- Terengah-engah atau tidak mampu berbicara dalam kalimat lengkap.
- Mengalami sesak yang cepat memburuk.
- Merasakan nyeri atau tekanan berat di dada.
- Tampak sangat lemas, mengantuk, bingung, atau pingsan.
- Bibir, lidah, atau kulit yang tampak kebiruan atau keabu-abuan.
7 Tips Mencegah Gangguan Pernapasan akibat Abu Vulkanik

Cara utama mencegah sesak adalah mengurangi paparan: berlindung di dalam ruangan, menutup jalur masuk abu, dan membatasi aktivitas fisik.
Respirator N95 yang terpasang rapat lebih efektif daripada masker bedah atau kain, tetapi tidak dapat menyaring gas vulkanik.
Penderita asma dan penyakit paru perlu mengikuti rencana pengobatan serta mengetahui tanda sesak yang membutuhkan pertolongan medis.
Pagi setelah hujan abu, udara mungkin terlihat lebih jernih. Namun, lapisan abu yang menutupi jalan dan halaman dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin, terlindas kendaraan, atau tersapu.
Sebagian partikel cukup kecil untuk masuk jauh ke saluran napas. Paparannya dapat menyebabkan batuk, tenggorokan perih, dada terasa sesak, mengi, dan kesulitan bernapas. Orang dengan asma, bayi dan anak-anak, serta penderita penyakit paru atau jantung lebih mudah mengalami keluhan.
Tidak ada cara yang menjamin sesak tidak akan terjadi. Namun, jumlah abu yang terhirup dapat dikurangi melalui langkah-langkah berikut.
Table of Content
1. Masuk ke dalam ruangan sebelum keluhan muncul
Jangan menunggu sampai batuk atau dada terasa berat. Ketika abu mulai turun, segera masuk ke bangunan yang tidak berdebu. Tutup pintu, jendela, dan celah besar menggunakan selotip, plastik, atau gulungan handuk.
Matikan kipas dan sistem pendingin yang menarik udara dari luar. Pilih satu ruangan dengan pintu serta jendela paling sedikit sebagai ruang berlindung. Hindari merokok, membakar sampah, atau melakukan kegiatan lain yang menambah polusi udara di dalam rumah.
2. Kurangi aktivitas fisik
Berlari, bersepeda, mengangkat beban, dan pekerjaan berat membuat seseorang bernapas lebih cepat dan dalam. Akibatnya, lebih banyak partikel abu dapat masuk ke saluran napas.
Tunda olahraga luar ruangan dan batasi kegiatan yang menguras tenaga sampai kondisi udara membaik. Anak-anak sebaiknya tetap berada di dalam dan tidak bermain di halaman yang berabu. Bayi tidak boleh dibawa keluar hanya dengan mengandalkan penutup wajah karena respirator dewasa tidak dirancang untuk wajah mereka.
3. Gunakan N95 yang ukurannya pas di wajah

ilustrasi masker N95 (pexels.com/CDC) Kalau harus keluar atau membersihkan abu, gunakan respirator N95 atau standar setara, seperti KN95, KF94, P2, atau FFP2 dengan sertifikasi resmi. Pastikan masker menutup hidung hingga bawah dagu dan tidak menyisakan celah di bagian tepi.
Penelitian laboratorium terhadap 17 jenis pelindung pernapasan menemukan bahwa bahan respirator setara N95 mampu menyaring lebih dari 98 persen partikel abu. Bahan kain yang diuji tidak ada yang menyaring lebih dari 44 persen.
Kemampuan bahan bukan satu-satunya penentu. Dalam simulasi pembersihan abu yang melibatkan 10 peserta, respirator setara N95 menghasilkan rata-rata kebocoran partikel ke dalam masker sekitar 9 persen. Masker bedah standar dan masker lipat sederhana menghasilkan kebocoran sekitar 35 persen karena perlindungannya turut dipengaruhi oleh kerapatan pada wajah.
Kumis atau janggut dapat membentuk celah pada tepi respirator. Jika masker terasa sangat menghambat napas—terutama pada orang dengan penyakit paru atau jantung—hentikan aktivitas dan segera pindah ke tempat yang udaranya lebih bersih.
4. Jangan mengandalkan N95 untuk menghadapi gas vulkanik
N95 menyaring partikel, bukan gas seperti sulfur dioksida. Sebagian gas vulkanik juga tidak berwarna atau tidak berbau sehingga sulit dikenali tanpa alat pemantau.
Jika mata dan tenggorokan terasa sangat perih, muncul sakit kepala, pusing, mual, atau napas menjadi sulit meskipun sudah memakai N95, segera menjauh dari area tersebut dan ikuti arahan evakuasi.
Gejala yang tidak membaik setelah berpindah ke udara bersih perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan.
5. Cegah abu kembali beterbangan
Jangan menyapu abu dalam keadaan kering serta hindari penggunaan kipas, leaf blower, atau udara bertekanan. Cara tersebut dapat mengangkat partikel halus kembali ke udara.
Setelah hujan abu berhenti dan kondisi dinyatakan aman, lembapkan endapan menggunakan sedikit air sebelum memindahkannya dengan sekop.
Gunakan kain atau pel lembap untuk membersihkan permukaan rumah.
Penyedot debu hanya dianjurkan jika memiliki penyaring HEPA yang dapat menahan partikel halus.
Batasi berkendara karena roda kendaraan dapat menerbangkan abu yang telah mengendap.
Abu juga sebaiknya tidak disiram ke selokan karena dapat menyumbat saluran air.
6. Siapkan obat sebelum paparan terjadi

ilustrasi kotak P3K (magnific.com/8photo) Penderita asma perlu tetap menggunakan obat pengontrol dan obat pelega sesuai rencana penanganan dari dokter. Simpan inhaler di tempat yang mudah dijangkau dan bawa obat ketika harus meninggalkan rumah. Jangan menambah dosis atau menggunakan obat milik orang lain tanpa arahan dokter.
Sebuah studi terhadap 236 orang dewasa dengan asma setelah erupsi Gunung Asama di Jepang menemukan bahwa 42,9 persen pasien di daerah dengan endapan abu lebih dari 100 gram per meter persegi mengalami perburukan asma. Mengi, batuk, dan dada sesak lebih sering muncul, sementara kebutuhan pengobatan meningkat.
Studi tersebut tidak membuktikan bahwa semua penderita asma akan mengalami serangan, melainkan memperkuat pentingnya menghindari paparan sebelum gejala memburuk.
7. Kenali batas antara iritasi dan keadaan darurat
Batuk ringan atau tenggorokan perih dapat membaik setelah seseorang berpindah ke ruangan yang udaranya bersih. Hentikan aktivitas dan hubungi tenaga kesehatan jika batuk, mengi, atau sesak tidak membaik, terlebih jika obat pelega asma tidak membantu.
Segera cari pertolongan darurat apabila:
Tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan bahwa tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen.
Menjaga jarak dari sumber abu tetap menjadi perlindungan terpenting. Pantau informasi terkini mengenai sebaran abu dan keamanan beraktivitas dari sumber resmi karena arah angin dan kondisi erupsi dapat berubah.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “Health Effects of Volcanic Air Pollution,” diakses September 2026.
International Volcanic Health Hazard Network, “Protection from Breathing Ash,” diakses September 2026.
William Mueller et al., “The Effectiveness of Respiratory Protection Worn by Communities to Protect from Volcanic Ash Inhalation. Part I: Filtration Efficiency Tests,” International Journal of Hygiene and Environmental Health 221, no. 6 (2018): 967–76, https://doi.org/10.1016/j.ijheh.2018.03.012.
Susanne Steinle et al., “The Effectiveness of Respiratory Protection Worn by Communities to Protect from Volcanic Ash Inhalation. Part II: Total Inward Leakage Tests,” International Journal of Hygiene and Environmental Health 221, no. 6 (2018): 977–84, https://doi.org/10.1016/j.ijheh.2018.03.011.
International Volcanic Health Hazard Network, “Preparedness for Ashfall,” diakses September 2026.
Y. Shimizu et al., “Acute Impact of Volcanic Ash on Asthma Symptoms and Treatment,” International Journal of Immunopathology and Pharmacology 20, suppl. 2 (2007): 9–14, https://doi.org/10.1177/03946320070200S203.
MedlinePlus, “Breathing Difficulties—First Aid,” diakses September 2026.













![[QUIZ] Berdasarkan Tujuan Kamu, Ini Jenis Diet yang Paling Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)




