ilustrasi kesibukan di ruang operasi (unsplash.com/Natanael Melchor)
Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita, dr. Alfi Aulia Rahmah, menjelaskan bahwa myelomeningocele merupakan bentuk spina bifida yang paling berat. Tindakan perbaikan sejak masih dalam kandungan diharapkan dapat mengurangi kerusakan saraf lebih lanjut dan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang, termasuk hidrosefalus.
“Pekerjaan ini bukan hanya pekerjaan bedah saraf. Semua memiliki peran yang sangat penting. Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah bagaimana menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan,” jelas dr. Alfi.
Ia menambahkan, keberhasilan tindakan sangat bergantung pada kolaborasi berbagai disiplin, mulai dari dokter bedah saraf, dokter fetomaternal, dokter obstetri dan ginekologi, dokter anestesi, perawat, hingga tenaga penunjang lainnya.
Keberhasilan tindakan tersebut juga didukung oleh kolaborasi dengan Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia. Maternal Fetal Medicine, Dr. Glenn Radford, menyampaikan bahwa kemitraan tersebut dibangun dengan tujuan bersama untuk meningkatkan luaran kesehatan anak dengan spina bifida.
Kolaborasi antara tim Indonesia dan Australia diharapkan terus berlanjut untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam melakukan fetal surgery secara mandiri, dengan tetap menempatkan keselamatan ibu dan bayi sebagai prinsip utama.