Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cegah Infeksi Saluran Kemih saat Berpuasa, Jaga Hidrasi Tubuh

Seorang perempuan mengalami gejala infeksi saluran kemih.
ilustrasi infeksi saluran kemih (freepik.com/EyeEm)
Intinya sih...
  • Infeksi saluran kemih (ISK) bisa meningkat selama puasa karena dehidrasi dan perubahan kebiasaan minum.
  • Pencegahan efektif melibatkan hidrasi optimal saat sahur dan berbuka, kebersihan area genital, dan pola buang air kecil yang teratur.
  • ISK yang tidak ditangani bisa berkembang menjadi infeksi yang lebih serius (ginjal).
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Infeksi saluran kemih adalah salah satu kondisi yang umum dialami oleh banyak orang, terutama perempuan. Kondisi ini terjadi ketika bakteri masuk dan berkembang di bagian sistem kemih, menghasilkan gejala yang tidak nyaman seperti nyeri saat berkemih dan sering ingin buang air kecil. Secara biologis, ISK dapat terjadi kapan saja, tetapi perubahan pola hidup saat berpuasa dapat memengaruhi risikonya.

Selama bulan Ramadan, muslim yang berpuasa menahan diri dari makan dan minum dari fajar sampai matahari terbenam. Ini berarti waktu untuk minum air menjadi fokus pada malam hari, dari sahur hingga berbuka. Jika asupan cairan tidak mencukupi, risiko dehidrasi meningkat, yang kemudian bisa memengaruhi frekuensi dan volume urine. Kondisi seperti ini berpotensi menurunkan kemampuan alami tubuh untuk membilas bakteri dari saluran kemih.

Penting untuk memahami bagaimana menjaga kesehatan tubuh, termasuk saluran kemih, tetap optimal selama bulan suci.

1. Apa itu infeksi saluran kemih?

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan ketika bakteri, paling sering Escherichia coli (E. coli) dari usus, masuk ke saluran kemih melalui uretra lalu berkembang biak di kandung kemih atau bagian lain dari sistem kemih. Ini mengakibatkan peradangan dan gejala yang khas.

ISK bisa terjadi di berbagai bagian sistem kemih, dari uretra (saluran yang membawa urine keluar) hingga kandung kemih dan ginjal. Pada kasus ringan, infeksi terbatas pada kandung kemih. Namun jika tidak ditangani, bakteri dapat naik ke ginjal, menyebabkan komplikasi yang lebih serius.

Secara umum, perempuan lebih rentan mengalami ISK dibandingkan laki-laki karena anatomi uretra yang lebih pendek, sehingga bakteri dapat lebih mudah mencapai kandung kemih. Namun, siapa pun dapat mengalaminya, khususnya jika faktor risiko seperti kebersihan yang kurang baik, menahan kencing terlalu lama, atau sistem imun yang lemah hadir.

2. Penyebab

Buka puasa Ramadan.
ilustrasi berbuka puasa Ramadan (pexels.com/Thirdman)

Saat berpuasa, tubuh berada dalam keadaan tidak minum cairan sepanjang hari, yang dalam beberapa jam bisa menyebabkan penurunan hidrasi.

Dehidrasi berpengaruh pada volume urine dan kemampuan tubuh untuk secara efektif membilas bakteri yang masuk ke saluran kemih. Cairan yang cukup membantu mendorong bakteri keluar melalui urine, sehingga berfungsi sebagai salah satu cara pencegahan alami.

Selain itu, beberapa faktor lain bisa memperburuk risiko ISK saat puasa, seperti diabetes yang tidak terkontrol. Pada pasien diabetes, kadar gula darah yang tinggi dapat membuat urine lebih kaya akan nutrisi bagi bakteri, sehingga infeksi lebih mudah berkembang.

Menunda buang air kecil terlalu lama juga menjadi penting saat puasa. Meski urine menahan diri selama jam puasa, tetapi kebiasaan menunda buang air kecil pada malam hari atau waktu berbuka dapat menciptakan kondisi stagnan di kandung kemih, yang juga bisa memperbesar risiko infeksi.

3. Gejala

Gejala ISK khas meliputi rasa nyeri atau terbakar saat berkemih (disuria), sering ingin buang air kecil walau hanya sedikit urine yang keluar, dan urine yang tampak keruh atau berbau kuat.

Beberapa orang juga mungkin merasakan nyeri atau tidak nyaman di perut bagian bawah, pinggang, atau panggul. Demam, mual, dan menggigil dapat muncul jika infeksi sudah lebih luas, seperti ketika bakteri mulai menginfeksi ginjal.

Karena gejala ini dapat mengganggu ibadah dan keseharian, mengenali tanda-tanda awal sangat penting agar dapat segera ditangani atau supaya tidak makin parah.

4. Pengobatan

Ilustrasi obat antibiotik untuk mengobati infeksi saluran kemih.
ilustrasi minum antibiotik (pexels.com/Jonathan Borba)

Penanganan ISK tergantung pada seberapa parah infeksinya. Pada banyak kasus, antibiotik yang diresepkan dokter adalah cara utama untuk membunuh bakteri penyebab infeksi.

Selain antibiotik, minum banyak cairan saat waktu sahur dan berbuka membantu membilas sistem kemih dari bakteri. Ini termasuk air putih dan cairan tanpa kafein serta tanpa gula tinggi.

Selain itu, membersihkan area genital dengan teknik yang benar, terutama setelah buang air kecil atau besar, membantu mengurangi kontaminasi bakteri yang bisa masuk ke uretra.

5. Komplikasi jika ISK tidak ditangani

Jika ISK tidak ditangani dengan tepat, infeksi dapat menyebar ke ginjal, menyebabkan pielonefritis, yaitu infeksi ginjal yang serius yang dapat mengancam fungsi ginjal dan memerlukan perawatan intensif.

Komplikasi lain termasuk pembentukan abses di ginjal, kerusakan jaringan, bahkan sepsis (infeksi sistemik) pada kasus ekstrem, terutama pada individu dengan sistem imun lemah atau penyakit penyerta seperti diabetes.

Pencegahan dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang bisa mengancam kesehatan jangka panjang.

Infeksi saluran kemih adalah kondisi umum yang memiliki dampak besar pada kenyamanan dan kesehatan, terutama saat berpuasa ketika hidrasi harus dijaga dengan tepat.

Puasa tidak secara otomatis menyebabkan ISK, tetapi perubahan pola makan dan minum dapat menjadi faktor risiko jika tidak diatasi dengan pendekatan pencegahan yang benar.

Dengan memperhatikan kebutuhan cairan saat sahur dan berbuka, menjaga kebersihan, dan mengenali gejala secara dini, risiko ISK dapat ditekan secara signifikan. Jika gejala muncul atau memburuk, konsultasi dengan dokter adalah langkah terbaik untuk mencegah komplikasi serius.

Referensi

"Apa itu Infeksi Saluran Kemih?" Kementerian Kesehatan RI. Diakses Februari 2026.

"Ramadan Tips: Fasting and Urinary Tract Infection (UTI)." TBS. Diakses Februari 2026.

Christina Leony Sinaga dan Ivonne Ruth Vitamaya Oishi Situmeang, “Infeksi Saluran Kemih dan Pencegahannya,” Medical Methodist Journal (Medimeth) 2, no. 3 (2024).

Lean K, Nawaz RF, Jawad S, Vincent C. "Reducing urinary tract infections in care homes by improving hydration." BMJ Open Quality. 2019;8:e000563. https://doi.org/10.1136/bmjoq-2018-000563.

"Perawatan Penyakit Infeksi Saluran Kemih." Kementerian Kesehatan RI. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Rifki Wuda
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Mau Coba Time-Restricted Eating? Jangan Makan Terlalu Malam

15 Feb 2026, 19:13 WIBHealth