Selama 15 tahun menikah, Letisia terbiasa melihat test pack tanpa garis dua. Berkali-kali menjalani program kehamilan, ia dan suaminya akhirnya memilih berhenti berharap. Sekitar satu hingga 1,5 tahun sebelum kehamilan ini terjadi, keduanya bahkan sudah merasa ikhlas jika belum juga dikaruniai anak.
Lalu, pada usia 42 tahun, ketika ia justru mulai mempersiapkan diri menghadapi perimenopause, kejutan muncul dari dua garis di test pack.
“Sudah ikhlas, jadi tidak ada program apa-apa. Tiba-tiba, alhamdulillah, baru ketahuan ternyata sudah positif hamil,” ujarnya.
Ketika mengetahui kehamilannya, usia kandungan sudah sekitar enam minggu. Ia bahkan sempat bingung apakah kehamilan itu bisa disebut direncanakan. Yang jelas, kehadiran calon buah hati tersebut sudah lama dinantikan. Ketika kabar kehamilan disampaikan, orang-orang terdekatnya langsung menangis haru.
Letisia sendiri awalnya bahkan tidak langsung menyadari dirinya sedang hamil. Ia memang mengalami keterlambatan menstruasi. Namun, ia memiliki PCOS dan selama ini siklus menstruasinya relatif teratur. Memasuki usia 40-an, ia justru mengira keterlambatan tersebut merupakan tanda tubuh mulai memasuki perimenopause.
“Saya kira itu karena sudah di usia 42. Jadi saya sudah seikhlas itu, malah sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi perimenopause,” ungkapnya.
Karena itu, ketika menstruasinya terlambat pada Juni, ia tidak terlalu memikirkannya. Ia bahkan berencana menunggu hingga bulan berikutnya. Jika masih belum menstruasi juga, barulah ia akan memeriksakan diri.
Sampai kemudian asam lambungnya kambuh. Ia berkonsultasi dengan dokter umum lewat telemedisin. Saat ditanya mengenai keluhan yang dialami, ia menyebut mual, muntah, pusing, hingga rasa tidak biasa pada mulut.
Dokter kemudian bertanya apakah mulutnya terasa asam atau pahit dan soal tes kehamilan. Letisia saat itu berbohong dengan menjawab sudah melakukan test pack dengqn hasil negatif karena ingin mengakhiri sesi konsultasi.
Namun, pertanyaan tersebut justru membuatnya mulai berpikir. Ada menstruasi yang terlambat. Ada mual dan muntah. Ada rasa logam di mulut. Ada pula perubahan suasana hati yang menurutnya berbeda dari biasanya.
“Biasanya asam lambung ya sudah, kumat saja. Tidak ada hubungannya dengan bad mood. Ini tuh saya merasa berubah kayak bukan diri saya,” kisahnya.
Kehamilan tersebut tentu menjadi kabar yang sangat membahagiakan. Namun, ada kesadaran lain yang muncul setelah dokter melakukan pemeriksaan. Usianya sudah 42 tahun. Selain itu, ia juga obesitas. Dokter menyampaikan bahwa kehamilannya termasuk kehamilan yang membutuhkan perhatian lebih.
“Karena ini termasuk kategori hamil risiko tinggi. Ditambah kondisi saya juga sebenarnya obesitas, jadi agak double ya, double risk,” Letisia bercerita.
Karena kehamilan masih sangat muda ketika pertama kali diperiksa, dokter belum memberikan banyak instruksi khusus. Untuk sementara, ia diminta lebih banyak bersantai dan mengurangi aktivitas fisik berat. Pola makan juga diminta lebih diperhatikan karena kenaikan berat badan selama kehamilan perlu dikontrol.
Ada satu hal menarik dari perjalanan kehamilan tersebut. Sekitar satu tahun sebelum mengetahui dirinya hamil, ia justru mulai lebih serius memperhatikan kesehatan tubuh. Namun, saat itu tujuannya bukan untuk program hamil.
Ia sedang mempersiapkan diri menghadapi perimenopause. Letisia mulai rutin pergi ke gym dan menerapkan mindful eating. Bukan diet ketat, melainkan belajar lebih sadar dalam memilih makanan.
Setiap kali hendak memasak atau membeli makanan, ia memperhatikan komposisinya. Ia pun juga mulai berusaha memperkuat otot. Baginya, memasuki usia 40-an berarti tubuh harus dipersiapkan untuk menghadapi perubahan yang mungkin terjadi.