Annisa Rahma and Majella E. Lane, “Skin Barrier Function in Infants: Update and Outlook,” Pharmaceutics 14, no. 2 (2022): 433.
World Health Organization, “Caring for a Newborn,” updated September 30, 2022, diakses September 2026.
American Academy of Dermatology Association, “How to Care for Your Baby’s Skin, Hair, and Nails,” diakses September 2026.
Maeve M. Kelleher et al., “Skin Care Interventions in Infants for Preventing Eczema and Food Allergy,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 11 (2022): CD013534.
Alison Cooke et al., “Olive Oil, Sunflower Oil or No Oil for Baby Dry Skin or Massage: A Pilot, Assessor-Blinded, Randomized Controlled Trial,” Acta Dermato-Venereologica 96, no. 3 (2016): 323–30.
Sameer Shivaji Pupala et al., “Topical Application of Coconut Oil to the Skin of Preterm Infants: A Systematic Review,” European Journal of Pediatrics 178, no. 9 (2019): 1317–24.
Toni Anne Lisante, Chris Nuñez, and Paul Zhang, “Efficacy and Safety of an Over-the-Counter 1% Colloidal Oatmeal Cream in the Management of Mild to Moderate Atopic Dermatitis in Children,” Journal of Dermatological Treatment 28, no. 7 (2017): 659–67.
Allison Sindle and Kari Martin, “Art of Prevention: Essential Oils—Natural Products Not Necessarily Safe,” International Journal of Women’s Dermatology 7, no. 3 (2021): 304–8.
American Academy of Dermatology Association, “How to Treat Diaper Rash,” diakses September 2026.
Cara Merawat Kulit Bayi dengan Bahan Alami yang Aman

Air hangat, mandi secukupnya, serta perlindungan dari lembap dan matahari menjadi dasar perawatan kulit bayi.
Label “alami” tidak menjamin suatu bahan aman. Minyak zaitun dan minyak esensial dapat mengganggu atau mengiritasi kulit.
Manfaat minyak kelapa terutama diteliti pada bayi prematur dalam perawatan klinis, sehingga tidak otomatis berlaku untuk semua bayi.
Pada minggu-minggu pertama kehidupannya, kulit bayi dapat terlihat kering, mengelupas, atau kemerahan. Melihat perubahan tersebut, orang tua mungkin terdorong mengoleskan minyak atau ramuan yang selama ini dianggap lembut.
Padahal, lapisan pelindung kulit bayi masih berkembang. Sebuah tinjauan ilmiah menyebutkan bahwa sifat perlindungan kulit baru semakin menyerupai kulit orang dewasa sekitar usia dua tahun.¹ Karena itu, bahan yang terasa nyaman pada kulit orang dewasa belum tentu sesuai untuk bayi.
Table of Content
Mulai dengan air, bukan banyak ramuan
Pada bayi baru lahir, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar mandi pertama ditunda setidaknya 24 jam. Tali pusat perlu dijaga tetap kering dan tidak diolesi minyak, salep, atau bahan lainnya.
Setelah pulang ke rumah, bayi tidak harus dimandikan setiap hari. American Academy of Dermatology menyarankan mandi lembut 2–3 kali seminggu menggunakan air suam-suam kuku.
Sabun bayi tanpa pewangi cukup digunakan pada bagian yang kotor, seperti lipatan leher dan area popok, kemudian dibilas sampai bersih.
Setelah mandi, kulit cukup ditepuk perlahan menggunakan handuk lembut. Menggosok kulit dapat memperparah iritasi.
Pelembap digunakan ketika kulit membutuhkannya
Jika kulit tampak kering, pelembap tanpa pewangi dapat dioleskan setelah mandi. Produk berbentuk krim atau salep umumnya bertahan lebih lama pada kulit dibanding losion yang encer. Produk dengan sedikit bahan juga memudahkan orang tua mengenali pemicu bila muncul reaksi.
Namun, mengoleskan pelembap ke seluruh tubuh bayi sehat setiap hari belum terbukti dapat mencegah eksim. Tinjauan terhadap 33 penelitian menemukan bahwa perawatan semacam ini kemungkinan tidak menurunkan risiko eksim dan justru kemungkinan sedikit meningkatkan kejadian infeksi kulit.
Temuan tersebut membahas pencegahan pada bayi sehat, bukan penggunaan pelembap untuk mengobati eksim yang sudah muncul.
Minyak zaitun belum terbukti aman untuk pemakaian rutin

ilustrasi ibu dan bayi (unsplash.com/mama_casual) Minyak zaitun kerap dipilih karena tersedia di rumah dan dianggap alami. Namun, penelitian percontohan terhadap 115 bayi cukup bulan memberikan alasan untuk berhati-hati.
Dalam penelitian tersebut, penggunaan minyak zaitun atau minyak bunga matahari dua kali sehari selama empat minggu memang meningkatkan kelembapan. Akan tetapi, perkembangan struktur lapisan lemak pelindung kulit tidak sebaik pada kelompok yang tidak diberi minyak.
Penelitian itu belum cukup besar untuk menilai dampak klinis jangka panjang, tetapi hasilnya tidak mendukung penggunaan kedua minyak tersebut secara rutin pada bayi baru lahir.
Bagaimana dengan minyak kelapa?
Bukti mengenai minyak kelapa terlihat lebih menjanjikan, tetapi sebagian besar berasal dari bayi prematur.
Tinjauan sistematis terhadap 7 uji klinis yang mencakup 727 bayi menemukan bahwa minyak kelapa mungkin membantu mengurangi kehilangan air, memperbaiki kondisi kulit, dan menurunkan infeksi tertentu. Kualitas buktinya dinilai rendah hingga sedang, dan mayoritas peserta merupakan bayi prematur yang relatif lebih matang.
Hasil tersebut tidak dapat langsung diterapkan pada bayi cukup bulan di rumah. Bayi prematur juga memiliki kondisi kulit dan kebutuhan medis yang berbeda, sehingga penggunaan minyak sebaiknya mengikuti arahan tim neonatal atau dokter anak.
Oatmeal koloid berbeda dari oatmeal dapur
Oatmeal koloid adalah oat yang digiling sangat halus dan dimasukkan ke dalam produk dengan konsentrasi terukur. Dalam penelitian terhadap 90 anak berusia 6 bulan sampai 18 tahun dengan dermatitis atopik ringan hingga sedang, krim dengan oatmeal koloid 1 persen memberikan perbaikan yang sebanding dengan krim pelindung kulit pembanding selama tiga minggu.
Namun, rata-rata usia peserta penelitian tersebut sekitar 8 tahun dan para penelitinya berafiliasi dengan produsen produk. Temuannya tidak membuktikan bahwa bubur atau serbuk oatmeal buatan sendiri aman untuk kulit bayi, terutama bayi di bawah enam bulan. Dugaan eksim tetap perlu diperiksa agar bayi mendapatkan penanganan yang sesuai.
Hindari minyak esensial dan campuran berpewangi

ilustrasi ibu menggunakan produk perawatan kulit bayi (magnific.com/magnific) Minyak lavender, tea tree, peppermint, dan minyak esensial lainnya berasal dari tumbuhan, tetapi mengandung banyak senyawa aktif. Tinjauan dalam International Journal of Women’s Dermatology menunjukkan bahwa minyak esensial dapat memicu dermatitis kontak alergi. Komposisinya juga dapat berubah akibat penyimpanan, oksidasi, atau proses produksi.
Karena itu, minyak esensial murni maupun campuran minyak berpewangi tidak perlu dioleskan pada kulit bayi. Kulit yang sedang merah, terluka, atau mengalami eksim lebih mudah bereaksi terhadap bahan tambahan.
Air dan udara juga membantu area popok
Popok yang basah atau kotor perlu segera diganti. Bersihkan kulit secara lembut, keringkan lipatan, lalu biarkan terkena udara beberapa saat sebelum memasang popok baru.
Jika ruam muncul, krim pelindung berbahan seng oksida dapat digunakan meskipun bukan bahan nabati. Tujuannya adalah mengurangi kontak kulit dengan urine dan feses.
Perlindungan alami dari sinar matahari dilakukan dengan mencari tempat teduh serta mengenakan pakaian ringan yang menutup kulit. Pada bayi di bawah 6 bulan, penggunaan tabir surya sebaiknya diminimalkan. Jika pakaian dan tempat teduh tidak memadai, sedikit tabir surya mineral dengan SPF minimal 30 dapat digunakan pada bagian yang terbuka.
Kapan perlu diperiksa?
Hentikan bahan atau produk baru apabila muncul kemerahan, bengkak, lepuh, atau rasa tidak nyaman. Pemeriksaan medis diperlukan jika ruam makin luas, terasa sangat nyeri, bernanah, melepuh, disertai demam, atau tidak membaik setelah 2–3 hari perawatan sederhana.
Merawat kulit bayi dengan cara alami bukan berarti mengoleskan sebanyak mungkin bahan dari tumbuhan. Air hangat, kebersihan yang lembut, popok yang segera diganti, serta perlindungan dari matahari sudah menjadi bagian terpenting. Jika kulit memerlukan perawatan tambahan, pilihan bahan perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi kulit bayi.
Referensi


















![[QUIZ] Berdasarkan Tujuan Kamu, Ini Jenis Diet yang Paling Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)


