Walaupun tidak muntah, tetapi diare dapat membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit—mineral yang membantu tubuh bekerja normal. Oralit dapat membantu menggantinya.
Saat nafsu makan kembali, makanan sehari-hari umumnya dapat dikonsumsi sesuai toleransi; tidak perlu menunggu diare berhenti sepenuhnya.
Hindari menggunakan obat penghenti diare sendiri jika tinja berdarah atau disertai demam. Pada anak, penggunaan obat tersebut perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter.
Cari pertolongan medis jika muncul:
Diare berdarah atau berlangsung lebih dari tiga hari.
Demam tinggi, sekitar 39 derajat Celcius atau lebih.
Jarang berkemih, mulut kering, atau pusing saat berdiri.
Jangan menunggu sampai muntah untuk memeriksakan diri. Tanda dehidrasi atau keluhan berat sudah cukup menjadi alasan mencari pertolongan. Anak kecil dapat mengalami dehidrasi dengan cepat, sehingga diare pada anak perlu ditangani sejak awal.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “Food Poisoning Symptoms,” diakses September 2026.
Julian E. Grass, L. Hannah Gould, dan Barbara E. Mahon, “Epidemiology of Foodborne Disease Outbreaks Caused by Clostridium perfringens, United States, 1998–2010,” Foodborne Pathogens and Disease 10, no. 2 (2013): 131–36, https://doi.org/10.1089/fpd.2012.1316.
Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of C. perfringens Food Poisoning,” diakses September 2026.
Sarah D. Bennett, Kelly A. Walsh, dan L. Hannah Gould, “Foodborne Disease Outbreaks Caused by Bacillus cereus, Clostridium perfringens, and Staphylococcus aureus—United States, 1998–2008,” Clinical Infectious Diseases 57, no. 3 (2013): 425–33, https://doi.org/10.1093/cid/cit244.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Diagnosis of Food Poisoning,” diakses September 2026.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Treatment for Food Poisoning,” diakses September 2026.