cepat, yang berkontribusi terhadap rasa lemas dan kantuk.

Namun, studi menunjukkan bahwa pada individu sehat, kadar glukosa selama puasa relatif stabil karena mekanisme kompensasi hormon seperti glukagon dan kortisol. Jadi, rasa kantuk lebih sering berkaitan dengan pola tidur dibanding hipoglikemia.

4. Dehidrasi ringan dan dampaknya pada kognisi

ilustrasi seorang pria mengantuk (freepik.com/KamranAydinov)

Cairan tubuh memengaruhi kerja otak. Dehidrasi ringan, yaitu sekitar 1–2 persen dari berat badan (misalnya orang dengan berat 70 kg kehilangan 0,7–1,4 kg cairan), sudah bisa membuat konsentrasi menurun dan rasa lelah terasa lebih kuat.

Saat puasa, minum hanya bisa dilakukan di malam hari. Kalau saat berbuka dan sahur kamu tidak minum cukup, dehidrasi ringan ini bisa membuat rasa kantuk dan lesu jadi lebih parah.

Dehidrasi ringan saja sudah cukup menurunkan performa fisik dan mental. Jadi meski bukan satu‑satunya penyebab, menjaga cairan dengan baik tetap penting untuk tetap waspada.

5. Faktor psikologis dan beban aktivitas

Perubahan rutinitas kerja dan sosial selama Ramadan juga memengaruhi persepsi energi. Beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan suasana hati dan tingkat stres yang dapat memodulasi rasa kantuk.

Selain itu, ekspektasi bahwa puasa pasti bikin lemas dapat memperkuat persepsi subjektif terhadap kelelahan. Persepsi ini nyata dirasakan, meski tidak selalu didukung perubahan fisiologis yang signifikan.

Tubuh dan pikiran saling terhubung. Ketika tidur cukup, nutrisi seimbang, dan hidrasi terjaga, banyak orang melaporkan peningkatan fokus justru pada minggu kedua atau ketiga Ramadan.

Cara mengurangi mengantuk di siang hari

ilustrasi berjemur di teras rumah (freepik.com/pikisuperstar)

Berikut ini beberapa cara untuk mengurangi mengantuk di siang hari yang berbasis ritme biologis:

  • Prioritaskan tidur total 7–9 jam dalam 24 jam, meski terbagi antara malam dan tidur siang singkat.

  • Batasi konsumsi gula sederhana saat sahur. Pilih karbohidrat kompleks dan protein agar energi lebih stabil.

  • Paparan cahaya pagi. Cahaya alami membantu menyinkronkan ritme sirkadian.

  • Hidrasi optimal saat malam. Minum bertahap antara berbuka dan sahur.

Strategi sederhana ini sering kali lebih efektif daripada sekadar mengonsumsi kafein saat berbuka.

Rasa ngantuk di siang hari saat puasa sering kali merupakan hasil interaksi antara ritme sirkadian yang berubah, kurang tidur, perubahan metabolisme, dan hidrasi.

Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Dengan menjaga kualitas tidur, pola makan yang seimbang, dan hidrasi yang cukup, kantuk di siang hari dapat diminimalkan.

Referensi

BaHamman, A. (2003). "Sleep pattern, daytime sleepiness, and eating habits during the month of Ramadan." Sleep and Hypnosis, 5(4), 165–174.

C. A. Czeisler and J. J. Gooley, “Sleep and Circadian Rhythms in Humans,” Cold Spring Harbor Symposia on Quantitative Biology 72, no. 1 (January 1, 2007): 579–97, https://doi.org/10.1101/sqb.2007.72.064.

Rachida Roky et al., “Daytime Alertness, Mood, Psychomotor Performances, and Oral Temperature During Ramadan Intermittent Fasting,” Annals of Nutrition and Metabolism 44, no. 3 (January 1, 2000): 101–7, https://doi.org/10.1159/000012830.

“Sleep Duration Recommendations.” National Sleep Foundation. Diakses Februari 2026.

Ahmed Bahammam, “Effect of Fasting During Ramadan on Sleep Architecture, Daytime Sleepiness and Sleep Pattern,” Sleep and Biological Rhythms 2, no. 2 (June 1, 2004): 135–43, https://doi.org/10.1111/j.1479-8425.2004.00135.x.

Hans P.A. Van Dongen et al., “The Cumulative Cost of Additional Wakefulness: Dose-Response Effects on Neurobehavioral Functions and Sleep Physiology From Chronic Sleep Restriction and Total Sleep Deprivation,” SLEEP 26, no. 2 (March 1, 2003): 117–26, https://doi.org/10.1093/sleep/26.2.117.

Mark P. Mattson et al., “Intermittent Metabolic Switching, Neuroplasticity and Brain Health,” Nature Reviews. Neuroscience 19, no. 2 (January 11, 2018): 81–94, https://doi.org/10.1038/nrn.2017.156.

Hayley Young and David Benton, “The Glycemic Load of Meals, Cognition and Mood in Middle and Older Aged Adults With Differences in Glucose Tolerance: A Randomized Trial,” E-SPEN Journal 9, no. 4 (April 24, 2014): e147–54, https://doi.org/10.1016/j.clnme.2014.04.003.

American College of Sports Medicine. "ACSM’s Guidelines for Exercise Testing and Prescription. 11th ed." Philadelphia: Wolters Kluwer, 2021.

Casandra Madrigal et al., “Dietary Intake, Nutritional Adequacy and Food Sources of Total Fat and Fatty Acids, and Relationships With Personal and Family Factors in Spanish Children Aged One to ≪10 Years: Results of the EsNuPI Study,” Nutrients 12, no. 8 (August 16, 2020): 2467, https://doi.org/10.3390/nu12082467.

Editorial Team