Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nyamuk Mungkin Lebih Tertarik pada 3 Aroma Tubuh Ini
ilustrasi gigitan nyamuk (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)
  • Penelitian baru terhadap 119 orang menemukan tidak ada satu orang yang menjadi “magnet” bagi semua nyamuk. Aedes aegypti, Aedes albopictus, dan Culex quinquefasciatus cenderung tertarik pada orang yang berbeda.

  • Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan senyawa volatil dari kulit dan komposisi mikrobioma kulit, tetapi jenis sinyal yang disukai berbeda menurut spesies nyamuk.

  • Studi dilakukan dalam kondisi laboratorium dan mengukur ketertarikan nyamuk, bukan jumlah gigitan atau risiko seseorang benar-benar tertular penyakit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dua orang bisa duduk berdekatan di tempat bernyamuk, tetapi cuma satu orang yang digigit nyamuk. Kamu pernah mengalaminya?

Kalau pernah, penelitian selama beberapa dekade memang menunjukkan bahwa daya tarik manusia bagi nyamuk berbeda-beda. Namun, studi terbaru dalam jurnal iScience menambahkan satu detail, bahwa orang yang sangat menarik bagi satu spesies nyamuk belum tentu menarik bagi spesies lainnya.

1. Tiga spesies nyamuk vs 119 manusia

Penelitian yang dipimpin oleh Kaylee M. Marrero dari Florida International University melibatkan 119 orang dewasa. Ketertarikan nyamuk diuji menggunakan uniport olfactometer, perangkat laboratorium yang memungkinkan peneliti mengukur respons nyamuk terhadap aroma yang berasal dari manusia.

Tim peneliti juga mengambil sampel bau kulit dan mikrobioma untuk mengetahui senyawa kimia serta bakteri yang mungkin berkaitan dengan daya tarik tersebut.

Ada tiga nyamuk yang diuji:

  • Aedes aegypti, salah satu vektor utama demam ber, Zika, chikungunya, dan demam kuning.

  • Aedes albopictus atau Asian tiger mosquito.

  • Culex quinquefasciatus, yang dapat menjadi vektor sejumlah penyakit termasuk West Nile.

Hasilnya, tidak ada peserta yang menjadi favorit seluruh spesies sekaligus, dan hubungan antara tingkat ketertarikan satu spesies dengan spesies lainnya relatif lemah.

2. Setiap nyamuk membaca aroma alami kulit secara berbeda

Grafis ketertarikan nyamuk terhadap manusia. (Kaylee M. Marrero et al./iScience, 2026 (CC BY 4.0)).

Manusia terus-menerus melepaskan campuran molekul volatil dari kulit. Bau tubuh terbentuk dari sekresi kulit, metabolisme tubuh, lingkungan, serta aktivitas mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit. Para peneliti menyebut ruang aroma manusia dapat terdiri dari lebih dari 1.000 volatile organic compounds (VOC). Nah, tudi baru menemukan setiap spesies membaca campuran tersebut dengan cara berbeda.

Pada Aedes aegypti, orang yang lebih menarik justru cenderung memiliki kadar lebih rendah dari beberapa senyawa yang tampaknya bersifat mengusir, termasuk kelompok cyclic alcohol dan monoterpene. Nyamuk ini juga menunjukkan kecenderungan sedikit lebih tertarik kepada peserta laki-laki daripada perempuan.

Pada Aedes albopictus, ketertarikannya berkaitan dengan keberadaan lebih tinggi keton serta beberapa senyawa volatil yang menyerupai aroma tumbuhan.

Sementara itu Culex quinquefasciatus tampak lebih erat berkaitan dengan komposisi mikrobioma kulit. Beberapa kelompok bakteri berhubungan dengan peningkatan ketertarikan, sementara yang lain berkaitan dengan respons yang lebih rendah.

Temuan seperti ini bukanlah kali pertama. Pada 2022, studi dalam jurnal Cell menemukan orang yang sangat menarik bagi Aedes aegypti menghasilkan kadar asam karboksilat dari kulit yang lebih tinggi, dan perbedaan daya tarik antarindividu tersebut relatif stabil selama beberapa tahun.

Ada pula faktor mikrobioma. Eksperimen sebelumnya menunjukkan bakteri kulit menghasilkan campuran volatil yang berbeda dan sebagian di antaranya lebih menarik bagi nyamuk daripada yang lain.

3. Bukan berarti bisa mengetahui risiko dari bau badan

Penelitian Marrero dan tim dilakukan dalam eksperimen laboratorium. Yang diukur adalah seberapa kuat nyamuk tertarik menuju sumber bau manusia dalam olfactometer, bukan berapa kali peserta benar-benar digigit di lingkungan sehari-hari dan bukan pula apakah mereka kemudian terkena penyakit.

Di dunia nyata, keputusan nyamuk mencari manusia juga dipengaruhi berbagai hal lain, termasuk karbon dioksida dari napas, panas dan kelembapan tubuh, kondisi lingkungan, serta isyarat visual. Karena itu, komposisi bau kulit hanyalah salah satu bagian dari proses pencarian inang.

Temuan bahwa Aedes aegypti sedikit lebih tertarik kepada laki-laki juga tidak berarti semua laki-laki akan lebih sering digigit, apalagi memiliki risiko dengue lebih tinggi. Variasi antarindividu dalam studi tetap besar, dan dua spesies lainnya tidak menunjukkan pola ketertarikan berdasarkan jenis kelamin yang sama.

Studi ini juga belum menghasilkan cara praktis untuk mengubah mikrobioma atau bau kulit agar seseorang menjadi tidak menarik bagi nyamuk. Eksperimen 2024 memang menunjukkan bakteri kulit yang direkayasa secara genetik dapat mengurangi ketertarikan dan aktivitas makan nyamuk pada tikus hingga beberapa hari, tetapi teknologi tersebut belum terbukti sebagai metode perlindungan pada manusia.

Pada akhirnya, studi ini menggarisbawahi bahwa tidak ada satu formula universal yang menjelaskan siapa yang disukai semua nyamuk. Setiap spesies dapat menggunakan kombinasi bau dan mikroorganisme yang berbeda untuk memilih manusia.

Hal itu berpotensi membantu pengembangan perangkap atau repelan yang lebih spesifik terhadap spesies tertentu. Untuk saat ini, perlindungan terhadap gigitan tetap mengandalkan metode yang memang sudah terbukti, bukan mencoba mengubah aroma tubuh.

Referensi

Kaylee M. Marrero et al., “Individual Humans Are More Attractive to Certain Mosquito Species,” iScience 29, no. 8 (2026): 117006, https://doi.org/10.1016/j.isci.2026.117006.

Maria Elena De Obaldia, Takeshi Morita, Laura C. Dedmon, Daniel J. Boehmler, Caroline S. Jiang, Emely V. Zeledon, Justin R. Cross, and Leslie B. Vosshall, “Differential Mosquito Attraction to Humans Is Associated with Skin-Derived Carboxylic Acid Levels,” Cell 185, no. 22 (2022): 4099–4116.e13, https://doi.org/10.1016/j.cell.2022.09.034.

Niels O. Verhulst et al., “Differential Attraction of Malaria Mosquitoes to Volatile Blends Produced by Human Skin Bacteria,” PLoS ONE 5, no. 12 (2010): e15829, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0015829.

Fang Liu et al., “Engineered Skin Microbiome Reduces Mosquito Attraction to Mice,” PNAS Nexus 3, no. 7 (2024): pgae267.

Curated For You

Editorial Team

Related Article