Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Virus Bisa Berubah dan Menghasilkan Varian Baru?
ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)
  • Virus berubah karena proses penyalinan cepat yang sering menimbulkan mutasi acak, terutama pada virus RNA, dan sebagian mutasi bisa memberi keuntungan bagi kelangsungan hidupnya.
  • Mutasi yang menguntungkan dapat membuat virus lebih mudah menular atau bertahan, lalu menyebar luas melalui seleksi alam hingga membentuk varian baru yang dominan di populasi.
  • Sistem imun dan rekombinasi genetik turut mendorong evolusi virus, sementara tidak semua varian baru lebih berbahaya; pemantauan ilmiah penting untuk memahami dampaknya terhadap manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Virus yang sama bisa memiliki banyak versi berbeda. Lewat pemberitaan kamu mungkin pernah dengar istilah “varian baru” saat suatu penyakit sedang menyebar luas. Namun, bagaimana sebenarnya virus bisa berubah dan menghasilkan versi yang berbeda dari sebelumnya?

Di balik munculnya varian baru, ada proses biologis yang berlangsung setiap kali virus memperbanyak diri di dalam tubuh makhluk hidup. Dari proses tersebut, perubahan kecil dapat muncul, dan dalam kondisi tertentu, terus menyebar di antara manusia.

Lantas, mengapa virus bisa mengalami perubahan? Dan mengapa beberapa perubahan dapat membuat sebuah varian menjadi lebih mudah menyebar dibandingkan versi sebelumnya? Ini dia penjelasannya!

1. Virus menyalin diri dengan cepat

Virus layaknya mesin fotokopi yang bekerja cepat. Setiap kali masuk ke dalam sel, virus memerintahkan sel tersebut untuk membuat banyak salinan virus baru.

Makin banyak salinan yang dibuat, makin besar pula kemungkinan munculnya kesalahan dalam proses penyalinan materi genetik. Pada virus tertentu, terutama virus RNA, proses ini memang cenderung lebih mudah menghasilkan kesalahan dibanding proses penyalinan DNA pada organisme lain.

Namun, tidak semua kesalahan akan menghasilkan perubahan besar. Sebagian mutasi tidak memberikan dampak apa pun. Ada juga mutasi yang justru membuat virus menjadi lebih lemah sehingga tidak mampu bertahan atau menyebar dengan baik. Namun, sesekali, muncul mutasi yang memberikan keuntungan bagi virus.

2. Mutasi yang menguntungkan bisa menjadi varian baru

Misalnya, suatu perubahan genetik membuat virus lebih mudah menular dari satu orang ke orang lain. Atau, perubahan tersebut membantu virus bertahan lebih lama di dalam tubuh.

Jika varian dengan keunggulan tersebut lebih mudah menyebar, jumlahnya di populasi bisa meningkat. Lama-kelamaan, varian itu menjadi lebih umum dibandingkan versi virus sebelumnya.

Perubahan pada virus terjadi secara acak, kemudian lingkungan dan kondisi di sekitarnya akan menentukan apakah perubahan tersebut membantu virus bertahan atau justru membuatnya tidak mampu berkembang. Proses inilah yang dikenal sebagai seleksi alam.

3. Sistem imun juga mendorong virus untuk beradaptasi

ilustrasi perempuan yang sedang sakit (pexels.com/kaboompics)

Virus juga terus berhadapan dengan sistem kekebalan tubuh manusia. Setelah seseorang terinfeksi atau mendapatkan vaksin, tubuh dapat belajar mengenali bagian tertentu dari virus dan membentuk perlindungan terhadapnya. Namun, jika terjadi cukup banyak perubahan pada bagian permukaan virus yang dikenali oleh antibodi, sistem imun mungkin tidak dapat mengenalinya sebaik sebelumnya.

Kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi virus untuk kembali menginfeksi seseorang atau menyebar di antara orang-orang yang sudah memiliki kekebalan tertentu. Inilah salah satu alasan mengapa beberapa virus, seperti influenza, terus mengalami perubahan dan vaksin perlu diperbarui secara berkala.

4. Varian baru juga bisa muncul dari pertukaran materi genetik

Selain mutasi, ada cara lain virus menghasilkan kombinasi genetik baru, yaitu melalui rekombinasi. Ini dapat terjadi ketika dua virus yang masih berkerabat menginfeksi sel yang sama. Dalam kondisi tertentu, materi genetik dari kedua virus dapat bercampur dan menghasilkan kombinasi baru. Hasilnya bisa berupa virus dengan karakteristik yang berbeda dari kedua virus asalnya.

Meski terdengar seperti proses yang dramatis, tetapi perubahan semacam ini merupakan bagian dari evolusi virus. Virus terus mengalami perubahan karena melakukan replikasi dan beradaptasi dengan lingkungan tempatnya hidup.

5. Tidak semua varian baru lebih berbahaya

Kemunculan varian baru sering membuat orang langsung berpikir bahwa virus tersebut menjadi lebih berbahaya, padahal tidak selalu. Sebuah varian bisa saja lebih mudah menular, tetapi tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah. Varian lainnya mungkin memiliki perubahan genetik, tetapi tidak memberikan keuntungan apa pun sehingga akhirnya menghilang.

Karena itu, para ilmuwan perlu memantau bagaimana suatu varian berperilaku di populasi. Mereka melihat berbagai hal, mulai dari tingkat penularan hingga kemampuan virus menghindari respons sistem imun.

Perubahan virus bukanlah hal aneh. Ini merupakan bagian normal dari biologi virus. Tantangannya adalah memahami perubahan tersebut agar para ilmuwan dan sistem kesehatan dapat mengantisipasi dampaknya terhadap manusia.

Referensi

Health Navigator Charitable Trust. Diakses pada Juli 2026. "How and Why Do Viruses Change Over Time?"

Indiana University Bloomington. Diakses pada Juli 2026. "Viral Variants: What are They, and How Do They Form?"

Karolinska Institutet. Diakses pada Juli 2026. "How Virus Variants Evolve."

Johns Hopkins University. Diakses pada Juli 2026. "How Viruses Mutate and What Can Be Done About It."

Tufts University. Diakses pada Juli 2026. "How Viruses Mutate and Create New Variants."

Curated For You

Editorial Team

Related Article