Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Terapi Mata Juling hingga Kosmetik, Ini Kisah Awal Botox

5 min read
Dari Terapi Mata Juling hingga Kosmetik, Ini Kisah Awal Botox
ilustrasi Botox (magnific.com/magnific)
  • Botox bermula pada 1970-an sebagai terapi strabismus. Alan B. Scott meneliti toksin botulinum tipe A untuk melemahkan otot mata secara terarah sebagai alternatif operasi.

  • FDA pada 1989 menyetujui Oculinum untuk strabismus dan blefarospasme. Setelah diakuisisi Allergan, produk ini mulai memakai nama Botox pada 1992.

  • Pengamatan pasien memicu penggunaan kosmetik, yang disetujui FDA pada 2002 untuk garis kerutan. Botox bekerja sementara mengurangi aktivitas otot.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat Alan B. Scott menyuntikkan toksin botulinum ke otot mata seorang pasien, ia tidak sedang mencari cara menghaluskan kerutan. Yang terjadi, ia ingin membantu pasien yang matanya tertarik ke satu sisi setelah menjalani operasi retina.

Scott, seorang dokter mata di San Francisco, Amerika Serikat, mengenang suntikan pertama itu sebagai momen yang menegangkan. Pasien tersebut dirawat di unit perawatan intensif selama tiga hari sesuai protokol penelitian. Dosis awalnya berhasil mengubah posisi mata, meski efeknya cuma bertahan beberapa minggu.

Sulit membayangkan sekarang, tetapi Botox awalnya tidak dikembangkan untuk tujuan kosmetik. Prosedur ini justru dipelajari sebagai terapi bagi strabismus, gangguan yang membuat kedua mata tidak sejajar dan memandang ke arah yang berbeda, alias mata juling.

  1. Mencari alternatif untuk operasi mata

    Pada tahun 1970-an, Scott dan rekan-rekannya mencari cara untuk melemahkan otot mata secara terarah. Dalam catatan retrospektifnya, Scott menulis bahwa pada masa itu sebagian pasien strabismus masih perlu menjalani operasi ulang. Timnya lalu menguji beberapa zat yang dapat disuntikkan ke otot. Salah satunya adalah toksin botulinum tipe A.

    Langkah awal penelitian dilakukan pada monyet rhesus. Dalam studi yang terbit pada 1973, para peneliti melaporkan bahwa suntikan toksin botulinum dapat melemahkan otot mata yang dituju. Efeknya berlangsung dari beberapa minggu hingga berbulan-bulan, bergantung pada dosis dan kondisi yang diuji.

    Setelah serangkaian pengujian, Scott mulai meneliti penggunaannya pada manusia. Laporan yang terbit pada tahun 1981 mencakup 42 pasien yang menerima 132 suntikan. Para peneliti melaporkan perbaikan pada strabismus horizontal; pada sebagian kasus, efek setelah suntikan terakhir tercatat hingga 411 hari.

  2. Persetujuan pertama bukan untuk prosedur kosmetik

    Pada akhir 1989, sebuah tonggak penting tercapai. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui penggunaan toksin botulinum tipe A dengan nama Oculinum untuk mengatasi strabismus dan blefarospasme terkait distonia pada pasien berusia 12 tahun ke atas. Blefarospasme sendiri adalah kondisi yang menyebabkan kelopak mata berkedip atau menutup tanpa kendali.

    Persetujuan ini mengubah cara pandang terhadap toksin botulinum. Zat yang selama ini dikenal sebagai neurotoksin mulai digunakan sebagai obat dengan dosis yang terukur dan sasaran yang spesifik.

    Beberapa tahun kemudian, perjalanan tersebut memasuki babak baru. Pada tahun 1991, Allergan mengakuisisi Oculinum, dan sejak 1992 nama yang kini dikenal luas, Botox, mulai digunakan.

  3. Dari pengobatan mata ke garis kerutan

    Ilustrasi prosedur suntik Botox untuk perawatan estetika pada area wajah yang dilakukan oleh tenaga profesional.
    ilustrasi suntik Botox (pexels.com/cottonbro studio)

    Peralihan menuju penggunaan kosmetik berawal dari pengamatan pasien. Jean Carruthers, dokter mata yang menangani pasien dengan kejang kelopak mata, mendengar seorang pasien mengatakan bahwa garis kerutan di antara alisnya memudar setelah area tersebut disuntik. Jean lalu membicarakan pengamatan itu dengan suaminya, Alastair Carruthers, seorang dokter kulit.

    Pada tahun 1992, pasangan Carruthers menerbitkan laporan awal tentang penggunaan toksin botulinum A untuk garis kerutan di antara alis. Mereka menangani 18 pasien. Dari 17 pasien yang menjalani pemantauan, 16 menunjukkan perbaikan yang berlangsung antara 3–11 bulan. Laporan ini membantu membuka jalan bagi penelitian kosmetik yang lebih luas.

    Baru pada tahun 2002 FDA menyetujui Botox Cosmetic untuk perbaikan sementara tampilan garis kerutan sedang hingga berat di antara alis pada orang dewasa.

  4. Bagaimana Botox bekerja dan penggunaannya kini

    Botox adalah nama merek untuk onabotulinumtoxinA. Zat ini menghambat pelepasan asetilkolin, yaitu pembawa pesan kimia yang membantu saraf memberi sinyal agar otot berkontraksi. Akibatnya, aktivitas otot di area suntikan berkurang untuk sementara. Koneksi antara saraf dan otot dapat pulih secara bertahap, sehingga efeknya tidak permanen.

    Di AS, penggunaan onabotulinumtoxinA kini juga mencakup beberapa kondisi medis, seperti migrain kronis, spastisitas, distonia servikal, keringat berlebih di ketiak, dan kandung kemih terlalu aktif.

    Persetujuan penggunaan dapat berbeda menurut produk dan negara.

    Meski digunakan dalam pengobatan dan prosedur kosmetik, tetapi Botox tetap memiliki risiko. Label FDA memuat peringatan tentang kemungkinan efek toksin menyebar dari area suntikan. Gejalanya dapat mencakup kelemahan otot, kesulitan menelan, atau gangguan pernapasan.

    Perjalanan Botox berawal dari upaya mencari cara untuk memperbaiki posisi mata tanpa operasi. Namun, pengamatan terhadap pasien membawa penelitian ke arah yang tak terduga. Kini, obat yang sama dikenal luas bukan hanya sebagai terapi untuk beberapa kondisi medis, tetapi juga sebagai salah satu prosedur kosmetik yang paling populer.

    Referensi

    Alan B. Scott, Dennis Honeychurch, dan Mitchell F. Brin, “Early Development History of Botox (OnabotulinumtoxinA),” Medicine 102, suppl. 1 (2023): e32371, https://doi.org/10.1097/MD.0000000000032371. Artikel ini memuat kenangan retrospektif Scott dan rekan-rekannya; penulis menyatakan bantuan editorial didanai AbbVie, dan salah satu penulis berafiliasi dengan perusahaan tersebut. Kronologi utama juga dirujuk silang dengan studi primer dan catatan FDA.

    American Academy of Ophthalmology, “What Is Strabismus?,” diakses 12 Oktober 2026, https://store.aao.org/media/resources/051226/051226-strabismus.pdf.

    Alan B. Scott, Arthur Rosenbaum, dan Carter C. Collins, “Pharmacologic Weakening of Extraocular Muscles,” Investigative Ophthalmology 12, no. 12 (1973): 924–27, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/4203467/.

    Alan B. Scott, “Botulinum Toxin Injection of Eye Muscles to Correct Strabismus,” Transactions of the American Ophthalmological Society 79 (1981): 734–70, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1312202/.

    U.S. Food and Drug Administration, “Search Orphan Drug Designations and Approvals: Botulinum Toxin Type A,” diakses 12 Oktober 2026, https://www.accessdata.fda.gov/scripts/opdlisting/oopd/detailedIndex.cfm?cfgridkey=483.

    R. Wallersteiner, “Alastair Carruthers: Dermatologist Who Pioneered Cosmetic Use of Botox in Partnership with Ophthalmologist Wife Jean,” BMJ 387 (2024): q2532, https://doi.org/10.1136/bmj.q2532.

    Jean D. A. Carruthers dan J. Alastair Carruthers, “Treatment of Glabellar Frown Lines with C. Botulinum-A Exotoxin,” Journal of Dermatologic Surgery and Oncology 18, no. 1 (1992): 17–21, https://doi.org/10.1111/j.1524-4725.1992.tb03295.x.

    U.S. Food and Drug Administration, “Botulinum Toxin Type A, BOTOX COSMETIC: Product Approval Information—Licensing Action,” 12 April 2002, https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/appletter/2002/botuall041202L.htm.

    U.S. National Library of Medicine, “BOTOX (OnabotulinumtoxinA) Injection: Prescribing Information,” DailyMed, diakses 12 Oktober 2026, https://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/drugInfo.cfm?setid=33d066a9-34ff-4a1a-b38b-d10983df3300.

    U.S. National Library of Medicine, “BOTOX (OnabotulinumtoxinA) Injection: Boxed Warning and Medication Guide,” DailyMed, https://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/lookup.cfm?setid=33d066a9-34ff-4a1a-b38b-d10983df3300.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More