Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Keracunan Makanan Tanpa Muntah, Apakah Mungkin?
ilustrasi sakit perut akibat keracunan makanan (pexels.com/Sora Shimazaki)
  • Muntah bukan syarat keracunan makanan; diare dan kram perut bisa menjadi gejala utama.

  • Tidak muntah bukan jaminan penyakitnya ringan, karena diare tetap dapat menyebabkan dehidrasi.

  • Penentuan penyebab mempertimbangkan gejala, waktu kemunculan, riwayat makanan, dan pemeriksaan bila diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suatu hari perutmu mulas, lalu bolak-balik ke toilet. Karena tidak mual maupun muntah, kamu mungkin tidak menganggap itu keracunan makanan. Faktanya, muntah bukan gejala wajib keracunan makanan.

Gejala akan bergantung pada penyebabnya. Pada keracunan akibat Clostridium perfringens, sebagai contoh, diare dan kram perut lebih khas, sedangkan muntah dan demam tidak umum terjadi.

1. Mengapa gejala keracunan bisa berbeda-beda?

Penyebab keracunan makanan tidak bekerja dengan cara yang sama. Sebagian menghasilkan racun yang memicu muntah, sementara lainnya terutama menimbulkan gangguan di usus.

Pada C. perfringens, bakteri yang tertelan dapat menghasilkan racun di usus dan menyebabkan diare. Gejalanya biasanya muncul dalam 6–24 jam setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi dan umumnya berlangsung sekitar satu hari. Jadi, kamu bisa mengalami mulas dan diare tanpa muntah selama sakit. Meski begitu, pola gejala ini saja tidak cukup untuk memastikan jenis bakteri penyebabnya.

2. Muntah memang tidak selalu muncul

Sebuah penelitian menganalisis laporan wabah keracunan makanan di Amerika Serikat pada 1998–2008 yang melibatkan Bacillus cereus, C. perfringens, dan Staphylococcus aureus.

Proporsi penderita yang muntah sangat berbeda. Median antarkejadian wabah mencapai 87 persen pada S. aureus, 75 persen pada B. cereus, dan hanya 9 persen pada C. perfringens.

Median merupakan nilai tengah dari proporsi yang dilaporkan pada berbagai wabah, bukan persentase gabungan seluruh pasien. Temuan tersebut menunjukkan bahwa muntah jauh lebih jarang pada keracunan akibat C. perfringens.

3. Makanan terakhir belum tentu penyebabnya

ilustrasi makan bersama (commons.wikimedia.org/Ivuvisual)

Gejala penyakit bawaan makanan dapat muncul dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Karena itu, makanan yang terakhir disantap belum tentu merupakan penyebabnya.

Dokter biasanya menanyakan kapan keluhan dimulai, apa yang dikonsumsi, dan apakah orang lain mengalami gejala serupa. Pemeriksaan fisik membantu menilai kondisi pasien, termasuk tanda dehidrasi.

Tes tinja atau darah dapat diperlukan pada kasus tertentu, tetapi tidak selalu dibutuhkan jika keluhannya ringan dan singkat.

4. Tetap ganti cairan dan perhatikan tanda bahaya

Walaupun tidak muntah, tetapi diare dapat membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit—mineral yang membantu tubuh bekerja normal. Oralit dapat membantu menggantinya.

Saat nafsu makan kembali, makanan sehari-hari umumnya dapat dikonsumsi sesuai toleransi; tidak perlu menunggu diare berhenti sepenuhnya.

Hindari menggunakan obat penghenti diare sendiri jika tinja berdarah atau disertai demam. Pada anak, penggunaan obat tersebut perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter.

Cari pertolongan medis jika muncul:

  • Diare berdarah atau berlangsung lebih dari tiga hari.

  • Demam tinggi, sekitar 39 derajat Celcius atau lebih.

  • Jarang berkemih, mulut kering, atau pusing saat berdiri.

Jangan menunggu sampai muntah untuk memeriksakan diri. Tanda dehidrasi atau keluhan berat sudah cukup menjadi alasan mencari pertolongan. Anak kecil dapat mengalami dehidrasi dengan cepat, sehingga diare pada anak perlu ditangani sejak awal.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention, “Food Poisoning Symptoms,” diakses September 2026.

Julian E. Grass, L. Hannah Gould, dan Barbara E. Mahon, “Epidemiology of Foodborne Disease Outbreaks Caused by Clostridium perfringens, United States, 1998–2010,” Foodborne Pathogens and Disease 10, no. 2 (2013): 131–36, https://doi.org/10.1089/fpd.2012.1316.

Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of C. perfringens Food Poisoning,” diakses September 2026.

Sarah D. Bennett, Kelly A. Walsh, dan L. Hannah Gould, “Foodborne Disease Outbreaks Caused by Bacillus cereus, Clostridium perfringens, and Staphylococcus aureus—United States, 1998–2008,” Clinical Infectious Diseases 57, no. 3 (2013): 425–33, https://doi.org/10.1093/cid/cit244.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Diagnosis of Food Poisoning,” diakses September 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Treatment for Food Poisoning,” diakses September 2026.

Editorial Team

Related Article