Penelitian Marrero dan tim dilakukan dalam eksperimen laboratorium. Yang diukur adalah seberapa kuat nyamuk tertarik menuju sumber bau manusia dalam olfactometer, bukan berapa kali peserta benar-benar digigit di lingkungan sehari-hari dan bukan pula apakah mereka kemudian terkena penyakit.
Di dunia nyata, keputusan nyamuk mencari manusia juga dipengaruhi berbagai hal lain, termasuk karbon dioksida dari napas, panas dan kelembapan tubuh, kondisi lingkungan, serta isyarat visual. Karena itu, komposisi bau kulit hanyalah salah satu bagian dari proses pencarian inang.
Temuan bahwa Aedes aegypti sedikit lebih tertarik kepada laki-laki juga tidak berarti semua laki-laki akan lebih sering digigit, apalagi memiliki risiko dengue lebih tinggi. Variasi antarindividu dalam studi tetap besar, dan dua spesies lainnya tidak menunjukkan pola ketertarikan berdasarkan jenis kelamin yang sama.
Studi ini juga belum menghasilkan cara praktis untuk mengubah mikrobioma atau bau kulit agar seseorang menjadi tidak menarik bagi nyamuk. Eksperimen 2024 memang menunjukkan bakteri kulit yang direkayasa secara genetik dapat mengurangi ketertarikan dan aktivitas makan nyamuk pada tikus hingga beberapa hari, tetapi teknologi tersebut belum terbukti sebagai metode perlindungan pada manusia.
Pada akhirnya, studi ini menggarisbawahi bahwa tidak ada satu formula universal yang menjelaskan siapa yang disukai semua nyamuk. Setiap spesies dapat menggunakan kombinasi bau dan mikroorganisme yang berbeda untuk memilih manusia.
Hal itu berpotensi membantu pengembangan perangkap atau repelan yang lebih spesifik terhadap spesies tertentu. Untuk saat ini, perlindungan terhadap gigitan tetap mengandalkan metode yang memang sudah terbukti, bukan mencoba mengubah aroma tubuh.
Referensi
Kaylee M. Marrero et al., “Individual Humans Are More Attractive to Certain Mosquito Species,” iScience 29, no. 8 (2026): 117006, https://doi.org/10.1016/j.isci.2026.117006.
Maria Elena De Obaldia, Takeshi Morita, Laura C. Dedmon, Daniel J. Boehmler, Caroline S. Jiang, Emely V. Zeledon, Justin R. Cross, and Leslie B. Vosshall, “Differential Mosquito Attraction to Humans Is Associated with Skin-Derived Carboxylic Acid Levels,” Cell 185, no. 22 (2022): 4099–4116.e13, https://doi.org/10.1016/j.cell.2022.09.034.
Niels O. Verhulst et al., “Differential Attraction of Malaria Mosquitoes to Volatile Blends Produced by Human Skin Bacteria,” PLoS ONE 5, no. 12 (2010): e15829, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0015829.
Fang Liu et al., “Engineered Skin Microbiome Reduces Mosquito Attraction to Mice,” PNAS Nexus 3, no. 7 (2024): pgae267.