Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengalami Gempa saat Hamil, Apakah Bisa Memengaruhi Janin?
ilustrasi kehamilan (pexels.com/Matilda Wormwood)
  • Terdampak gempa saat hamil tidak otomatis berarti janin mengalami masalah. Penelitian mengenai dampaknya terhadap kelahiran prematur dan berat lahir rendah hasilnya tidak konsisten.

  • Dampaknya dapat terjadi melalui beberapa aspek, seperti cedera fisik, stres berat, serta terganggunya akses terhadap makanan, air bersih, obat, dan pemeriksaan kehamilan.

  • Ibu hamil yang mengalami benturan atau jatuh, perdarahan vagina, cairan ketuban keluar, kontraksi, nyeri perut, atau gerakan janin berkurang setelah gempa perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gempa berhenti dalam hitungan detik atau menit, tetapi rasa khawatirnya bisa dirasakan lebih lama, terlebih pada ibu hamil. Beberapa ibu khawatir mungkin khawatir apakah guncangan yang baru saja dialami dapat memengaruhi janin.

Mengalami gempa tidak berarti janin pasti terkena dampaknya. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu bencana gempa dapat berkaitan dengan beberapa masalah kehamilan.

Besarnya risiko akan dipengaruhi oleh tingkat paparan, cedera yang dialami ibu, stres, kondisi setelah bencana, dan akses terhadap layanan kesehatan.

1. Risiko bayi lahir prematur

Dalam studi tahun 2024, tim peneliti menggabungkan 13 studi yang mencakup lebih dari 2,6 juta perempuan untuk mengetahui apakah paparan gempa berkaitan dengan masalah pada kehamilan.

Secara keseluruhan, gempa tidak terbukti meningkatkan secara signifikan peluang kelahiran prematur. Hasil gabungan sembilan studi menunjukkan odds ratio (OR) 1,10 dengan interval kepercayaan 95 persen 0,98–1,24. Begitu pula untuk berat lahir rendah, tidak ditemukan peningkatan yang signifikan secara keseluruhan. Kepastian buktinya dinilai rendah.

Namun, ketika peneliti menganalisis populasi Asia secara terpisah, paparan gempa dikaitkan dengan peluang kelahiran prematur 44 persen lebih tinggi. Temuan tersebut tidak terlihat pada populasi non Asia. Menurut para peneliti, karakteristik wilayah dan bencana kemungkinan ikut memengaruhi hasil.

2. Bayi kecil untuk usia kehamilan

Temuan dari tinjauan sistematis dan metaanalisis lain pada 2023 juga serupa, bahwa bukti mengenai kelahiran prematur tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara keseluruhan.

Namun, studi tersebut menemukan kejadian small for gestational age (SGA) sekitar 25 persen lebih tinggi pada kelompok yang terkena dampak gempa. SGA adalah ukuran atau berat bayi lebih kecil daripada yang diharapkan berdasarkan usia kehamilannya.

Ada pula temuan studi individual. Misalnya, penelitian setelah gempa Chile 2010 menemukan paparan gempa berkaitan dengan persalinan yang sedikit lebih awal serta ukuran panjang tubuh dan lingkar kepala bayi yang sedikit lebih kecil.

Sementara itu, penelitian setelah gempa besar Jepang tidak menemukan peningkatan SGA yang signifikan.

3. Bukan hanya guncangan yang menjadi masalah

Pegawai dan wisatawan asing melihat gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). (ANTARA FOTO/Gecio Viana)

Ibu hamil dapat mengalami jatuh atau benturan, kesulitan mendapatkan makanan dan air bersih, kehilangan tempat tinggal, terputus dari obat rutin, serta kesulitan mengakses pemeriksaan kehamilan.

Stres psikologis berat juga diduga berperan. Salah satu mekanisme yang diteliti melibatkan sistem hormon stres ibu dan plasenta, termasuk kortisol dan corticotropin-releasing hormone. Namun, mekanisme ini belum sepenuhnya menjelaskan hubungan antara gempa dan hasil kehamilan.

Karena itu, rasa takut atau stres setelah gempa tidak boleh langsung diartikan bahwa janin sudah mengalami gangguan.

4. Cedera fisik perlu mendapat perhatian khusus

Ibu hamil yang jatuh, tertimpa benda, atau mengalami benturan pada perut harus segera mencari pertolongan medis.

Trauma selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti solusio plasenta, yaitu plasenta terlepas sebagian atau seluruhnya dari dinding rahim sebelum bayi lahir, serta kontraksi dan persalinan prematur.

Pedoman penanganan trauma pada kehamilan memasukkan nyeri perut yang signifikan, perdarahan vagina, kontraksi terus-menerus, pecahnya ketuban, dan abnormalitas detak jantung janin sebagai tanda yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

5. Kapan ibu hamil perlu segera diperiksa?

ilustrasi pemeriksaan kehamilan (IDN Times/NRF)

Setelah gempa atau proses evakuasi, jangan menunda pertolongan medis jika ibu hamil mengalami:

  • Perdarahan dari vagina.

  • Cairan seperti ketuban keluar.

  • Nyeri perut yang kuat atau menetap.

  • Kontraksi atau perut mengencang berulang.

  • Gerakan janin berkurang dari biasanya setelah usia kehamilan ketika gerakannya sudah rutin dirasakan.

  • Pingsan, sesak, nyeri dada, atau cedera serius.

  • Benturan langsung pada perut.

Ibu hamil sangat disarankan untuk tetap melanjutkan pemeriksaan kehamilan sesegera mungkin setelah bencana.

Mengalami gempa saat hamil tidak otomatis berarti janin akan mengalami masalah. Memang ada bukti kelahiran prematur dan berat lahir rendah, tetapi tidak konsisten. Hal yang lebih penting setelah gempa adalah memastikan ibu tidak mengalami cedera, mengenali tanda bahaya kehamilan, serta menjaga akses terhadap pemeriksaan prenatal.

Referensi

Yoshimitsu Wada et al., “Association between Earthquakes and Perinatal Outcomes: A Systematic Review and Meta-analysis,” International Journal of Gynecology & Obstetrics 166, no. 1 (2024): 228–237, https://doi.org/10.1002/ijgo.15369.

Fatih Aktoz, Ali Can Gunes, and Kayhan Yakin, “The Effect of Earthquake Experience on Pregnancy Outcomes: A Systematic Review and Meta-analysis,” European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology 291 (2023): 70–75, https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2023.10.002.

Yasna K. Palmeiro-Silva et al., “Effects of Earthquake on Perinatal Outcomes: A Chilean Register-Based Study,” PLOS ONE 13, no. 2 (2018): e0191340, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0191340.

Venu Jain et al., “Guidelines for the Management of a Pregnant Trauma Patient,” Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada 37, no. 6 (2015): 553–71, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26334607/.

Centers for Disease Control and Prevention, “Safety Messages for Pregnant, Postpartum, and Breastfeeding Women During Natural Disasters and Severe Weather,” diakses Agustus 2026.

World Health Organization, "Minimum Technical Standards and Recommendations for Reproductive, Maternal, Newborn and Child Health Care for Emergency Medical Teams (Geneva: World Health Organization, 2022)", diakses Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article