Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Opsi Obat Suntik Baru untuk HIV Resistan Obat, Seberapa Efektif?
ilustrasi obat suntik, obat injeksi (IDN Times/NRF)
  • Dalam studi terhadap 46 orang dengan HIV, kombinasi lenacapavir dan cabotegravir membantu seluruh peserta mencapai atau mempertahankan supresi virus.

  • Hasilnya menjanjikan, tetapi berasal dari studi retrospektif di satu klinik dan belum membuktikan kombinasi ini lebih baik daripada terapi lain.

  • Supresi virus bukan kesembuhan. Kombinasi ini belum disetujui sebagai satu regimen terapi HIV dan penggunaannya tetap memerlukan pemantauan dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bagi orang dengan HIV, tantangannya bukan hanya memilih obat yang tepat, tetapi juga menjalani pengobatan secara konsisten dalam jangka panjang. Pengobatan perlu diteruskan agar jumlah virus tetap terkendali. Namun, minum obat setiap hari tidak selalu mudah, dan pada sebagian orang, virus dapat menjadi kurang responsif terhadap obat tertentu.

Itulah kenapa para peneliti tertarik pada kombinasi dua obat kerja panjang, yaitu lenacapavir dan cabotegravir. Dalam sebuah studi di klinik HIV Ward 86, University of California, San Francisco (UCSF), kombinasi ini menunjukkan potensi untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan menjalani terapi harian atau memiliki resistansi terhadap obat tertentu.

Bagaimana kombinasi obat ini bekerja?

Cabotegravir menghambat integrase, enzim yang digunakan HIV untuk menyisipkan materi genetiknya ke dalam DNA sel CD4. Lenacapavir bekerja dengan menargetkan kapsid—selubung protein yang melindungi materi genetik virus—dan mengganggu beberapa tahap siklus hidup HIV. Karena sasarannya berbeda, kombinasi ini diteliti sebagai pilihan bagi pasien yang mungkin tidak cocok dengan sebagian obat lain.

Pada terapi suntik HIV yang telah disetujui di Amerika Serikat (AS), cabotegravir biasanya dipasangkan dengan rilpivirine. Resistansi terhadap rilpivirine dapat membatasi penggunaannya pada sebagian pasien. Kombinasi cabotegravir dan lenacapavir menawarkan pasangan obat dengan sasaran berbeda, tetapi tidak semua peserta studi hanya menerima dua obat tersebut, yang mana 17 dari 46 peserta juga menggunakan rilpivirine dalam regimen mereka.

Temuan studi

ilustrasi virus HIV (unsplash.com/niaid)

Penelitian yang terbit dalam JAMA Network Open ini meninjau catatan medis 46 pasien yang menerima lenacapavir kerja panjang bersama cabotegravir. Sekitar 72 persen memiliki resistansi terhadap obat golongan NNRTI, dan 24 orang memiliki jumlah virus yang masih terdeteksi saat memulai lenacapavir.

Dalam studi tersebut, supresi virus didefinisikan sebagai jumlah HIV di bawah 200 kopi per mililiter darah. Seluruh peserta yang belum mencapai supresi berhasil mencapainya dalam 13 minggu; peserta yang sudah tersupresi mempertahankan kondisinya. Setelah tindak lanjut median 100 minggu, sekitar 23 bulan, seluruh peserta mencapai dan mempertahankan supresi menurut ukuran penelitian.

Reaksi di tempat suntikan tercatat pada 27 peserta, sementara benjolan di area suntikan dilaporkan pada 18 peserta. Temuan ini juga penting untuk dibicarakan saat menimbang manfaat terapi dan pengalaman pasien.

Bukan bukti bahwa HIV sembuh

Penelitian ini berupa tinjauan retrospektif terhadap kelompok kecil di satu klinik, tanpa kelompok pembanding. Klinik tersebut juga memiliki dukungan layanan yang mungkin tidak tersedia di semua tempat. Karena itu, hasilnya belum bisa memastikan bahwa kombinasi ini lebih efektif atau lebih aman daripada regimen lain.

Peneliti menyebut uji klinis lanjutan diperlukan. Kombinasi tersebut juga belum disetujui sebagai satu regimen terapi HIV.

Supresi berarti jumlah virus ditekan hingga rendah, bukan berarti HIV hilang dari tubuh. Terapi antiretroviral tetap harus dijalani sesuai arahan dokter. Obat kerja panjang pun memerlukan jadwal pemberian dan pemantauan yang teratur. Jika dosis suntik terlewat atau pengobatan dihentikan tanpa rencana pengganti dari dokter, virus dapat kembali meningkat dan risiko resistansi bisa bertambah.

Referensi

Nathanael L. Gistand et al., “Long-Acting Lenacapavir and Cabotegravir and Viral Suppression Among People With HIV,” JAMA Network Open 9, no. 10 (2026): e2638182, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.38182.

National Institutes of Health, “Integrase Strand Transfer Inhibitor (INSTI)” and “Capsid Inhibitors,” HIV Clinical Guidelines, diakses 13 Oktober 2026.

University of California, San Francisco, “How a New Long-Acting HIV Drug Combo Tackles Resistance,” diakses 13 Oktober 2026.

National Institutes of Health, “Initiation of Antiretroviral Therapy,” HIV Clinical Guidelines, diakses 13 Oktober 2026.

National Institutes of Health, “Lenacapavir Patient Drug Record,” diakses 13 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article